"Seok!"
Pria berparas cantik yg dipanggil itu langsung menolehkan kepalanya ke arah pasangannya yg ada di depan. Ekspresinya terkejut dengan mata membulat selama beberapa detik sebelum akhirnya dia tertawa kotak, malu karena ketahuan tidak fokus saat suaminya sedang bicara tapi dia tidak mendengarkan sama sekali.
"Maaf, Joon. Kamu bilang apa tadi?" tanya Seokjin yg dibalas hembusan napas lesu dari Namjoon.
"Kamu mau Paris atau Maldives?" tanya Namjoon lembut sambil tersenyum. Dia harus mengulang ucapannya lagi karena Seokjin sama sekali tidak mendengarkannya dari awal. Sabar, Joon. Untung sayang.
"Nggak bisa ke Jeju aja? Atau Busan? Aku capek ke luar negri," keluh Seokjin sambil melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Aku mau mewujudkan salah satu keinginan yg ada di buku jurnalmu, Seok. Jadi kau harus pilih salah satu."
Mata Seokjin sontak membulat. "O-okay, jurnal yg mana yg kamu lihat, Joon? Aku punya banyak jurnal lho." Dia berusaha tidak panik perihal jurnalnya yg banyak berisikan khayalan dia bersama Namjoon, termasuk wishlist yg ingin dia wujudkan bersama pria itu.
Namjoon berdehem panjang, berusaha mengingat wujud jurnalnya. "Warna hitam polos dengan ukiran SJ berwarna emas."
Napas lega pun keluar dari bibir Seokjin dengan tangan di dadanya. "Syukurlah..." gumamnya.
"Dan juga aku lihat yg maroon beludru."
Sial!
"Jangan bilang--"
"Wishlist kan?"
"Joon, itu bukan--"
Seokjin tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlanjur ketahuan. Jurnal maroon beludru yg selama ini dia sembunyikan akhirnya ditemukan juga. Jurnal yg tidak seharusnya dia tunjukan pada siapapun karena isinya tidak sesuai untuk dibaca banyak orang. Terutama Namjoon.
Lagipula siapa sih yg menuliskan fantasi bercintanya di atas kertas pada jaman sekarang?
Seokjin orangnya.
Ingin rasanya mengubur diri saking malunya. Kalau saja hanya dengan menutup wajah bisa menyembunyikan dirinya dari Namjoon, pasti Seokjin akan terus menutupnya tanpa ingin membukanya. Dia malu sekali.
Rusak image polos dan penurut Seokjin selama ini. Namjoon tidak akan memandangnya dengan cara yg sama lagi dan itu memalukan.
"Jadi itu sebabnya kamu selalu melihat anak kecil itu, Seok?" tanya Namjoon penasaran.
"Anaknya lucu, Joon. Karena itu. Bukan yg lain," jawab Seokjin ketus sambil mengalihkan pandangannya.
Senyum Namjoon sontak berubah miring.
"Maldives sepertinya lebih cocok untuk mewujudkan semua wishlist-mu yg ada di jurnal maroon itu, Seok. Kita bisa mencoba semua wishlist-nya dalam satu hari. Lalu setelah itu keinginanmu untuk punya bayi lucu yg pintar sepertiku dan tampan sepertimu akan terwujud juga. Apalagi kita mewujudkannya di Maldives. Keren kan?"
"Joon, bukan--"
"Jangan khawatir~ kita bisa melakukannya di Paris juga. Di negara romantis seperti Paris pasti akan lebih mengasyikkan. Tapi aku lebih suka kita ke Maldives dulu lalu ke Paris. Aku nggak keberatan kalau kita mewujudkan wishlist-mu dua kali, hyung."
Dan Namjoon mengatakannya sambil tersenyum lebar. Seolah bukan apa-apa. Sementara Seokjin harus menanggung malu dengan wajah dan telinga yg memerah seperti kepiting rebus.
"Kita ke Busan. Nggak ada penolakan."
alpakakoala, 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Untitled | Namjin
Fanfictionkumpulan cerita pendek Namjin tanpa judul ⚠️kalau kalian nggak suka pairing namjin atau homophobic, mending nggak usah baca. cari cerita lain^^ alpakakoala, 2019
