Kyungsoo menyeruput kuah sup mandu yang dipesan. Ia lantas bersendawa untuk melegakan perut yang sudah terisi penuh. Ini sudah mangkuk ke empat, wajar saja jika Kyungsoo merasa begitu kenyang. Begitu kontras dengan pagi tadi kala mata terbangun dari lelap, perut begitu kosong dan menuntut untuk segera diisi.
Mata Kyungsoo menjeling, menatap sang lelaki perkasa yang sedanh tertunduk di hadapannya. Sesekali ia melirik wajah Kyungsoo dengan takut-takut. Kyungsoo tahu dia merasa bersalah.
Lagi pula, ini memang kesalahannya. Kyungsoo kira Kim Jongin hanyalah mahasiswa biasa saja dan tipikal lelaki baik yang begitu lugu, nyatanya, semalaman suntuk dia membuat Kyungsoo bekerja rodi.
Beberapa detik kemudian kepala sang lelaki perkasa terangkat, mata elangnya bersama mata bulat Kyungsoo, bersirobok.
"K—Kyungsoo ssi ...."
"Jangan berbicara!" Kyungsoo membentak. Dia memang sedang tidak mengizinkan lelaki ini mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tetapi, aku harus minta maaf."
"Cih!" Kyungsoo berdecak. "Kau bilang ini yang pertamakalinya! Tetapi, kau seperti kesetanan seolah esok hari tak akan ada lagi!" Kyungsoo terus membentak dengan suara kasar, bahkan orang sekitar harus melirik memperhatikan mereka.
"K—Kyungsoo ssi, tak perlu berteriak. Kau sedang serak. Suaramu akan benar-benar habis jika berteriak." Sang lelaki tampan bertampang khawatir.
Kembali Kyungsoo berdecak. "Kau pikir siapa yang membuatku suaraku hampir habis?! Kukira kau lelaki baik-baik, nyatanya kau binatang buas!"
"M—Maafkan aku ...." Sang lelaki tampan menundukkan kepala.
Kyungsoo menghela napasnya, menatapi dengan bibir bawah yang digigit kemudian. Ah, sepertinya bahasa Kyungsoo terlalu keterlaluan dengan lelaki yang disukainya ini.
Sedetik kemudian, ia menghela napas berat di balik tundukannya. "Kyungsoo ssi belum menjawab pernyataan cintaku. Aku ragu, apa Kyungsoo ssi juga memiliki perasaan yang sama denganku."
Alis mata terangkat, pula bola mata yang besar semakin membesar saja menatap begitu lekat; jantung Kyungsoo berdesir mendengar ucapan sang lelaki tampan.
Benar sekali yang diucapkannya, ucapan cinta semalam belum sepenuhnya terjawab serius dari bibir Kyungsoo. Namun, Kyungsoo sudah mengatakan dia mau dan dia pula akan mempercayai Kim Jongin. Barangkali yang semacam itu, tidak cukup baginya.
Kyungsoo lantas menghela napas. Namun, kala ia akan membalas ucapan lelaki tampannya, dering ponsel di saku celana mengganggu. Dengan terpaksa, Kyungsoo menunda dan merogoh ponsel di celana.
"Kak Minho!" Wajah Kyungsoo berbinar kala mendapati sang kakak yang memberikan panggilan video.
Wajah Kyungsoo masih berbinar ketika menerima panggilannya, tetapi manakala menangkap wajah lain dari balik panggilan video kakaknya, rona wajah berubah masam.
"Lee Taemin, mengapa kau menggunakan ponsel kakakku?!" hardik Kyungsoo, berlagak sinis.
"Dia kekasihku! Wajar saja aku menggunakan ponselnya!" Seorang lelaki cantik di seberang telepon, membalas sengit ucapan Kyungsoo.
Lantas, kala Kyungsoo akan membalas ucapannya, lelaki cantik di balik telepon kembali berucap, "berikan ponsel pada Kim Jongin!" Dia memerintah Kyungsoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trap
Fanfiction[COMPLETED] (21+) Boys Love. This story contains some sex scenes in detail, unappropriate words, and uneducated manners. Do not read if you're underage! Mereka terbangun di ranjang yang sama, bahkan di selimut yang sama. Namun, Kim Jongin...
