05. Kebohongan

2.9K 432 89
                                        



Sembari mengisap batang nikotin yang dibakarnya, Do Kyungsoo duduk di atas sofa di seberang ranjang kamar penginapan yang mereka sewa.

Ia sedang menatapi; menatapi lelaki rupawan yang masih terbaring di atas ranjang, begitu polos tanpa busana, hanya sehelai selimut penginapan yang menutupi tubuh atletis; suara dengkurnya yang tipis menemani lelap.

Terlihat dari bagaimana berantaknya kamar yang mereka tempati, Kyungsoo masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi tadi malam; pula bagaimana kalimat yang diucap lembut olehnya terus mengusik hati Kyungsoo, membuatnya goyah.

"Akh! Aww!"

Sekelebat kemudian Kyungsoo tersentak kaget oleh abu puntung rokok yang jatuh di punggung tangan. Terasa begitu panas.

Dengan cepat lantas langkahnya berlari untuk memasuki kamar mandi, meninggalkan lelaki perkasa yang mendengkur, untuk mencuci tangan yang terkena abu rokoknya sendiri.

Namun, baru saja selesai membasuh tangan, Kyungsoo terkejut sendiri manakala melihat pantulan tubuh di balik cermin wastafel kamar mandi.

"G—Gila!" umpat Kyungsoo sembari melirik seluruh bagian tubuh.

Tepat di bagian leher, pundak, dan dada terlalu banyak bercak memerah, tanda kelakuan ganas sang lelaki perkasa tadi malam. Tak hanya di sana, kala mengintip bagian paha dan selangkangan, Kyungsoo pun bisa melihat dengan jelas seberapa banyak bercak merah itu menodai tubuhnya.

Kyungsoo benar-benar tidak menyadari, ia bahkan lupa kapan pernah lelaki itu meninggalkan berkas sebanyak ini di tubuhnya. Tadi malam itu begitu gila sehingga ia Kyungsoo tak menyadari apa yang terjadi.

Padahal mereka tak melakukan hingga ke situasi yang intim. Namun, begitu saja sudah membuat Kyungsoo kehilangan akal sehat. Jari-jemari itu begitu berbahaya.

"Apa kau benar yakin dengan aku yang akan menikmatimu sesuka hatiku?" Ucapan itu kembali terngiang di telinga.

Kyungsoo menyadari sekali jika semalam, tatapan mata elangnya begitu berbeda dan rona tampan itu terlihat marah; namun, Kyungsoo masih tak mengerti dengan kalimat cinta yang tiba-tiba.

Meskipun begitu yang Kyungsoo inginkan, mengingat bagaimana rencana awal dan pula taruhan bersama para banci-banci pekerja milik Madam. Akan tetapi, Kyungsoo tak tahu alasan mengapa ini terasa aneh.

Ini membuat Kyungsoo terkejut. Semua terlalu tiba-tiba untuk lelaki baik-baik seperti Kim Jongin dan kemudian bisa begitu saja berucap kata cinta untuk lelaki semacam Kyungsoo.

"Dia bahkan ikut tegang semalam." Kyungsoo berucap rendah sembari meremas surainya.

Lelaki itu tadi malam bahkan diliputi hasrat maksiat, tetapi ia begitu hebat menahan lantaran Kyungsoo bersikeras tidak membalas ucapan cintanya.

"Tidak! Tidak! Ini tidak baik!" Kyungsoo mengusap wajahnya. Dia benar-benar goyah. Kendati ia berniat membuat sang lelaki tampan terjatuh lantas menghancurkan hatinya, kini Kyungsoo malah begitu enggan untuk berpisah dengannya.

Dengan cepat kembali tangan memutar keran wastafel, Kyungsoo menyiram sebanyak mungkin wajahnya dengan air.

"Benar! Aku hanya kebingungan akan hasrat nikmat yang diberikannya. Ini bukan rasa cinta sama sekali! Aku harus menenangkan diri dan setelahnya tak perlu memikirkan Kim Jongin ssi!" Kyungsoo menatap pantulan dirinya di balik cermin; dengan wajah tegas, ia meyakinkan dirinya sendiri.

"Ini akan baik-baik saja. Ini bukan apa-apa." Bibir terus berkomat-kamit sembari langkah kaki mulai melenggang untuk keluar dari kamar mandi.

Namun, sedetik kemudian langkah terhenti kala menangkap tubuh atletis tak ada lagi di atas ranjang. Ia berada di seberang sana di sisi beranda kamar penginapan yang mereka sewa.

Sweet Trap Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang