Disclaimer to MK. Story by noa.
Greenland. Red Castle 23 july 2020
Pemuda itu membuka mata, menampilkan kilau onyx yang memikat mata. Bulu matanya lentik, dengan hidung mancung simetris yang begitu indah.
Sakura menatap pemuda itu dalam diam, mereka saling menatap saat membuka mata. Berada di ranjang kecil Sakura, saling berhadapan menyelami manik masing-masing. Jarak hidung mereka tidak lebih dari sekepal tangan anak kecil. Hingga Sakura merasakan dengan lembut hembusan nafas pemuda itu. Tangan mungilnya terangkat, tangan yang sudah membunuh banyak orang itu bergetar dengan tatapan rapuh. Membuat hati pemuda itu berdenyut sakit. Namun pemuda itu masih kukuh menepis semua perasaan yang mengganjal, meleburkan hati nurani dan secuil rasa ingin melindungi.
Mereka hanya menatap mata masing-masing. Menyelami kesakitan lawannya. Tanpa mau mengatakan perasaan yang sebenarnya.
Jemari mungil yang halus itu mengelus pelan rahang tegas di depannya. Sedangkan si pemuda memejamkan mata, meresapi detik demi detik pertemuan terakhir mereka.
"Aku selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya menyentuh orang lain. Bukan hanya meraba. Tapi merasakan. Dengan hati."
"Akankah sentuhanku tersampaikan, apakah perasaanku dapat di mengerti?"
Sakura menelisuri garis wajah pemuda yang diam memejamkan mata. Seakan menikmati jemari halus itu merambat dari kening, turun ke hidung mancungnya dan jatuh pada belahan bibirnya.
Sakura tahu, ketika matahari terbit. Dia akan kehabisan waktu untuk memandangnya. Waktu untuk memandang apapun, waktu untuk merasakan apapun, waktu untuk menghembuskan nafasnya.
Jadi Sakura ingin menikmati malam ini. Malam terakhir di tujuh belas tahun hidupnya.
"Bisakah aku memintamu melakukan sesuatu?"
Pemuda itu menatap Sakura dengan pandangan tak terbaca. Tidak mampu lagi membayangkan apa yang ada di dalam kepala kecil yang tertutup helaian merah jambu yang indah.
Namun selintas kenangan orang-orang yang mati di tangan mungil itu, membuatnya mengeratkan genggaman pada selimutnya membulatkan tekad.
Bagaimana jika gadis itu meminta melepaskannya. Yang berarti kegagalan misinya dan dendam orang-orang yang disayanginya?
Atau yang lebih buruk, gadis itu meminta nyawanya dan membunuhnya seperti dia membunuh seluruh anggota keluarganya.
Sakura melihat keraguan di matanya. Dan Sakura tersenyum dengan tipis, lembut dan indah. Satu-satunya hal paling indah yang pemuda itu pernah termui di dunia ini. Dan seakan terhipnotis, pemuda itupun mengangguk.
"Ini akan jadi permintaan terakhirku." Ungkap Sakura tulus. Sama sekali tanpa beban dan ketakutan akan fakta dimana pemuda itu akan segera mengambil nyawanya.
Pemuda itu tanpa sadar menahan nafas, menahan denyut hatinya yang semakin perih dan rasa menyengat dimata. Seakan kata-kata itu menyadarkannya akan realita. Bahwa tidak akan ada waktu yang cukup untuk esok hari. Untuk mereka karena memang tidak pernah mereka di takdirkan untuk itu.
Sakura tersenyum dalam damai dan mulai memejamkan mata. Menarik selimut sebatas lehernya seolah bersiap untuk tidur dan melewati mimpi yang sangat panjang.
"Aku ingin kau menceritakan apa yang ada di luar sana. Aku berharap bisa melihatnya meski itu lewat matamu. Lalu nyanyikan aku lagu twinkle-twinkle."
Pemuda itu terkesiap, sama sekali tidak menyangka akan permintaan terakhir sang putri yang jauh dari perkiraannya. Masih menatap wajah yang terpejam dalam damai itu. Hingga setetes air mata tidak bisa lagi dia tahan.
Pemuda itu tidak berusaha untuk mengusapnya. Membiarkan air mata itu jatuh pada bantal berisikan bulu angsa yang lembut.
Gadis ini hanya menginginkan permintaan sederhana. Ingin melihat dunia yang tidak pernah dan tidak akan pernah di lihatnya. Hanya sebuah permintaan sederhana yang tulus, murni dengan hati seputih kapas meski tangannya berlumuran darah.
Hanya itu yang dia inginkan. Hanya sebuah permintaan yang tidak sulit untuk dilakukannya.
Namun pemuda itu tercekat, dengan suara bergetar. Seolah pisau sedang di telannya. Seolah semakin dia membuka suara semakin dia memperpendek pertemuan mereka.
Namun dia berusaha. Hanya sebuah permintaan sederhana. Dan dia akan mengabulkannya meski itu untuk terakhir kali untuknya.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rapunzel
FanfictionDi negara antah brantah. Dimana seorang putri terkurung di sebuah kastil. Di menara tinggi yang tidak ada seseorang bisa menjangkaunya. Membebaskannya.
