Bab 1

30 3 0
                                    

Ada sebuah buku usang dibalik baju-baju mama. Sejak kapan mama menyukai membaca atau menulis. Yang kutahu mama lebih menyukai membuat kue atau menonton film. Aku jadi tergerak ingin mengambilnya, tapi itu hal tidak sopan dilakukan, mengambil milik orang lain tanpa sepengetahuannya. Tapi aku tidak mengambilnya, hanya ingin membacanya. Setelah itu akan kukembalikan lagi. Saat aku ingin mengambilnya terdengar suara mama memanggil dari dapur.

"Fatih, ayo makan, masakan sudah matang, cepat ambil kan hp mama diatas meja rias!

"ia ma, bentar" ucapku dan melupakan untuk mengambil buku biru itu, mungkin sekarang bukan saat yang tepat.

"Lama sekali ka" ucap Nura adikku sambil membuka kamar mama

Aku segera ambil hp mama dan bergegas keluar bersama Nura. Aku berlalu dari kamar mama, tapi aku masih penasaran dengan buku bersampul biru itu. Tapi segera kubuang keinginan itu, apa yang tertulis di buku itu paling hanya resep masakan atau kisah cinta mama papa yang sangat indah pastinya. Mengingat mereka berdua adalah pasangan paling serasi, paling tidak itulah yang sering aku dengar dari saudara, nenek kakek, tetangga dan semua teman mereka berdua. Jadi tidak ada hal penting yang tidak kuketahui, semua sudah mama papa sering ceritakan padaku. Seperti mereka adalah sama-sama menarik, pintar dan menjadi primadona kampus. Walaupun mama hanya memiliki toko kue kecil, tapi sebenarnya mama cukup pintar, jika dilihat dari raport dan pencapaiannya selama sekolah, tidak jauh berbeda dengan papa. Mama bisa saja menjadi wanita karir, tapi papa dengan rasa kasih sayang selalu melarang mama bekerja, karena bagi papa, cukup papa yang kerja keras mencari nafkah, karena papa ingin saat papa pulang ke rumah, mama bisa melayani papa dengan baik. Jadi mama akan selalu memiliki banyak waktu untuk rumah dan anak-anak yang telah menjadi tanggung jawab mama, saat papa bekerja. Dan lihatlah kami sekarang tumbuh menjadi anak yang penuh kasih sayang orang tua, cukup bisa dibanggakan. Itulah yang memotivasi dan membuat aku semangat belajar dan berhasil dalam pendidikan juga pekerjaanku saat ini. Aku ingin menjadi lelaki kebanggaan mama papa, keluarga dan tentunya untuk Biru, Arrum Biru Yunanda, calon isteriku, yang telah kulamar sebulan yang lalu. Akupun sama seperti papa yang akan menyuruh Biru untuk memiliki banyak waktu dirumah, kulihat dia suka menjahit, maka akan kubuatkan butik kecil untuknya, agar dia bisa tetap menyalurkan hobinya sambil bisa mengurus ku dengan kasih sayang, aku dan anak-anakku nanti maksudnya. Jika mengingat Biru, aku merasa ingin segera menghubunginya, bertanya kabarnya hari ini, tapi aku tak mau terlalu intens dengannya sebelum menikah, bersabarlah Fatih, gumamku dalam hati. Tanpa kusadari dari tadi, mama sedang memperhatikan ku, karena aku tak segera menyentuh makanan kesukaanku.

"fatih, kenapa soto nya nggak enak ya, ko belum dimakan?

"enak ko ma, jawabku sambil segera mencicipi soto yang telah tersaji didepanku

"ngelamunin Biru ya kamu, sampai makanan kesukaanmu kamu anggurin begitu

"haahhaaaha, mama ko tau sih" jawabku sambil terus mengunyah makanan.

"dasar kamu, sebentar lagi juga kamu bisa bertemu dia setiap hari." ucapnya

"nggak ma, aku cuma lagi bayangin Biru pakai baju pengantin yang panjang, gimana ya pasti lucu ma, ucapku sambil tertawa

"iih ka Fatih tega banget ya, ntar aku bilangin ka Biru deh" ucap Nura

Aku hanya mencibirkan bibirku pada Nura, dan mama hanya tersenyum sambil menyiapkan makanan untuk papa, karena papa telah keluar dari kamar mandi, dan akan bergabung dengan kami.

"Lucu apa nya, Fatih? tanya papa

"nggak pa, cuma becanda. Ucapku sambil merapikan piring dan gelas yang telah selesai kugunakan untuk makan.

"ia pa, jahat tuh ka Fatih masa Ka Biru yang cantik dibilang lucu pas pernikahan." sambung Nura

"Kakak juga tahu Biru memang cantik, tapi kan dia fans Harry Potter, gaun para penyihir saat menikah pasti aneh, ucapku coba berkelit sambil tersenyum menang pada Nura

Papa hanya geleng -geleng kepala lalu bertanya pada mama tentang persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan 5 bulan lagi. Aku beranjak mencuci piring ku, (aku diajarkan dari kecil selalu mandiri, jadi aku terbiasa melayani diriku sendiri, seperti cuci piring, baju, setrika, membersihkan kamar, dan memasak... Memasak juga salah satu keahlianku. Banyak macam-macam masakan yang aku kuasai. Tapi aku psling bisa memasak telur dadar dan mie rebus, setidaknya jika kepepet saat mama pergi aku tidak pernah kelaparan.Aku memang cowok idaman wanita, selain pintar, cukup tampan dan mapan, aku juga bisa diandalkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga.
...krik...krik...garing kata Naura jika aku memuji diri sendiri.

Setelah mencuci piring dan gelas. Aku lalu bergegas ke kamarku lagi, melanjutkan tidurku. Ini adalah hari minggu, aku libur bekerja. Seperti biasa aku hanya habiskan waktu liburku dirumah, bermalas-malasan dengan setumpuk buku yang aku selalu targetkan harus kubaca. Namun, entah hari ini aku sangat lelah dan ingin tidur. Maka kuacuhkan buku-buku targetku yang tersusun, beralih ke handphone ku. Lalu berapa menit kemudian, saat ku ingin mengambil handphone ku, terdengar suara mama sambil membuka kamarku.

"fatih, jaga rumah ya, mama papa dan Nura mau ketoko" ucap mama

"ia ma, jawabku singkat
Setelah membalas chat yang masuk di media sosial, aku lanjutkan bermain game. Aku ingin rileks hari ini, setelah seminggu yang lalu ada kegiatan kampus yang sangat menyita waktuku. Ku mainkan salah satu game favorit ku, tak terasa aku mulai ngantuk dan tertidur saat bermain game. Karena aku bukan gamer sejati. Aku tak pernah bisa berlama-lama main game, karena rasa kantuk akan menyerang ku saat asyik main game. Berbeda saat membaca Alquran, aku bisa begadang sampai malam. Itulah yang membuatku berbeda, kata-kata Biru yang selalu teringat, mungkin serupa pujian bagiku. Aku berbeda...tentu saja Bie..

Dan saat ku terbangun lagi, hari sudah sore. Aku bergegas shalat ashar lalu mandi, aku ingin nongkrong sebentar di toko kue mama, diujung komplek rumahku. Saat selesai mandi, entah darimana datangnya keinginan untuk melihat kembali buku bersampul biru itu. Bagaikan sihir, buku itu mampu membuatku telah berada dikamar mama papa, dan buku itu ada disana, ditengah tengah tumpukan baju mama. Kuambil buku itu yang seperti agenda, atau buku harian.

Kubuka lembar pertamanya.
Maret 1992

Hari ini hari pernikahan kami, aku sangat bahagia.....

Aku tak meneruskan membacanya, karena aku sudah tahu itu hari pernikahan mama papa. Benarkan dugaanku ini kisah cinta mama papa yang aku sudah hafal seperti ku hafal perkalian 1sampai 10. Ada yang terjatuh dari dalam buku itu, saat ku ingin menyimpan buku itu kembali dilemari, ada selembar foto, bukan gambar seseorang, hanya sebuah danau yang dikelilingi pemandangan indah, dibelakangnya tertulis, untuk Biru yang selalu dihatiku. Tertulis dari Yunanda. Siapa Biru? Dan siapa Yunanda.

Mulai saat itu aku selalu bertanya-tanya ada hubungan apa mama dengan orang yang bernama Yunanda. Lalu siapa Biru yang dimaksud orang itu. Bukankah Biru nama calon istriku. Seingatku ayah Biru bernama Imran Gozali. Tapi kenapa nama yang tertulis di lembar foto itu mirip dengan nama belakang calon istri ku, Arrum Biru Yunanda. Ini benar-benar membuatku ingin menanyakan nya pada mama, tapi kenapa mama tak pernah menceritakan tentang orang itu selama ini. Aku takut mama malah jadi sedih bila ku menanyakannya, karena pasti ada alasan dia tak pernah menceritakannya padaku dan Nura. Kami bertiga sangat dekat layaknya sahabat, mama, aku dan Nura, selalu bercerita tentang sahabat kami dan semua yang berkesan dihati kami. Maka biar ku cari tahu sendiri siapa orang itu. Lalu bayang- bayang Biru yang tadi berputar-putar bagai gasing diatas kepalaku kini memudar berganti wajah biruku, pujaan hatiku, yang begitu teduh meneduhkan jiwa hingga ku terlelap









Kisah BiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang