Baru saja aku kembali dari universitas, seharian aku harus pergi mencari para dosen untuk merevisi hasil kerjaku. Bukan hal yang menyenangkan saat para dosen itu memakiku habis-habisan karena proyek yang ku kerjakan.
Mulai dari objek penelitian yang kurang dan bahkan penyusunan laporan yang berantakan menurut mereka.
Telah penat dengan semuanya ku putuskan untuk kembali ke apartement yang kusewa dengan seorang rekanku, setidaknya aku ingin tidur sebentar sebelum memperbaiki laporanku.
"Taehyung-ah, kakakmu menelphone sejak tadi. Mengapa kau meninggalkan ponselmu?" Pemuda yang mendapat anugrah menjadi temanku itu mendekat sembari melempar benda pipih itu kearahku.
Ingin mengumpat rasanya saat benda itu menghantam hidungku.
"Lebih tepatnya tertinggal." Kuperjelas mengapa tak ku bawa benda keramat itu hari ini padanya.
Nampaknya bocah itu tak mendengarkan, ia sibuk menyeduh ramen dan mengambil beberapa cola dari lemari pendingin.
"Kau akan pergi keluar?" Kudekati Woseok sembari mengambil sesuap ramen dari dalam mangkuknya.
"Ya... bertemu dengan teman lama, dan pergi menonton film. Mau ikut?" Kugelengkan kepala cepat dan beranjak dari sana, aku harus segera berkemas dan berangkat ke Daegu.
Nuna mengirim pesan padaku untuk menjaga Jenno putranya. Inginnya aku menolak tapi tak ada salahnya pergi kesana, kurasa berguling di padang rumput dapat menormalkan pikiranku.
Selesai berkemas dan memastikan membawa semua barang kebutuhanku terkemas, kini saatnya berangkat ke Daegu.
Perjalanan yang melelahkan, dan aku sampai di sana saat fajar. Ternyata Nuna belum berangkat, ia sempat mengatakan padaku jika putranya belum bangun.
Setelah nuna pergi, kuputuskan untuk menyantap sarapan dan bermain ponsel hingga Jenno tanpa kusadari telah duduk di sampingku.
"Oh.... kau sudah bangun? Ayo sarapan setelah itu mandi." Ku giring anak 6 tahun itu menuju meja makan, dan mulai menyuapinya.
Yang kulihat, Jenno adalah anak yang pendiam sungguh bertolak belakang dengan apa yang nuna ceritakan padaku.
"Sudah kenyang?" Jenno mendorong mangkuknya menjauh dan turun dari kursinya, ia anak yang aneh menurutku.
Mungkin ia merasa asing padaku, terakhir kali aku bertemu dengannya 3 tahun lalu. Ya.... aku rasa butuh pendekatan kembali.
"Jenno.... dimana kau, kajja samchone akan membantumu mandi." Tak ada sahutan dari dalam kamar, setelah beberapa kali ku ketuk pintu akhirnya ku putuskan untuk melihat kedalam.
Kamar itu sungguh kacau, lego berserakan bagaikan ranjau. Beberapa bahkan terinjak olehku, jika ini bukan kamar bocah 6 tahun sudah dapat kupastikan berbagai umpatan akan keluar dengan lancar dari mulutku.
Sementara Jenno sibuk dengan crayon di tangannya, kupilih untuk bersantai sembari memainkan game pada ponselku.
Hari kian beranjak siang, tak ada pergerakan dari jenno, ia masih setia dengan gambar abstrak berwarna merah itu.
Perutku mulai lapar, dan sialnya terlalu malas untukku turun ke bawah. Mungkin saja aku akan pergi tidur apabila tak ada jenno yang harus makan siang.
"Kajja, samchone akan menyuapimu." Kutarik tubuh kecil Jenno pelan dan berusaha kugendong bocah itu.
Tapi entah aku yang sudah terlalu lapar, atau Jenno yang terlampau berat. Berulangkali aku gagal mengangkatnya.
"Baiklah tetap disini dan samchone akan segera kembali." Kupilih untuk meninggalkan Jenno dikamar, fokusku kini adalah memanaskan makanan yang sudah disiapkan nuna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine
Storie breviAku tak tau bagaimana cara mengataknnya, namun aku tetap berusaha untuk merubahnya. Akankah itu semua akan bisa? Kumpulan cerpen........
