Seokjin, seorang anak berandalan di SMA Bangtan dan merupakan ketua grup basket. Teman-temannya juga sama aja berandalan.
Kehidupan dia biasa saja, sampai ada satu kejadian yang mengubah kehidupannya. Apakah itu? Langsung baca saja jika kalian penas...
07:23 KST "Wah hyung! Untung kita ngga telat lagi!" Namjoon berkata sambil mencoba untuk menstabilkan nafasnya. Seokjin hanya merotasikan bola matanya jengah.
"Akhirnya kalian ngga telat." Kata Mrs.Kim. "Seokjin, jam pelajaran terakhir habis renungan, kau ke ruang BK dulu ya?" Kata Mrs.Kim mengambil atensi dua orang itu.
"Apa aku boleh ikut?" Tanya Namjoon, dia selalu mengikuti Seokjin kemanapun. Buat yang bertanya, Nayeon itu selalu berangkat terlebih dahulu, diantarkan oleh Ayahnnya.
"Iya boleh." Guru tersebut pasrah dengan Namjoon, karena jika dia menolak, Namjoon akan memakaanya dengan segala cara. Bahkan pernah dia rela dihukum demi ikut dengan Seokjin.
"Emangnya ada apa?"
"Aku juga kurang tahu Jin, kau turuti saja."
Seokjin mengangguk lalu meninggalkan guru tersebut. Bergegas ke lokernya untuk mengambil buku pelajaran berikutnya. Yah, meskipun dia tidak akan mendengarkan pelajarannya dan hanya membawa buku, setidaknya dia hadir.
Sekarang adalah pelajaran Bahasa Indonesia, pelajaran yang dianggap mereka sebagai waktu tidur. Seokjin tertidur dengan lelap di mejanya, dengan tangan masih menopang kepalanya. Sementara Namjoon teman sebangkunya hanya membiarkannya.
Namjoon menyadari lebam dan beset di bagian lengan dan pelipis Seokjin. Itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya. Namjoon membiarkan namja tersebut istirahat.
Di bangku samping Namjoon terdapat Hyuka dan Soobin. Soobin mendengarkan pelajarannya dengan seksama seperti Namjoon, sementara Hyuka hanya melamun melihati Soobin. Sementara Taehyung yang ada di depan Seokjin itu sedang mendengarkan lagu dengan AirPodnya.
"Yah Namjoon, bangunkan temanmu." Kata Mr. Min pelan, hanya orang itulah satu-satunya guru yang tidak pernah marah disekolah tersebut.
"Hyung, ireona." Namjoon berkata pelan. Seokjin membuka matanya perlahan, menyadari bahwa semua orang sedang melihatinya. "Apa lihat-lihat?"
Deg
Langsung semua orang mengalihkan tatapannya ke arah lain. Namjoon membuka buku Seokjin di halaman 147. "Kita disuruh mengerjakan ini."
Seokjin mengangguk dan menggumamkan terima kasih padanya. Yah itulah dia, dia selalu menunjukkan sisi dinginnya kepada orang lain dan sisi lunaknya pada orang yang sudah dekat dengannya.
Yang lain juga sudah sadar tentang hal itu, namun tetap saja mereka takut saat diberikan tatapan seram itu oleh Jin. Tatapannya begitu tajam dan gelap.
Baru beberapa menit berlalu saat mereka sedang mengerjakan tugas tersebut, Seokjin kembali tertidur lagi. Mr. Min pun datang ke arah meja mereka.
Yak, menangkap atensi semua orang karena meja mereka ada di bagian paling pojok belakang. "Apa dia sakit?" Tanya Mr. Min yang tadinya mau membangunkannya.
Setelah melihat wajah pucat Seokjin, guru tersebut tidak tega untuk membangunkannya. Namjoon mengulurkan tangannya untuk mengecek suhu tubuhnya, benar saja, Seokjin demam.
"Apa boleh aku membawanya ke UKS?" Tanya Namjoon ke guru tersebut. Mr.Min mengangguk, Namjoon membangunkan Seokjin lalu mengantarkannya ke UKS.
- - - "Kalian kelahi dengan siapa lagi?" Tanya suster Yeonha. "Kita tidak berkelahi noona, Jin hyung demam." Ketus Namjoon, tiap kali mereka datang pasti dikira mereka bikin ulah.
"Oh, suruh dia duduk di salah satu ranjang itu, akan kuberikan obat kepadanya." Kata Yeonha kepada Namjoon sembari mencari obat tersebut.
"Aku baik-baik saja Joon." Seokjin menghentikan tangan Namjoon yang memegan jidatnya. "Aih hyung." Namjoon akhirnya menahan kedua tangan Seokjin dan mengecek leher dan jidatnya.
"Yeonha noona, ada termometer?" Tanya Namjoon, Yeonha mengangguk dan memberikan benda tersebut kepada Namjoon. 37,8 celsius, lumayan panas itu.
Yeonha memberikan obatnya kepada Seokjin dan segelas air. Seokjin menelan obatnya, menghabiskan air yang ada di gelas tersebut. "Istirahatlah, aku akan kembali saat jam istirahat." Tegas Namjoon.
Jika sudah seperti ini, Seokjin hanya bisa mengangguk. Yah, mau gimana, Namjoon itu kalau sudah keras kepala, ngga bakal ada yang bisa ngalahin.
- - -
"Hyung, kau ini demam malah jajan gimana sih?" Ketus Namjoon kesal. Namjoon mengambil kemasan snack itu dari tangan Seokjin dan menaruhnya di belakang punggungnya.
"Yak, balikin!" Seokjin teriak kesal, dia berusaha mengambil snacknya kembali namun tetap saja tak bisa. Namjoon mengangkat snacknya ke atas, Seokjin mana sampai?
"Joonie~ biarkan aku makan itu!" Seokjin mendengus, Namjoon hanya tertawa pelan. "Berani berapa?" Tanya Namjoon, orang sakit kok jajan pikirnya.
"Satu juta, sini balikin!" Dan saat Namjoon lengah, Seokjin menarik lengan dia kebawah dan mengambil snacknya. "Balikin aja kok susah." Ketusnya.
Soobin dan Hyuka sudah ngakak di meja. Yoongi menahan tawa dan Jimin yang tertawa dengan diam di sebelahnya. Taehyung juga ikut ngakak sementara pacarnya Jungkook hanya senyum, sama seperti Nayeon.
"Kau ini, aku ini baik, sudah ngingetin kamu." Namjoon menyolot kembali. "Suka-suka aku, yang sakit juga aku, kenapa situ yang ngurus?" Seokjin kembali menyolot, mereka berdua memang keras kepala.
"Soalnya aku peduli padamu hyung."
- - -
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.