Pesan WhatsApp dari Biru membuyar kan fokus ku saat sedang mengoreksi tugas para mahasiswa dikantor dosen. Aku mendapat predikat cumlaude saat lulus kuliah, dan saat kuliah aku cukup dekat dengan dosen jurusan sastra Inggris, maka aku disarankan mengikuti tes lalu Alhamdulillah aku lulus ujian seleksi asdos, maka sejak saat itu bisa menjadi assisten dosen. Aku cukup bangga dengan hal itu, tentu mama papa dan adikku juga bangga. Hal itu yang membuatku tidak perlu repot mencari pekerjaan lagi setelah lulus kuliah dan kini aku menjadi salah satu dosen dikampusku. Isi pesan dari Biru menyatakan agar aku menemuinya dirumah sepulang dari mengajar dikampus. Kenapa dia ada dirumah saat ini dan apa dia tak kuliah hari ini? Biasanya hari ini dia kuliah sampai sore. Hari ini jadwal mengajar ku hanya sampai duhur. Aku dan Biru biasanya setiap hari ertemu saat akan shalat duhur dikampus. Aku dan dia kuliah dikampus yang sama, bedanya kini aku sudah lulus dan menjadi dosen dan Biru masih menjadi mahasiswi semester akhir.
Aku segera membalas pesannya, menyanggupi keinginannya dan sekaligus bertanya alasannya kenapa masih ada dirumah saat ini.
Tak berapa lama dia menelponku,
"Assalamualaikum? ucap Biru
"Waalaikumusalam. " Balasku
"Ada hal penting yang mau aku ceritakan ke ka Fatih, tentang keluarga ku. Sambung Biru
" Ia , nanti Kaka kesana pulang ngajar ya.
" Kamu nggak kuliah ?tanyaku
" Nggak, lagi males sedih. Ucapnya manja
" Kenapa Biru? Bentar lagi kamu kan mau nyusun skripsi kan? Masa sering bolos.
"Ia, maaf . Tapi aku benar- benar lagi sedih.
" Ya udah, nanti aku kesana ya" jawabku singkat untuk mengakhiri telpon ku
Ada apa dengan keluarganya, sampai Biru sangat sedih dan malas kuliah hari ini, setahuku dia anak yang rajin kuliah walaupun tidak terlalu bagus akademiknya.Saat dirumah Biru, hanya ada pembantunya saja, yang menyambutku didepan pintu rumahnya. Biru dari kecil diasuh oleh pembantunya, ayah bundanya sama- sama bekerja di kantor. Hal itu yang membuat Biru iri padaku dan Nura, yang memiliki banyak kenangan indah masa kecil bersama mama, yang tentu saja mama ku memiliki banyak waktu untuk menemani fase-fase pertumbuhan kami dengan sangat baik, mulai dari mengajarkan semua pelajaran, mendongengkan sebelum tidur, mengantar ke sekolah ( hanya sampai SD saja untukku, kecuali Nura sampai SMA), memecahkan semua masalahku, bahkan menjadi sahabat berbagi cerita, dia yang melakukannya semua untukku,bagi aku dan Nura mamaku lah juaranya. Setelah bi Lulu mempersilahkan aku masuk, kudengar salah satu pintu kamar dibuka, dan kulihat Biru menghampiriku sambil tersenyum. Lalu dia berbalik ke arah dapur dan membawakanku minuman.
" Assalamualaikum, ka Fatih? Ucapnya lembut
" Waalaikumusalam" jawabku
Dia lalu duduk diujung kursi berseberangan dengan kursi yang kududuki.
"Kamu mau cerita apa, katanya lagi sedih?tanyaku sambil menatapnya yang sedang menunduk.
" Bunda, masa menyembunyikan tentang siapa ayahku yang sebenarnya selama bertahun-tahun.
" Memangnya ayahmu yang sekarang bukan ayahmu? Tanyaku sangat kaget
" Bukan, dia suami mamaku yang kedua."
"Kata mama, suami pertamanya meninggalkannya karena belum bisa move on dari pacarnya yang dulu. Lalu hubungan mereka tambah sulit disatukan kembali karena mama sibuk bekerja dan melampiaskan kekecewaannya dengan sibuk bekerja. Lalu mereka berpisah. Saat aku baru berusia 8 bulan. Setelah itu mama menikah dengan ayah ku kini. Aku tak pernah tahu kebenarannya sampai kemarin mama bercerita agar aku menemuinya di Bandung, untuk menjadi waliku saat menikah." Ucap Biru sambil menatapku sendu
Aku cukup kaget mendengar penjelasannya. Lalu tiba- tiba aku teringat satu nama, Yunanda.
" Siapa nama ayahmu, Biru? Tanyaku sambil berharap jangan nama itu yang dia sebut
"Yunan kata mama, Yunanda lengkapnya. Jawab Biru
Aku tak tahu apa ini sebuah benang merah yang akan menyambungkan sebuah jawaban dari pertanyaan-tanyaan ku beberapa hari ini. Atau hanya sebuah kebetulan saja. Tapi itu tak mungkin, banyak orang memiliki nama yang sama, batinku menolak mempercayainya.
"Kisah hidup orang berbeda-beda Biru, tapi bukan berarti kamu harus terus bersedih, bukankah bagus kamu mengetahui nya sekarang, jadi kamu bisa ada waktu untuk mengenalnya sebelum dia menjadi wali pernikahanmu." Ucapku menghiburnya
" Tapi aku kecewa mengapa bunda tidak pernah bercerita hal itu padaku.
" Tidak ada kisah yang sempurna dan begitu pula tak ada manusia sempurna.
Biru hanya mengangguk, lalu menyuruhku meminum teh yang dia buat untukku.
Aku meminumnya, setelah itu aku bertanya lagi
" Kapan kamu mau menemui ayahmu?
" Nggak tahu, mungkin sebelum aku menyusun skripsi
" Lebih cepat lebih baik." Saranku padanya.
"Mau kan antar aku kesana, tapi sama Nura kok, nanti aku yang kabari dia" tanyanya
" Ia, tapi kaka lihat jadwal ngajar dulu ya, kalo udah fix, Kaka kabari kamu."
" Makasih ka Fatih" jawab Biru sambil menengok ke arah bi Lulu yang sedang berjalan menghampiri kami
Ternyata bi Lulu menyuruh kami berdua menyuruh kami berdua makan siang, karena masakan telah matang. Kami makan bertiga, bi Lulu sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Bahkan seperti nenek bagi Biru, mengingat usianya yang sama seperti nenek Biru. Ingin rasanya tetap menemani Biru dirumahnya, tapi aku masih banyak kegiatan yang harus kulakukan sebagai seorang dosen dan rasanya tidak baik berlama-lama dirumah wanita yang belum sah menjadi istriku, itu pesan mama, khawatir menimbulkan fitnah. Maka setelah makan aku segera pamit pulang kepada Biru.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Biru
RomanceAku, Alfath Adam, biasa dipanggil Fatih, seorang lelaki yang beranjak dewasa, yang dibuat bingung dengan sebuah foto yang terjatuh dari buku harian bersampul biru milik mamaku. Seperti ada ikatan yang menyambungkan kisah lama dan saat kini, antara m...