Sepuluh

803 93 11
                                        

Sepasang sepatu converse berwarna hitam menuju coklat karena sudah memudar warnanya itu masuk melewati pintu kaca mall

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepasang sepatu converse berwarna hitam menuju coklat karena sudah memudar warnanya itu masuk melewati pintu kaca mall. Pemiliknya baru saja secara impulsif mengajak seseorang bertemu hari ini. Dengan jaket jeans yang biasa dia kenakan, dengan langkah ragu dia menelusuri setiap sudut mall itu.

Dia masih tidak percaya dia mengajak bertemu seorang gadis yang belum lama ia kenal, maaf, maksudnya memang tidak terlalu dia kenal.

Dia bersumpah, jika rasa bosan memiliki efek samping, salah satunya adalah bertemu dengan orang setengah asing secara tiba-tiba. Tapi semua itu tidak penting, karena gadis itu sudah menyetujui ajakannya, meski dia merasa gadis itu pasti juga sama ragunya dengan dia. Sepertinya hanya tidak enak menolak atas dasar sopan santun. Karena terakhir mereka bertemu, gadis itu tidak sengaja menumpahkan kopi di buku catatannya.

Dia masih ingat, bagaimana wajah panik gadis itu saat menyadari dia meminum kopi dari gelas yang salah. Bukan salahnya juga memang, tapi tetap saja, situasi saat itu antara lucu atau juga menyebalkan, bagaimana pun bukunya adalah korban, terlebih lagi itu adalah buku catatan berisi prosa dan cerita-cerita pendeknya. Baginya buku itu seberharga apapun yang dia miliki di dunia ini, karena hanya buku itu yang dia punya.

Surya melewati sebuah pilar yang dikeliling kaca di setiap sisinya, dia berhenti sejenak, membetulkan rambutnya yang kian menebal, terakhir kali dia potong rambut sekitar dua bulan lalu. Surya membetulkan juga lipatan lengan jaket jeansnya. Untuk sesaat dia terhenyak, untuk apa aku tampil terlalu rapi?

Surya tidak menggubris pikirannya sendiri, segera ia menuju salah satu kafe tempat mereka berjanji hari ini, gadis itu mengabarinya lewat whatsapp mengenai lokasi pertemuan, gadis itu sampai duluan, sedikit membuat Surya merasa tidak enak karena membuat orang lain menunggu. Sebagai orang yang selalu tepat waktu jelas itu menganggunya.

Matanya memperhatikan satu persatu orang yang ada di situ, karena akhir pekan sepertinya setiap sudut mendadak terisi. Matanya berhenti pada sosok yang dia kenal, gadis berambut sebahu dengan turtle neck hitam melekat di badannya. Sebuah laptop menutupi hampir setengah wajahnya jika dilihat dari depan. Surya melangkah menuju gadis itu.

Gadis itu sepertinya sedari tadi fokus dengan apa yang dikerjakannya sehingga tidak menyadari keberadaan Surya di hadapannya. Suara keyboard beradu dengan jari-jarinya terdengar hingga ke kuping Surya.

"Hai, Kiara." Surya akhirnya memanggil nama perempuan itu. Yang dipanggil refleks menengok ke sumber suara. Raut wajahnya menunjukan kebingungan, masih sama seperti pertama kali mereka bertemu.

"Eh.. Surya? Hai?" nada canggung tidak bisa disembunyikan Kiara.

Keduanya saling bertatapan, seolah saling memiliki tanya yang menunggu untuk diungkapkan.

*

"Silakan kak, americanonya..." ucap pelayan seraya menyimpan segelas americano di samping Surya yang kini sudah duduk di hadapan Kiara. Kiara baru saja menutup laptopnya dan memasukannya kembali ke tas, selain karena pekerjaannya sudah selesai, supaya meja yang tidak terlalu besar ini jadi lebih luas untuk mereka berdua.

Sunny DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang