Setelan jas hitam dengan pantofel hitam mengkilat benar-benar cocok untuk Namjoon. Meski rambutnya blonde, entah kenapa tidak ada yang memprotesi warnanya. Bisik-bisik di belakang mengatakan bahwa Namjoon jadi terkesan sangat seksi, apalagi ditambah dengan kacamata. Sudahlah. Angkat tangan. Nggak kuat.
Senyum Namjoon begitu menyenangkan untuk dilihat. Tapi Namjoon lelah memamerkannya setiap waktu. Berpura-pura tersenyum agar terlihat berwibawa membuat Namjoon muak. Apalagi kalau dia sedang tidak dalam kondisi baik. Ingin rasanya bersikap dingin dan melupakan posisinya sebagai Direktur Utama. Ditambah dengan cap 'Kim Berwibawa Namjoon', membuat Namjoon harus terus menjaga image itu. Kapanpun, dimanapun.
Kalau sudah begini, Namjoon jadi ingin cepat-cepat pulang. Dia sudah gelisah mau pulang. Tapi dia sedang banyak pekerjaan dan sekretarisnya terus saja menyebutkan jadwal untuknya esok pagi, lusa, dan seminggu ke depan. Banyak. Banyak sekali.
Jadi, dia langsung memotong ucapan sekretarisnya saat dia mau mengucapkan jadwal lusa. "Mari kita bahas itu besok. Saya lelah. Kau boleh pulang." Namjoon memberikan senyumnya pada sang sekretaris yg hampir melompat girang karena bisa cepat pulang. Meski senyum terpaksa, Namjoon tetap harus menunjukkan keramahannya.
Ketika sampai di flat, Namjoon langsung disambut oleh pacarnya, Kim Seokjin. Pria manis yang sudah menemaninya selama lima tahun ini. Dia sedang dalam mode menggemaskan dengan kacamata dan turtle neck abu-abu. Ada buku self improvement di tangannya, buku kesukaan Namjoon. Dia menoleh dan tersenyum saat melihat Namjoon berdiri terpaku melihatnya tak jauh dari tempat Seokjin duduk.
"Sudah pulang? Gimana harinya?" tanya Seokjin lembut sekali, apalagi dia sambil tersenyum.
Namjoon ingin rasanya berubah ke bentuk kecilnya. Bermanja-manja, menjahili Seokjin dengan segala pertanyaan polosnya, lalu menempelkan tubuhnya. Menyatu dengan hangatnya Seokjin.
"Aku lelah," ujar Namjoon setelah menghempaskan dirinya di samping Seokjin. Tangannya bergerak kasar melepas dasi dan meletakannya di lengan sofa. Kemudian menoleh ke Seokjin dengan bibir mengerucut manja. "Cium."
Seokjin terkekeh kecil, lalu mengecup singkat bibir pacarnya. "Mandi dulu sana. Abis itu kita makan."
"Mandiin."
Seokjin sempat membulatkan mata tapi setelah itu dia tertawa kecil. Meski sering diminta mandi berdua, tapi Seokjin tahu waktu juga kapan mereka perlu mandi bersama atau tidak. "Aku cucikan saja ya rambutnya."
"Nggak mau. Semuanyaaaaa."
Duh, sepertinya Namjoon-nya sudah bukan Namjoon yang biasanya.
"Namjoon mau mandi. Namjoon kegerahan. Namjoon mau dimandikan. Namjoon nggak suka mandi sendiri."
Bisa dibayangkan bagaimana manjanya suara Namjoon ketika dia merengek seperti itu? Matanya yang berbinar-binar minta dituruti dan juga suara yang diberi nada lucu. Seokjin tak tahan melihatnya. Benar-benar menggemaskan.
Sebagai caregiver Namjoon selama lima tahun ini, Seokjin sudah terbiasa jika Namjoon sudah masuk ke dalam littlespace-nya. Pun akhirnya Seokjin menuruti juga keinginan Namjoon untuk memandikannya.
Setelah mandi, Namjoon pun makan dengan tenang. Dia hanya merengek kalau minta mandi. Setelah itu Seokjin pun menemani Namjoon bermain-main dengan puzzle-nya.
Di sela-sela kegiatannya, Namjoon akan merangkak naik ke atas Seokjin dan menjatuhkan dirinya di atas Seokjin. Menelungkupkan badannya dan menaruh kepalanya di dada Seokjin. Yang dibawah hanya bisa terkekeh dan mengelus-elus kepala Namjoon yang semakin mengusak kepalanya, mencari kenyamanan meski sudah nyaman.
"Namjoon ngantuk?" tanya Seokjin lembut.
"Kalau Namjoon minta gendong pasti berat. Namjoon mau tidur disini saja kalau begitu," jawabnya dengan suara yang menggemaskan.
"Baby Namjoon nggak apa-apa tidur disini? Dingin lho."
"Kalau sama Jinnie nggak apa-apa. Jinnie kan hangat."
Pipi Seokjin memerah sampai ke telinga. Bisa-bisanya dia menggoda di saat begini? Hawanya jadi panas.
"Namjoon mau main."
"Main apa? Puzzle? Sini Jinnie bantu."
Namjoon malah menggeleng dan menatap Seokjin dengan tatapan polos seperti anak-anak. "Namjoon nggak mau main itu. Namjoon mau main yang lain."
Kening Seokjin malah mengekerut, bingung. "Lalu? Main apa? Blok?"
"Main ini."
Tiba-tiba Namjoon menaikkan kepalanya dan mencium rahang Seokjin. Meski mendadak sampai Seokjin berhenti bernapas sejenak, tapi Namjoon menciuminya dengan lembut.
Tak berlangsung lama karna setelah itu Namjoon menjauhkan kepalanya, menatap Seokjin yang sudah memerah. Tangannya di bawah baju Seokjin, bersiap mengangkatnya.
"Ayo kita mulai mainnya. Tapi tangan Jinnie naik dulu ya biar Namjoon gampang mainnya."
Oke, ini 'permainan' yang akan memakan waktu lama, ditambah Namjoon sedang dalam bentuk kecilnya. Seokjin pasrah saja, menikmati 'permainan' sampai pagi menjelang.
alpakakoala, 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Untitled | Namjin
Fanfictionkumpulan cerita pendek Namjin tanpa judul ⚠️kalau kalian nggak suka pairing namjin atau homophobic, mending nggak usah baca. cari cerita lain^^ alpakakoala, 2019
