Happy reading..
***
Prilly's pov on.
Gue masih gak nyangka gaes kalo sekarang gue udah jadi tunangan bos gue. Entahlah gue bingung semoga aja keputusan gue ini, yang terbaik buat gue. Lagipula udah saatnya gue bahagiain bonyok gue yekan. Tapi ya gue harus tahan sama kelakuan bos gue ya kalian juga tau, bos gue pea nya udah akut banget.
" Bos, kata bunda nanti kita harus ke butik buat fitting baju. " Ucap gue
Ali yang lagi kerja pun nengokin kepalanya kek gue sambil natap gue dalem, caelahh sumur kali dalem wkwk.
Gue memutarkan bola mata. " Gosah liatin gue. Gue bukan pisang. "
Ali hanya terkekeh denger ucapan gue, lah tumben bos gue gak marah-marah. Tapi bomat lah bukan urusan gue.
" Oke. Gak ada jadwal juga kan? "
Gue cuma ngangguk.
" Yaudah. Ngapain kamu masih berdiri didepan saya? Sana lanjut kerja. "
Gue menatap Ali kesal. " Ihh iya. Iya. Gue kerja. "
Gue pun duduk ditempat biasa gue kerja, dan lanjutin pekerjaan gue.
***
Ali merenggangkan badannya dirasa pegal karena sejak tadi ia hanya menatap layar monitor di hadapannya. Ali melirik kearah Prilly yang nampak sedang serius dengan perkerjaannya. Ali tersenyum tipis, tidak menyangka dengan semuanya. Dimana sekertarisnya yang begitu menyebalkan baginya akan menjadi pendamping hidupnya. Ali masih menatap Prilly yang terlihat sangat manis dengan kacamata yang bertengger dihidungnya.
Prilly yang merasa diperhatikan akhirnya menggerakan bola matanya, mata hazelnya pun bertabrakan dengan iris hitam Ali.
Prilly mengerutkan dahinya,dan melepas kacamatanya. " Ngapain liatin gue? Udah sana kerja. Bos masa gini. nyuruh sekertarisnya kerja, giliran sendirinya malah diem diem bae. "
Ali menaikan alisnya,mendengar perkataan Prilly. Sedetik kemudian dia tersenyum berhasil membuat Prilly bergidik ngeri. " Kenapa si lo bos? "
Ali berdiri berjalan kearah meja dimana Prilly bekerja. Mengangkat bahunya acuh tanpa menjawab pertanyaan Prilly.
" Apa seperti ini cara kamu bicara sama calon suami kamu? " tanya Ali membungkukan badannya dengan tangan yang menyangga di atas meja. Ali menatap Prilly intens sehingga membuat Prilly mematung.
Prilly menelan ludahnya susah payah ketika jarak wajahnya dan Ali begitu dekat.
" G-gue anu-- "
Cup.
Prilly melebarkan matanya ketika merasakan sebuah bibir yang mengecupnya singkat. Ia melebarkan matanya dan menatap Ali dengan tatapan kaget.
***
Ali's pov on
Mampus kan lo gak bisa berkutik kalo udah gue cium hahaha. Lagian dari tadi ngomongnya cablak banget dah dan itu malah bikin gue bergairah sama dia. Oh yaampun makkk udah gak kuat gue duh.
" Gue apa hem? " tanya gue selembut mungkin ke Prilly yang masih natap gue dengan tatapan polosnya itu yang malah tambah bikin gue pen seret dia ke ranjang *eh
Prilly yang tersadarpun segera menatap gue kesal. " Ngapain lo cium g-gue heh? "
Gue tersenyum denger ucapan Prilly yang terdengar gugup, nahkan macem-macem sih sama gue kena kan lu wkwk.
" Loh emang kenapa? Cium calon istri sendiri salah emang? "
" Bukan gitu, t-tapi kan--- "
Prilly diem karena tiba-tiba gue cium lagi bibirnya, kali ini gak gue cium sekilat. Gue tempelin bibir gue kedia, terus perlahan gue lumat. Gila coy manis banget bibir dia dan bikin sesuatu menegang *eh
" shh " Yatuhan desahan dari bibir Prilly malah bikin gue semakin berhasrat sama dia. Secara dia udah gue damba-dambain si kutil ini. Tapi kalian jan berfikiran kalo gue nerima perjodohan ini karena tubuhnya, itu engga ya. Urusan tubuh itumah udah jadi rezeki gue secara gue ganteng hehe.
Gue lumat bibir Prilly secara lembut cuy, Prilly masih diem aja gak bales ciuman gue. Gue kesel dong gaes, dengan gue yang masih ngelumat tuh bibir, gue bangunin Prilly dari duduknya ya kalian pikir bae, gue cium dia dengan membungkuk ya otomatis pinggang gue sakit lah. Prilly udah berdiri, dan gue peluk pinggang dia agar semakin menempel. Gue pejamin mata mencium bibir Prilly ini yang gue rasa sekarang Prilly udah mulai bales ciuman gue walau agak kaku kebawa suana atau mungkin ciuman gue memabukan setiap hawa cailahhhh gaya gue.
Ali's pov off.
***
Degg! Degg! Degg!
Yatuhan jantung gue. Kenapa sama jantung gue? Otak gue seketika blank ketika Ali cium bibir gue, Ali lumat bibir gue dengan lembut. Gimana gue ga melehoy coba? Semua kata-kata yang udah gue siapin buat si Ali seketika hilang dari otak gue.
Gue ngerasa si Ali makin erat meluk pinggang gue, gue liat dia pejamin mata. Naluri gue berkata buat ikut mejamin mata gue dan bales ciuman dia walau sesekali hehe. Gapapa elah sama calon suami sendiri kan.
" Gimana masih mau gak sopan sama aku? "
Hah? Aku? Gak salah denger nih gue? Dia ganti kosa katanya dan entah kenapa gue merasa ada jutaan kupu-kupu terbang di perut gue.
Gue masih melongo, gak sadar dengan ucapan Ali dan gue sadar ketika Ali tiup wajah gue dan aroma nafasnya bikin hati gue tergelitik merasakan yang baru saja terjadi ingin terulang lagi eh.
" G-gue.. "
" Aku. "
" G-gue.. "
" Aku sayang. Aku. "
" Hah? "
Gue liat Ali yang masih tersenyum kearah gue, dan dia ngelus kepala gue. Yaampun mama gue baper ini.
" Sekarang biasain bicaranya aku-kamu bukan lo-gue. Aku calon suami kamu, harus dibiasain dari sekarang. "
Dan gue cuma ngangguk kek orang bego gaes. Gak tau kenapa gue gak bisa berkutik gini.
Ali melepas pelukannya, dan mengusap pucuk kepala gue. " Jadwalnya sekarang kan? Yaudah yuk, takut kesorean. "
Gue cuma ngangguk, sambil ngambil tas gue. Entah sejak kapan tangan gue udah ada di genggaman Ali.
***
Gimana menurut kalian manteman? Maaf pendek ya soalnya ini ngebut banget. Maaf kalo feelnya kurang dapet. Btw jan pada mupeng ya kalian wkwk😷 Jangan lupa vote dan commennya!💙
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY BOSS😎
DiversosBos yang selama ini selalu bikin gue darah tinggi dan jijik dengan kelakuannya, ternyata dia adalah calon suami gue. Gue harus gimana gaes? sedih atau justru harus bahagia dengan semua ini? Penasaran?kuy join💙
