Akhir-akhir ini Hoseok tak bisa melepaskan pandangannya dari Seokjin. Pria hiperaktif yg suka bersorak-sorak tentang lucunya si anjing peliharaan ketika disuruh bermain, kini lebih sering memperhatikan Seokjin dalam diam dengan tatapan meneliti. Hoseok begitu serius menatap Seokjin, terutama di bagian wajah dan kepala.
"Hoseok-ah, berhenti menatapku. Kau tidak mendadak suka padaku, kan?"
Hoseok lantas bergidik sembari menatap ngeri ke arah Seokjin yg kini menepuk-nepuk bahunya. "Kau tahu kalau kau akan berhadapan dengan siapa kalau sampai itu terjadi?"
Tangan Hoseok mengibas menjauhkan tangan Seokjin di bahunya. "Pun aku tak mau buat masalah dengan professor kesayanganmu itu, Jin."
"Kalau begitu berhenti menatapku. Orang-orang bisa salah paham," balas Seokjin terkekeh geli dengan bahunya yg terangkat, khas sekali saat tertawa.
"Aku penasaran, Jin." Hoseok kembali menatap serius wajah Seokjin. Pria berparas cantik itu sampai harus memundurkan wajahnya saking dekatnya Hoseok memajukan wajahnya.
Dalam jarak sedekat ini, di tengah-tengah taman kampus, dilalui banyak mahasiswa yg kini menaruh minat pada mereka berdua, tentu membuat Seokjin tak nyaman. "Eum, Seok. Terlalu dekat..." ujar Seokjin lirih sembari mengalihkan matanya ke arah lain.
Bukannya menjauh Hoseok malah menyipitkan matanya penuh curiga lalu berkata dengan nada menginterogasi. "Pak Namjoon habis menjanjikan apa kepadamu sampai kau memanjangkan rambut seperti ini?"
"Hah?" Seokjin mengerjap-ngerjap bingung dan menatap Hoseok.
"Itu. Rambutmu," jawab Hoseok menghela napas. "Aku telah mengenalmu sejak kita sekolah menengah atas dan baru kali ini kau memanjangkan rambut. Padahal dulu kau bilang rambut cepak tentara adalah kesukaanmu. Apa kau ganti haluan? Apa Pak Namjoon yg memintamu seperti ini?"
Desakan Hoseok yg selalu ingin tahu segala hal tentang Seokjin membuatnya tersudut. Seokjin sebenarnya senang ada yg memperhatikannya, seperti saat dia membeli sepatu baru atau memakai jaket bermerek keluaran terbaru, Hoseok akan langsung mengetahuinya. Kesannya pamer tapi Hoseok kelewat peka.
"K-kau tahu Park Bo Gum? Aku suka rambutnya! Makanya aku mulai memanjangkan milikku agar mirip dengannya," kilah Seokjin sembari tertawa kelewat canggung.
Hoseok tentu takkan percaya kalau sahabatnya sudah begitu. Tak bisa berbohong katanya.
"Jadi Pak Namjoon suka Park Bo Gum?"
Beliau suka aku, Jung Hoseok! Ish!
Tidak ada gunanya melawan Hoseok selain melarikan diri dan menghilang. Seokjin langsung menuju tempat persembunyian favoritnya jika Hoseok sudah mulai kepo dan terkesan menuntut.
Seokjin segera menutup pintu kantor Namjoon dan meninggalkan bunyi berdebam akibat terlalu kuat menutupnya. Namjoon sampai terkejut dan langsung menoleh ke pintu untuk melihat siapa yg mendadak datang tanpa mengetuk. Pria itu lantas berdiri dan menurunkan kacamata yg sejak tadi dia pakai untuk membaca.
"Kau baik-baik saja, Sayang? Kenapa kau berkeringat?" tanya Namjoon khawatir sembari mengamati wajah penuh peluh Seokjin yg kini menelungkupkan badan panjangnya ke atas sofa.
Namjoon berjongkok di samping kepalanya lalu mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Seokjin dengan teramat lembut.
"Kenapa menutup wajahmu seperti itu? Aku ingin melihatnya. Kau tahu berapa lama aku harus menunggu pagi hanya untuk melihat wajah Jinseok-ku ini?" Kalimat Namjoon tak bisa dikatakan sebagai rengekan atau sebuah permintaan. Pun tak pula dikategorikan sebagai pujian atau godaan.
Tapi melihat dari senyum Namjoon yg terukir tipis dengan seribu makna itu membuat Seokjin malu. Dia menyembunyikan wajahnya lagi dan itu membuat Namjoon terkekeh gemas.
"Hoseok meledekmu lagi?" Tebakan Namjoon langsung mengundang anggukan semangat Seokjin.
"Aku malu mengakui kalau alasanku memanjangkan rambut adalah karenamu," rajuk Seokjin dengan cara yg menggemaskan.
"Kenapa? Hoseok 'kan tidak akan membocorkan tentang kita pada orang lain." Namjoon bersumpah ingin sekali mencium setiap bagian wajah Seokjin saking gemasnya. Lihat wajahnya yg merajuk itu, sangat lucu!
"Memang tidak. Tapi itu hanya akan membuatnya penasaran tentang apa yg kau lakukan dengan rambutku. Aku tak percaya dengan wajahnya yg pura-pura polos sementara kepalanya berpikiran lain."
Namjoon hanya berdehem panjang mendengarkan cerita pengaduan Seokjin. Pria yg sepuluh tahun lebih muda darinya ini bisa saja terlihat besar dengan sikapnya yg dewasa itu, tapi dia masih punya sisi anak-anak yg suka merengek dan merajuk tentang hal yg mengganggu hidupnya. Dan Namjoon suka melihatnya. Menurutnya itu lucu dan menggemaskan.
"Tapi, aku jadi mulai bertanya-tanya juga. Kenapa kau mendadak memanjangkan rambut, Jinseok-ah?" tanya Namjoon sembari memainkan helaian rambut halus Seokjin di sela-sela telunjuk dan jari tengahnya.
Seokjin pun akhirnya menunjukkan wajahnya, kemudian menumpu sebelah pipinya di atas lipatan tangan kiri. Itu membuat jemari Namjoon menjauh dari rambut Seokjin.
"Karena aku suka saat kau memainkan rambutku, Joon-ah."
Namjoon selalu memprotesi cara Seokjin yg memanggilnya dengan nama kecil, seolah-olah mereka sebaya. Tapi Seokjin selalu memakai nama kecilnya saat merengek dan berkata jujur. Seperti sekarang ini.
'Kan Namjoon lemah kalau Seokjin sudah begini.
"Apa itu seperti sebuah permintaan dariku?" tanya Namjoon sembari mengangkat sebelah alisnya dengan senyum menukik miring.
"Afeksi yg kau berikan lebih dari sebuah candu untukku dan aku menganggapnya sebagai permintaan agar aku bisa mendapatkannya terus."
Oh, Kim Seokjin. Kau berani sekali mengatakan itu.
"Lalu, bagaimana dengan ini?"
Namjoon lantas bangun dari duduknya, mendekatkan wajahnya terutama bibir yg mendadak mengecup kilat bibir penuh milik Seokjin. Si empunya tidak sempat mengelak, pun tak bisa berkata-kata setelah dicium secara mendadak.
Namjoon tersenyum miring lantas berkata dengan suara rendahnya yg menggoda. "Apa kau akan mulai memerahkan bibirmu yg sudah merah ini agar aku terus menciummu, Kim Seokjin? Seperti itu, huh?"
Tak ada berpikir itu adalah sebuah permintaan yg menantang kecuali Kim Seokjin sendiri.
alpakakoala, 2019.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untitled | Namjin
Fanfictionkumpulan cerita pendek Namjin tanpa judul ⚠️kalau kalian nggak suka pairing namjin atau homophobic, mending nggak usah baca. cari cerita lain^^ alpakakoala, 2019
