Ada 2 panggilan tak terjawab dan beberapa pesan WhatsApp dari Biru yang belum ku baca sepulang dari masjid. Aku sudah tahu inti pembicaraannya, pasti seputar pernikahan kami yang tidak jadi diadakan tahun ini, setidaknya sampai Biru bekerja.
" Assalamualaikum, ka Fatih
" Biru minta maaf ya nggak bisa meyakinkan bunda untuk tetap melangsungkan pernikahan ditahun ini.
Aku tak tega membuatnya sedih jika tak segera membalas pesannya.
"Waalaikumusalam, Bie
"Sabar, Bie. Nanti kakak bicara sama bunda ya. Allah selalu bersama orang yang sabar.
Aku simpan ponsel ku dan segera tidur, dan wajah biru mulai hadir menyelimutiku dengan caranya yang meluntur kan segumpal kekecewaan hari ini.Bunyi alarm pada ponselku membangunkanku untuk shalat tahajud. Kulihat jam tepat menunjukkan angka 3. Aku duduk beberapa menit sebelum berdiri ke arah kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai shalat aku hendak melanjutkan tidurku sebelum azan subuh menggema, namun terdengar ayah sedang membaca Alquran dikamarnya yang tepat disamping kamarku.
Alih alih tidur lagi, aku malah membuka laptop dan mulai mencari...Fatih...Fatih...
Kakak...kakak....
Terdengar suara mama dan Nura membangunkanku dari kebiasaan baruku tertidur sambil duduk disamping laptop...Aku harus bergegas ke kampus. Untuk mengajar bukan untuk yang lainnya ...tidak lagi untuk nya Fatih...apakah bisa? Fokus kan masa depanmu dulu...itulah yang dia mau...bukan tapi itu yang orang tuanya mau...aku jadi sering berbicara pada diri sendiri kini...entahlah...aku hanya butuh seseorang yang bisa memahami ku. Bukan berarti dirumah tak ada lagi yang bisa memahami ku namun mereka cukup rentan jika kuajak membahas hal ini lagi.
Tak seperti biasa nya, Biru tersenyum menyambutku datang, seperti nya dia sudah lama menunggu ku.
Assalamualaikum, kak
Waalaikumusalam,bie
Tumben telat kak..timpalnya sambil senyum merajuk
Kakak nggak ada jam ngajar pagi hari ini,bie ! Aku senang dia memperhatikanku, walaupun aku tahu sebentar lagi akan ada berita yang mungkin akan menghapus senyumnya
Kak..! Ada yang mau biru ceritakan...
aku sengaja tak memberikan ia kesempatan menjelaskan, karena tak ada gunanya saat ini dan tidak dikpus pula. Aku jawab seperlunya saja biarlah dia kecewa, tapi ini yang harus aku lakukan saat ini.
"Tentang itu yang kamu SMS kan ke kakak semalam kan? Insyallah, Kaka ikhlas Bie... keajaiban jodoh itu tidak ada yang bisa menandinginya Bie...percayalah!" Sambil mencoba tersenyum agar dia tak terlalu kecewa.
"Kamu mending masuk kelas sana, kakak tahu bentar lagi kamu...
Biru menyela ucapanku dengan membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan ku, hanya berpamitan dengan mengucapkan salam lirih hampir tak terdengar. Rasa sepi hadir menyelinap perlahan kini diantara ramainya hiruk pikuk parkiran kampus..sendiri...ya memang seharusnya seperti ini diantara kami, ucapku dalam batinku, agar kami bisa menenangkan diri. Tapi apakah sikap dan kata kata ku tadi telah melukai hatinya...

KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Biru
RomanceAku, Alfath Adam, biasa dipanggil Fatih, seorang lelaki yang beranjak dewasa, yang dibuat bingung dengan sebuah foto yang terjatuh dari buku harian bersampul biru milik mamaku. Seperti ada ikatan yang menyambungkan kisah lama dan saat kini, antara m...