[2]

6.7K 459 22
                                        

"Puas?"

Kekehan sinis keluar dari mulut Namjoon setelah kali kelima tangannya berhasil memukul wajah Seokjin. Mereka sempat adu senjata sampai membuat beberapa sayatan memanjang di tangan Namjoon. Darah pun keluar dari luka-luka itu. Rasanya tak kalah pedih dari rasa pukulan di wajah Seokjin. Tapi entah kenapa rasanya lebih pedih dendam di dada.

"Mau memukul lagi?" tanya Seokjin sekali lagi dengan suara agak tinggi di akhir pertanyaan. Lidahnya keluar menjulur untuk merasakan luka sobek yg baru diciptakan Namjoon tadi.

Rasanya amis, sampai ludahnya pun berubah merah darah. Mungkin sekarang wajahnya tidak semanis dulu. Luka di tulang pipi, sobekan di sudut bibir, dan bekas cekikan dari tangan Namjoon terus membekas tanpa tahu kapan akan menghilang.

"Kita anggap ini impas?" Namjoon mengangkat kedua tangannya, menunjukkan punggung tangannya yg berdarah-darah. Kemudian senyum miringnya meninggi. "Kau sudah pintar memakai pisau rupanya."

"Aku belajar untukmu. Untuk membunuhmu, Kim Namjoon." Ucapannya dingin sekali bagai gunung es. Dan tajam seperti pisau yg baru diasah.

Sontak tawa Namjoon menguar seram dengan kepala terlempar ke belakang. Bangga sekali rasanya mendapati musuh dan pujaan hatinya melakukan hal demi dirinya. "Sangat mengharukan, Kim Seokjin. Aku tak tahu kalau kisah kita akan berakhir di sini. Penuh darah dan saling memukul. Manis sekali."

"Diam atau kupotong lehermu."

"Tenang, Sayang. Kenapa kau sensitif begini? Karena anak kita, Jungkook?"

"Dia tidak akan pernah jadi anakmu."

"Oh ya? Lupa bagaimana hebatnya kau saat membuat dia? Lihat hasilnya jadi tampan dan berbakat seperti itu."

"Jungkook tidak ingin punya ayah gila sepertimu. Aku harus membunuhmu sebelum Jimin yg kau jadikan tumbal selanjutnya. Menghentikan obsesimu caranya hanya satu. Membunuhmu."

Seokjin mengambil sebilah pisau baru yg tak diduga-duga ada di belakang celananya. Pisau tumpul yg katanya bisa memberikan rasa lebih sakit bila ditusukkan dalam-dalam. Seokjin menatap dingin tanpa ekspresi ke wajah Namjoon yg sekarang berlagak tidak peduli, padahal nyawanya diujung tanduk. Pun dia tersenyum, sangat manis, tidak menyeringai sama sekali.

"Tidak bisakah aku memberikanmu satu ciuman dulu sebelum aku mati, Seok? Aku pernah membayangkan betapa indahnya kau menancapkan pisau itu dengan tangan cantikmu, dan sekarang itu akan terjadi hari ini."

"DIAM!"

Psikopat.

"Semenjak kau membunuh Jungkook demi persembahan sekte gila itu, aku tidak lagi sudi memimpikanmu setiap malam. Dan sekarang aku harus menghilangkanmu sama seperti aku yg lupa kau pernah mencintaiku dulu. Selamat tinggal, Joon. Semoga kau senang di neraka."
              
                
             
        
             
       
alpakakoala, 2019
   
   
   
  
   
______________________________________   
[P.S]
Psst! Hei, kalian yg suka sama karyaku, aku sekarang Open Commission ya. Jadi kalian bisa minta bantuanku menuliskan ide dan prompt kalian. Kalau kalian berminat, bisa DM aku, atau cek twt aku [sinammey] dan buka twit yg tersemat. Thank you! Have a nice day!

Untitled | NamjinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang