Suasana terus berubah. Makhluk seram itu kian menghilang. Aku menuruni tangga menuju ruang tamu. Lampu yang terpajang diatas terus bergerak berayun-ayun seolah tak mau berhenti. Aku terus berjalan menuju ruang tamu itu. Ada beberapa foto Taeyong yang dipajang diatas dinding ruang tamu. Mulai foto masa kecilnya hingga fotonya tahun ini saat ia mengenakan jas hitam, kemeja putih yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu kecil berwarna hitam.
Ada begitu banyak memori yang tersimpan di tempat ini. Teringat aku akan masa kecilku dulu saat tengah bermain kejar-kejaran dan petak umpet di tempat ini. Saat aku dan Taeyong asyik mengerjakan tugas melukis yang diberikan oleh guru dulu. Aku masih sangat ingat saat itu ia melukis sebuah burung yang berwarna merah. Ia mengatakan bahwa merah adalah warna kesukaannya karena baginya warna merah adalah lambang dari keberanian.
Aku mengambil salah satu foto Taeyong yang ada disitu. Aku mengelap debu yang menempel kemudian memeluknya erat. Aku merindukan sosok berdasi kupu-kupu itu. Sosok yang selalu menemaniku saat suka dan duka dulu. Terlebih saat masih era sekolah. Aku selalu pergi ke sekolah bersamanya setiap hari.
Aku tidak menyangka bahwa ia telah pergi meninggalkanku. Aku ingin sekali menghabiskan waktuku sama seperti dulu ketika ia masih ada disini. Bersenda gurau bersama dan melakukan hobi bersama-sama. Aku dan dia dari dulu memiliki hobi yang sama yaitu menyanyi. Ia pun dulu pernah bercerita bahwa ia ingin sekali menjadi seorang penyanyi terkenal seperti Lee Min Ho.
Tiba-tiba wush! Angin berhembus dengan sangat kencangnya hingga menjatuhkan semua foto yang terpajang di dinding. Semuanya rusak berantakan. Kaca yang menghiasi foto-foto Taeyong telah hancur lebur dan foto yang berada di dalamnya juga ikut sobek dan tergores. Dan kemudian muncul tetesan darah setetes demi setetes dari arah langit-langit yang mengenai mata Taeyong seolah-olah ia tengah menangis darah dalam foto itu.
Aku memandang keatas dan aaa! Ada suatu makhluk menyeramkan berkulit putih pucat, rambut keriting dan wajah yang super menyeramkan dengan matanya yang belo penuh akan darah. Ia menempel di atas langit-langit rumah Taeyong. Ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan hendak melompat kearahku.
"Aaaa!"
Aku lalu berlari dengan cepat menyusul teman yang lain yang entah mereka berada dimana. Aku benar-benar sendirian disitu. Aku tidak menemukan keberadaan Namjoon dan yang lain. Aku serasa sendirian tanpa seorang pun disisiku.
Suasana semakin dingin dan gelap. Ditambah turun hujan lebat diluar sana yang membuat suasana menjadi tambah seram. Lampu yang mulanya menyala kini mati. Tap! Gelap gulita. Aku tak bias melihat apapun disini. Aku berjalan dengan berpengangan pada sebuah meja yang ada di sampingku sembari meraba jikalau ada lilin disana. Tidak ada. Aku kemudian mengambil ponselku dan menyalakan flash nya.
Aku menoleh ke belakang. Makhluk itu tengah merangkak mengikutiku sembari terus menjulurkan lidah panjangnya. Ruangan gelap nan hitam itu kemudian terbuka. Tampak bayangan hitam misterius di dalamnya yang tengah membopong sebuah raga. Aku terdiam sejenak. Aku melihat sosok itu dengan sangat jelas. Aku mengenal sebuah raga yang dibopong oleh makhluk bayangan hitam itu.
Sosok bayangan hitam itu tengah membawa seorang Taeyong dalam genggaman tangannya. Ku lihat orang yang mirip dengan Taeyong itu masih menutup matanya dan mulutnya mengeluarkan darah. Rambutnya benar-benar mirip dan pakaian yang ia gunakan juga sama persis seperti pakaian yang dipakai oleh Taeyong saat terakhir kali aku melihatnya.
Aku tidak sadar bahwa kini makhluk berkulit pucat itu telah berada disampingku dan mencoba untuk menerkamku. Ia menyeret kakiku dan aku berusaha keras untuk melepaskannya. Namun, aku terjatuh dan kepalaku terbentur lantai hingga berdarah. Sosok itu kemudian menyeretku masuk ke dalam ruangan gelap nan hitam itu bersama sosok bayangan hitam yang kulihat membawa seseorang yang sangat mirip dengan Taeyong.
Aku terus berusaha untuk melepaskannya namun genggaman makhluk itu semakin kuat. Aku semakin tak berdaya. Aku semakin tak mampu untuk menggerakkan ragaku. Rasanya seluruh tenagaku telah habis untuk melawan jeratan tangan makhluk yang kuatnya luar biasa ini.
"Ttttt...ttto...lll...oong..."
Aku terus berusaha melepaskannya meski napasku mulai terengah-engah. Oksigen serasa habis. Aku serasa tidak lagi mampu bernapas. Kepalaku sangat berat dan sakit sekali bagai dihantam benda yang keras. Aku mencoba untuk terus berjuang menyelamatkan diri atau aku akan berakhir binasa dengan nasib yang tragis. Namun, saying sekali. Semua usahaku itu sia-sia mengingat kekuatan makhluk itu yang sangat luar biasa. Hidungku pelan-pelan meneteskan darah. Aku mimisan. Darah it uterus berceceran di setiap jalan yang aku lewati. Aku semakin melemas. Hingga akhirnya semuanya berubah menjadi hitam pekat.
* * *
Aku terbangun. Kepalaku masih begitu sakit. Aku merasa aku baru saja mengalami mimpi buruk. Tapi, tidak. Ini semua nyata! Aku terbangun di sebuah ruangan asing yang begitu gelap dan lembab. Tidak ada cahanya sama sekali disini. Aku membuka ponselku kemudian menyalakan flashnya. Aku begitu terkejut saat mendapati sosok yang mirip dengan Taeyong berada di sebelahku. Kondisinya penuh akan luka. Ia mengalami luka sayatan di pipi, mulut, hidung, mata dan juga bagian tubuh yang lain. Baju putihnya telah berubah warna menjadi coklat kemerahan akibat tetesan darah dan juga kotoran tanah yang menempel. Aku sentuh tangan sosok itu. Dingin. Terdapat banyak luka sayatan dan tusukan disana.
"Apakah benar dia adalah Taeyong? Dia sangat mirip sekali dengan Taeyong. Dan baju yang dia kenakan pun sama dengan baju yang dipakai oleh Taeyong saat terakhir kali aku bertemu dengannya di rumah ini."
Jika ini benar-benar Taeyong, aku ingin sekali memeluknya. Kondisinya begitu memprihatinkan. Ia mengalami banyak luka hamper di seluruh bagian tubuhnya. Wajahnya yang berseri pun berubah menjadi pucat seperti mayat. Aku buru-buru meraba pergelangan tangannya dan mengecek detak jantungnya. Masih hidup. Hanya saja ia belum sadarkan diri.
Aku kemudian memeluk sosok itu. Aku yakin itu adalah Lee Taeyong yang merupakan teman masa kecilku dulu. Air mataku terus berjatuhan dan membasahi rambut Taeyong. Aku benar-benar tidak tega melihat kondisinya yang begitu buruk. Aku tidak bias membayangkan betapa sakit yang ia rasakan. Pasti sakit sekali. Melihatnya saja aku jadi ingin menangis, bagaimana dengan yang merasakannya?
"Taeyong, jika ini benar-benar kau, tolong buka matamu." Gumamku seraya mengelus kepala Taeyong dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Kosong
FanfictionSebuah cerita misteri penyebab dimutilasinya Ibunda Lee Ji Eun, ruang kosong dan berbagai kasus misteri sekaligus horror yang akan disajikan dalam satu buku.
