Dejun melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil beberapa buah. Hari ini adalah hari Jumat, sekolahnya dimulai di jam delapan, jadi dia bisa sedikit bersantai setelah kembali dari rumah sakit pagi tadi.
Udara musim dingin menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Dejun yang tidak pulang di rumah selama dua malam untuk menemani Dena, akhirnya memutuskan untuk kembali. Mengambil beberapa baju hangat untuknya.
Tentang seragam ataupun buku. Dejun tidak memusingkan hal itu, dia bisa menyuruh asisten pribadi Ayahnya untuk mengantarkannya.
Perlu Dejun akui, Dejun memang tidak ingin berurusan dengan siapapun itu yang terlibat dengan Ayahnya. Tapi tidak jika dia sedang berada di keadaan terdesak. Jadi, kemarin karena Dejun masih tidak ingin bertemu dengan Ayahnya, dia meminta asisten pribadi sang Ayah untuk membawakan keperluannya. Terdengar kekanakan memang, tapi itu yang diinginkan dan dirasakan putra tunggal Lee Jungsoo.
Dejun menggigit apel yang ada di tangannya, sementara tangan satunya sibuk dengan ponselnya. Gerakan tangannya terhenti ketika melihat nama "Lila" di daftar nomor ponselnya.
Dejun terdiam, ini sudah hampir empat hari, dan nomor itu tidak dia apa-apakan, seperti mengirim pesan atau telepon. Setelah meminta nomor malam itu, Dejun langsung membantu Dena yang akan tidur, jadi dia melupakan hal itu. Tapi Dejun pikir, itu bukan urusannya. Maksudnya, di sini yang meminta nomor ponsel Lila adalah Dena, bukan dirinya. Jadi yah, Dejun tidak harus sekhawatir itu untuk tidak mengabari atau sekedar mengirim pesan singkat.
Drttt~
Ponsel Dejun bergetar, Dejun langsung membuka aplikasi chat-nya.
Ah, rapat lagi?
Dejun hanya membuka group chat itu dan langsung menutupnya kembali. Dia tahu apa yang terjadi jika dia kembali berkomentar tentang bolosnya lagi rapat malam nanti. Ketua OSIS itu pasti akan senang hati memarahinya, atau mungkin tidak karena sudah terlalu lelah.
"Bagaimana kabar Bundamu?"
Dejun menatap malas ketika Ayahnya datang mengambil air putih dan meminumnya.
"Mengapa Ayah tidak datang saja? Aku pikir waktu Ayah tidak sepadat itu untuk berkunjung"jawab Dejun.
"Ayah selalu pulang malam, Bundamu juga harus istirahat"
"Ayah salah. Bunda selalu tidur setelah jam sepuluh malam, Bunda menunggu Ayah."Dejun membuang sisa apel di tempat sampah, dia sudah tak mempunyai nafsu makan lagi. "Ayah boleh membenciku, tapi tolong jangan membenci Bunda"ucapnya kemudian.
"Ayah tidak membenci Bundamu"
Dejun terdiam, perasaannya bercampur, antara senang karena Jungsoo tidak membenci Dena dan kecewa karena memang Jungsoo tidak menyayanginya. Ah, Dejun hampir lupa, bukan membenci bukan berarti menyayangi, kan? Dejun langsung membuang semua perasaan senang itu. Tersenyum tipis dan pergi ke kamar meninggalkan sang Ayah yang masih melihat punggung sang putra sampai masuk ke dalam kamar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.