Suara getaran ponsel, membuatku terbangun. Kutatap lama benda pipih itu sebelum akhirnya mematikan alarm yang sengaja kupansang kemarin malam.
Sejenak kuedarkan pandanganku menyapu setiap sudut kamar. Ini sudah pukul 07.00 KST, namun kamar ini begitu gelap, hanya beberapa garis cahaya yang berhasil menembus tirai tebal dikamarku.
Setelah kurasa nyawaku sudah terkumpul seluruhnya, kuputuskan untuk beranjak dari ranjang dan mulai membuka satu persatu tirai guna mengijinkan cahaya-cahaya itu masuk kedalam kamarku.
Tak ingin segera beranjak dari tempat ini, kutatap setiap sudut kota dari balkon kamarku. Aku baru tau jika kita dapat meluangan sedikit waktu untuk menenagkan pikiran adalah hal yang begitu menyenangkan.
Sepuluh menit kurasa berlalu begitu saja, sebelum melakukan rutinitas lainnya kutarik napas panjang dan berharap hari ini akan berlalu dengan indah.
Mandi dengan air hangat adalah pilihan yang tepat untuk saat ini, tubuhku benar benar letih.
Air hangat yang mengalir menyentuh kulitku memberikan sensasi menenagkan, ku biarkan semua masalah dan rasa lelahku hanyut bersama aliran air ini.
Setelah kurasa cukup, kubuka almariku dan mengambil sebuah kemeja biru laut.
Kembali ponselku berdering, kutatap nama yang tertera pada panggilan masuk. Setelah menimang-nimang akhirnya kuputuskan untuk menjawab panggilan itu.
".........."
"Eum, aku akan segera datang."
Kumasukkan ponsel itu kesaku celanaku, segera kuraih kunci mobil di atas nakas dan bergegas turun.
Baru beberapa anak tangga kulalui namun, sejenak kuhentikan langkahku. Kutatap ruang tengah yang kosong, tak ada siapapun dirumah ini selain diriku.
Kulanjutkan kembali langkahku yanh tertunda, dan sampai di tangga terakhir kulihat sebuah balon biru terikat pada kursi meja makan.
Kutarik napas dan kembali berharap semoga hari ini dapat kulalui dengan bahagia.
Kembali kurasakan ponselku bergetar di saku celanaku, seregera kurogoh saku celanaku dan menerima panggilan dari orang yang sama seperti sebelumnya.
"..........."
"Sudah kukatakan aku akan segera kesana, jadi berhenti menelphonku." Ku akhiri panggilan itu sepihak dan segera kuambil langkah panjang menuju garasi.
Dan disinilah aku sekarang Rumah Sakit Seoul. Beberapa sapaan kudapat dari para suster yang kulalui, mereka memberikan senyuam ramah tapi tak ada niat sama sekali untuk membalas mereka.
Hingga kuhentikan langkahku di depan sebuah ruang rawat, kutatap pintu itu lama sebelum kuputuskan untuk masuk kedalam.
Disana dapat kulihat seorang dokter dan suster tengah memeriksa pemuda yang terbaring di atas bankar.
"Oh.....Yoongi-ah, kau sudah tiba rupanya." Dokter dengan rambut blonde itu menyapaku seperti suster-suster sebelumnya.
"Bagaimana kondisinya?" Tanyaku seraya menarik stetoskop dari jas yang dikenakan doter muda itu.
"Kondisinya kian menurun, kita harus segera mendapat donor hati untuknya."
"Eum......aku tau." Kutempelkan stetoskop di dada pemuda itu. Ia nampak begitu damai dalam tidurnya, namun siapa yang tau jika kondisinya benar-benar kritis saat ini.
"Aku akan mengambil jasku terlebih dahulu lalu kita bicarakan kondisinya." Ucapku seraya mengusap kening pemuda yang tengah terlelap itu.
Sebelum beranjak kembali kutatap pemuda itu, adik laki laki yang begitu kusayangi.
"Kuharap kau segera mendapat donor Jim." Kututup pintu ruang rawat perlahan dan mulai beranjak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine
Short StoryAku tak tau bagaimana cara mengataknnya, namun aku tetap berusaha untuk merubahnya. Akankah itu semua akan bisa? Kumpulan cerpen........
