Dia berada di depan mata. Saling menatap. Sama-sama menumpu satu pipi dengan satu telapak tangan. Bagaikan cermin, dia menumpu kanan, Seokjin menumpu kiri. Tidak ada kata yang keluar setelah lima menit hanya saling menatap, bahkan saat pria itu datang dan duduk di depan Seokjin.
Satu senyum perlahan mengembang dan berubah menjadi tawa rendah mengisyaratkan rasa malu sembari menundukkan sedikit kepalanya. Seokjin tersenyum gemas melihat tingkahnya yg tidak terduga itu. Bisa tiba-tiba terdiam serius, lalu tersenyum sembari setengah mati menahan tawa, kemudian berakhir dengan menatap setengah sayu dengan dagu terangkat dan senyum miring mengintimidasi.
Namjoon adalah satu-satunya pria yg bisa membuat jantung Seokjin berpacu hanya dengan tatapan. Sudah hampir lima tahun saling mengenal Seokjin belum bisa mengontrol jantung dan matanya yg selalu serempak memuji keindahan paras dan tatapan tajam Namjoon. Seokjin berani bertaruh tidak ada yg bisa melakukan sebaik yg dilakukan Namjoon seperti ini padanya.
Tulang pinggang kanan Seokjin perlahan mulai terasa sakit karena terlalu lama ditarik diagonal. Dia lalu mengubah cara duduknya menjadi lurus dan menumpu dagunya dengan kedua telapak tangan di bawah dagu. Mata tetap menatap Namjoon layaknya menjaga buruan makanan agar tetap berada di jangkauan matanya. Lengah sedikit, hilang sudah.
"Aku lapar." Kalimat pertama Seokjin dengan nada merengek pada Namjoon yang tergelak mendengar dua kata itu.
"Pancake tadi tidak cukup, ya?"
Bibir Seokjin mengerucut sedih. "Tidak sama sekali. Aku mau ramyun."
"Mau kutemani membuatnya? Aku mulai lapar juga."
"Tapi ibu belum mengirimkan kimchi. Nggak enak kalauhanya telur dan sosis."
"Tidak masalah. Toh biasanya tidak dengan kimchi." Senyum Namjoon kelewat lembut dengan suaranya yg nyaris berbisik itu. "Bagaimana dengan Jungkook? Dia sudah tinggi sekali, ya."
"Baik, sangat baik. Anak itu sedang di masa pubertasnya jadi senang sekali olahraga. Bahkan perutnya mulai berbentuk. Aku iri." Lagi-lagi bibir plum Seokjin melengkung ke bawah saat mengatakan dua kata terakhir.
"Aku tak sabar ingin melihatnya meski tak bisa."
Ada pancaran sedih dari mata Namjoon yg menunduk menatap meja kayu di bawah buku Seokjin yg terbuka. Senyumnya terangkat dengan ekspresi iba. Dia lagi-lagi mengasihani dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu kalau kau tidak bisa melihat Jungkook." Seokjin mengambil jemari Namjoon yg tergeletak di atas meja kemudian menggenggam telunjuknya dengan jemarinya.
"Terkadang aku bisa. Tapi setelah itu tidak. Mungkin aku hanya bisa memperlihatkan diriku padamu, Jin."
"Mungkin kau harus bersamaku dulu baru kau bisa melihatnya. Dan aku berharap Jungkook bisa melihatmu juga, Joon. Dia sangat merindukanmu."
Terdengar seperti kebohongan yg dibuat untuk menyenangkan hati, tapi Namjoon senang mendengarnya. Dia tertawa kecil, lalu melihat jemarinya yg terjalin dengan milik Seokjin. Tangannya pun berganti menjadi sebuah genggaman erat dengan jemari bertautan satu sama lain. Melihat tangan mereka yg menggenggam menciptakan tawa dengan penuh arti.
"Hyung, sedang apa? Sebentar lagi hujan. Masuklah ke dalam." Jungkook yg baru saja pulang dari sekolah memunculkan dirinya di depan pintu menuju taman--tempat Seokjin duduk-duduk--kemudian naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Oke, nanti hyung masuk. Kau mau masuk--"
Kalimat ajakan Seokjin terpaksa terputus saat mendapati sang pria tak lagi di depannya. Bahkan tangan mereka yg sempat mengamit mesra kini hanya ada tangan Seokjin saja. Agaknya menyesal karena sudah menolehkan kepalanya ke Jungkook yg membuatnya lengah dan kehilangan Namjoon.
Tak ada yg bisa dilakukan Seokjin pada pacar "hantunya" itu selain menunggunya datang kembali. Nyatanya Namjoon hanyalah ilusi yg diciptakan Seokjin akibat terlalu merindukan sosok tampan yg sudah meninggalkannya setahun lalu. Kecelakaan adalah hal tidak bisa dihindari meski sudah berhati-hati. Tetap saja akan terjadi pada siapapun.
Seokjin tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum.
"Aku rindu padamu, Joon. Maafkan aku karna tak bisa melindungimu. Aku minta maaf."
Sebulir air mata pun turun mengaliri pipi bulat Seokjin di tengah-tengah isakannya yg tertahan itu.
alpakakoala, 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Untitled | Namjin
Fanfictionkumpulan cerita pendek Namjin tanpa judul ⚠️kalau kalian nggak suka pairing namjin atau homophobic, mending nggak usah baca. cari cerita lain^^ alpakakoala, 2019
