1

33 4 0
                                    

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Zelyn masih berkutat dengan laptopnya. Ia bukan maraton nonton drama melainkan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Padahal tugas itu masih dikumpulkan Minggu depan.

Zelyn tergolong siswi yang cerdas dan suka berbaur dengan sesama, pembawaan dirinya yang supel dan periang menjadikannya banyak teman di sekolahnya.

"Non, udah malam tidur ya tugasnya dilanjut besok aja. Simbok buatkan susu dulu." ujar Mbok surti, pembantu di rumah Zelyn.

"Iya mbok. Kok mbok belum tidur? Udah malem lho." Tanya Zelyn pada Mbok Surti.

"Tadi udah tidur, terus kebangun nah liat lampu kamar non Zey belum dimatiin mbok liat aja, eh ternyata bener non belum tidur." Kata mbok Surti. ''ohh." Jawab Zay singkat.

"Yaudah mbok buatkan susu," pamit mbok Surti.

Setelah meminum susunya Zay langsung melangkahkan kakinya menuju tempat tidur berukuran queen size. Ia mematikan lampu kamarnya dan ia melihat langit-langit kamarnya yang terdapat stiker glow in the dark berbentuk beberapa tadi bintang. Setelah beberapa menit melihat langit-langit kamar, Zay mulai memejamkan matanya.

Pukul 06.00 Zay sudah siap dengan pakaian sekolah, ia segera turun untuk sarapan bersama. Saat sampai dibawah harapannya hilang saat melihat mobil yang dikendarai mama dan papanya sudah melesat meninggalkan rumahnya. Padahal tadi malam Zay berniat untuk menunggu orang tuanya pulang tapi sampai tertidur ia tidak melihat kedua orang tuanya. Saat pagi ia ingin menikmati kebersamaan sarapan ia juga tidak bisa merasakannya karena orang yang ditunggu sudah berangkat.

"Eh non Zay, sarapan dulu non. Mau Masi goreng apa roti?" Tanya mbok Surti. Orang yang selalu menemani Zay dari kecil saat ia ditinggal orangtuanya.

"Roti aja mbok. Tolong nanti nasi gorengnya buat bekal aja ya mbok." Ucap Zay sambil mengunyah roti.

"Iya non." Ucap mbok Surti sambil berjalan kebelakang mengambil kotak makan dan mengisinya dengan nasi goreng, sosis, dan telor mata sapi.

"Ini non."

"Makasih mbok. Berangkat dulu yaa," pamit Zay pada mbok Surti.

___________

"Zayyy akhirnya elo datang juga." Jerit salah satu temannya yang langsung mengekor Zay dari belakang.

"Buku warna biru." Ucapnya sambil berlalu meninggalkan kelas.

"Gini nih orang paling peka, gak diminta aja dikasih." Celetuk Juno si ketua kelas.

"Iya nih."

"Eh kedondong! Sinonim bukunya, dikira lo doang apa yang belum kita-kita juga kali." Ucap Zico si biang rusuh di kelasnya yang sudah menggandengkan beberapa meja jadi satu agar mudah menyalin tugas bareng-bareng.

"Ntar, gak liat apa kalo lagi jalan." Dumel Ran.

"Lah kemana perginya si Zay?" Tanya salah satu temannya yang melihat tas Zay tapi tidak melihat Zay di bangkunya.

"Biasa masih jam segini paling lagi di taman." Jawab Zico.

"Udah ngerjain tugas apa belom. Nih salin punya gue baik hati kan?" Ucapnya pada Ran.

"Halah paling juga elonya nyalon punya Zay. Gak yakin gue otak pas-pasan kaya elo ngerjain kek gini." Cibirnya sambil menerima buku dari Zico.

"Hallah gitu juga diminta bukunya."

"Bacot Lo."

Dilain tempat Zay sedang melihat orang yang berlalu-lalang di koridor dan halaman sekolah. Tatapannya tertuju pada seorang cowok yang memasuki gerbang dengan motor sportnya. Ia merasa baru pertama kali melihat cowok tersebut. Mungkin murid baru, batinnya.

Jam 7 saatnya masuk kelas. Zay langsung meninggalkan taman dan menuju kelasnya, saat berjalan ia bertemu cowok yang tadi ia lihat di gerbang.

"Hy, Kamu." Panggilnya tapi tidak dihiraukan Zay.

"Hy, Yang pakek bando biru." Ucapnya lagi. Karena merasa diri Zay terpanggil ia langsung menoleh kebelakang.

"Mau tanya dong ruang kepala sekolah dimana?" Tanyanya.

"Lurus, belok kiri. Ruang paling ujung." Jawabnya sambil pergi.

"Boleh anterin?" Pintanya.

"Repot Lo. Ayok." Zay langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah.

"Permisi pak, ada yang mau ketemu." Ucapnya pada Kepala sekolah.

"Siap Zay?" Tanyanya. Tak disangka orang di belakang Zay sudah masuk dengan senyum lebar.

"Ohh, kamu murid baru ya?" Tanya sang kepala sekolah.

"Iya."

"Kamu langsung masuk kelas, 12 IPA 2 yaa." Katanya.

"Zay bisa antar kan dia?" Ucap kepala sekolah meminta tolong.

"Oke pak."

"Nama Lo siapa?"

"Reyhan." Jawabnya. ''kalo elo?"

"Zelyn. Tapi panggil Zey aja."

"Elo kelas berapa?" Tanya Rey.

"Sama kaya elo."

"Ohh."

"Guysss perhatian! Hari ini kita ada temen baru nih!" Tunjuk Zay pada Rey.

"Hay." Ucapnya sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.

"Wehhh nambah cogan nih kelas. Mana ceweknya cakep pula. Cogannya apalagi." Kata Zico sambil merangkul bahu Rey

"Iya cogan, tapi elo gak ikut." Sahut Ran.

"Eh Gue ni orang paling ganteng tau." Katanya menyombongkan diri.

"Seantero monyet." Sahut Zay.

"Zay tuh, jarang ngomong kalo ngomong nylekitnya minta ampun." Papar Zico.

"Eh ngomong-ngomong namanya siapa?" Tanya Ran.

"Reyhan Casalvo Aldebaran. Panggil Ray aja." Ucapnya memperkenalkan diri.

"Hyyy ada kabar gembira lagi. Guru pada Rapat. Bolos yuk sekelas?" Ajak Tomi selaku bendahara kelas.

"Beneran gak? Biasanya juga bohong Lo."

"Ini beneran akurat, terpercaya." Jawabnya dengan wajah serius.

"Eh Lo mau ngajak bolos sekelas, mau kemana Lo? Kebun binatang?" Tanya Zay.

"Ke .... Mana ya? Gak tau juga gue." Jawab Vito.

'' Ke kantin aja gimana? Ntar Ray yang bayarin." Usul Zay.

"Oke ayok." Ajak Ray.

See you next part.
Jangan lupa vote n comment yaa

I'm ok (Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang