11

57 5 2
                                        

"Apa?!"

Reaksi yang Lila dapatkan dari Jeno, Jaemin, maupun Renjun membuat Lila langsung menutup telinganya. Suara mereka benar-benar mengalihkan setiap pasang mata yang ada di lapangan basket.

Lila menepuk pelan pundak mereka satu persatu, menyuruh untuk tidak terlalu berisik.

"Jadi, maksudmu, Dejun itu sepupu Hendery? Hei, kau dalam masalah," Jaemin menunjuk Lila.

"Aku? Kenapa aku?"

"Pikirlah, kau sudah dianggap milik Dejun oleh anak-anak, dan sekarang, pacarmu yang sesungguhnya datang,"

"Milik Dejun? Sudah kubilang aku hanya temannya!"Lila mendengus kesal mendengar ucapan temannya.

"Status teman itu ada di satu tingkat lebih tinggi dari kita semua,"

Renjun menambahi. Memang benar ucapannya. Selama ini, Dejun jarang berbicara dengan teman-teman di sekolahnya, apalagi mengajak berbicara. Tapi kepada Lila, laki-laki dingin itu terlihat berbeda, bahkan sorot matanya sekalipun.

Lila yang mendengar tidak merospon apapun, dia memilih untuk mengabaikan ucapan teman-temannya dan menyeruput susu pisangnya. Pandangannya fokus ke lapangan, melihat beberapa siswa laki-laki yang sedang bermain bola basket.

Oh tunggu!

Lila tidak salah lihat, kan? Salah satu dari mereka adalah orang yang baru saja dia bicarakan.

"Dejun-

-dia anak basket?"Lila berucap.

"Iya, sejak kelas satu. Dejun itu sebenarnya suka berorganisasi, dia saja yang susah untuk berbaur dan juga didekati,"ucap Jeno.

"Hendery!"

Ucapan Jeno dipotong oleh Jaemin begitu saja. Mata mereka mengekor, melihat ke arah laki-laki yang sedang tersenyum berjalan ke arah mereka.

"Hei, dari mana saja? Aku pikir kau akan keluar bersama Jeno karena dia satu kelas denganmu,"lanjut Jaemin.

"Wali kelas ingin aku mengisi data pribadi, jadi aku datang ke kantor,"

Renjun dan Jaemin mengangguk paham.

Hendery melihat kearah Lila, "Lila, kau mau lagi?"

Suara Hendery terdengar, namun si lawan bicara tidak menoleh, sibuk dengan objek pandangan di seberang sana.

Renjun menyenggol pelan lengan Lila, membuat Lila langsung menoleh, dan mendapati Hendery sedang mengulurkan tangan dengan susu pisang.

"A-apa?"ucap Lila tergagap.

"Pacarmu ada di sini, bukan di sana,"sahut Jaemin.

"Jaemin,"peringat Renjun.

Hendery tersenyum dan kemudian tertawa kecil, "Hei, tidak apa-apa. Dejun tampan, siapapun akan menyukainya,"ujarnya kemudian.

"Iya, benar. Tapi sifat dinginnya membuat siapapun mundur,"Jeno akhirnya berbicara.

"Ah, Dejun memang seperti itu, tapi jika kalian kenal lebih jauh, dia laki-laki yang hangat,"

"Benar,"

Sahutan Lila barusan membuat Jeno, Renjun, dan Jaemin mengalihkan pandangannya seketika. Mata mereka bertiga terlihat meneliti, berusaha untuk mencari tahu apa yang salah dengan Lila.

"Kau baru mengenalinya. Bahkan aku yang satu kelas dengannya selama dua tahun meragukan ucapan Hendery,"

"Hei, kau tidak tahu jika dia itu-"

imperfection ; ft. nct Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang