Teori Konspirasi [EveSou]

599 60 33
                                    

Eve & Sou

brother!AU, comedy

pg-13

Sou selalu merasa ada yang salah dengan mesin cuci di rumahnya.

Mistis. Supranatural. Tidak alamiah.

Karena Sou sendiri kurang menyukai gagasan menakutkan soal makhluk astral (yang barangkali mendiami sudut kamar tidurnya, atau melayang-layang di sepanjang koridor depan pintu masuk), ia mencoba mencari teori lain yang jauh lebih ilmiah. Menurutnya, pasti ada alasan rasional di balik hal-hal aneh yang merisaukannya soal mesin cuci itu, bukan? Tak jarang Sou mengetik sumber permasalahannya di kolom pencarian internet, mendapati banyak sekali kasus serupa namun tak ada jawaban yang cukup memuaskan.

Hingga suatu hari, pencariannya menghantarkan jalan menuju sebuah video YouTube. Dan Sou tak pernah merasa sedemikian bersyukur bisa hidup di abad ke-21.

"Kayaknya ... di dalam mesin cuci kita ada Segitiga Bermuda, deh."

.

.

.

Suara letupan minyak goreng yang memanas di atas tungku api menjadi semakin keras di telinga, tak lain karena dua manusia yang tengah berada di ruangan itu hanya terdiam. Satu menit berlalu, dan mereka masih bergeming, memandangi satu sama lain.

"Eh-awas udang gorengnya gosong."

Sou menampakkan wajah tak puas, kemudian melipat kedua tangannya. "Aku serius. Kak Eve tau, berapa banyak kaus kaki yang kucuci sepasang, eh-nggak ada angin nggak ada hujan, pas kukeluarkan cuma sisa satu. Lima puluh pasang, Kak! Lima puluh!"

Eve yang tadinya duduk manis di meja makan, lantas berdiri untuk mengambil segelas air. "Itu namanya kamu teledor."

"Nggak mungkin aku melakukan kesalahan yang sama, lima puluh kali berturut-turut." Sou masih berpose galak, celemek bermotif Gudetama terpasang dan kedua mata mengekor gerak-gerik sang kakak. Persis juri Master Chef. "Ini cuma terjadi kalau aku mencuci di rumah. Tiap numpang cuci di kosan Wolpis, pasti kaus kakiku masih utuh, kok. Nggak hilang sebelah."

"Udang gorengnya, Sou-chan."

Ketika akhirnya berpaling kembali ke penggorengan, mulut Sou ternyata masih enggan berhenti bercericau. "Teoriku, pasti ada wormhole di sana. Kak Eve tau, nggak? Yang di luar angkasa itu lho. Katanya bisa menelan lima planet sekaligus."

"Itu mah blackhole."

"Pokoknya-" potong Sou tepat setelah meniriskan udang goreng, kini balik menghadap Eve bersama spatula di genggaman, "-kita harus beli mesin cuci baru!"



Jika dituliskan dalam sebuah daftar, ada sederet alasan mengapa Eve kurang menyukai pasar swalayan. Diawali fakta sesederhana area perbelanjaan itu yang selalu ramai, dipenuhi ibu-ibu menggandeng anaknya yang masih SD, atau para lansia yang merasa dunia ini bergerak lima kali lebih cepat dan selalu sibuk mengira-ngira tingkat kematangan semangka. Belum lagi masalah pelayanan kasir yang kurang efisien, hanya ditangani satu-dua orang, mengakibatkan antrian mengular panjang.

Oh, jangan lupakan lagu itu. Lagu yang selalu sama di pasar swalayan manapun. Lagu soal ikan, atau sushi, atau sayuran hijau, diputar terus-menerus melalui speaker tua yang suaranya sudah jelek.

Namun yang paling buruk dari itu semua justru berasal dari luar pasar swalayan itu sendiri. Lebih tepatnya, dari sosok adik yang Eve bawa serta berbelanja, niatnya biar bisa disuruh-suruh, bukannya malah menambah kebisingan.

𝙐𝙩𝙖𝙞𝙩𝙚 𝙊𝙣𝙚𝙨𝙝𝙤𝙩(𝙨)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang