Menyimpan

3.7K 317 24
                                        

Suara heels yang dipakai Rheva tampak terdengar nyaring ketika menyentuh lantai basement gedung apartemen temannya. Hari ini ia memang memutuskan untuk membawa mobilnya dikarenakan siang harinya ia harus menghadiri meeting ditempat yang lumayan jauh dari kantornya. Rheva sudah terlalu malas untuk menaiki kendaraan umum dan memilih untuk membawa mobilnya sendiri.

Sambil membawa segelas kopi yang sempat ia beli tadi untuk menemaninya menyetir, Rheva melangkah dengan cepat menuju mobilnya. Namun langkah kaki Rheva perlahan memelan, hingga akhirnya terhenti. Pandangan mata Rheva tertuju pada seseorang yang sedang melangkah berlawanan arah dengan tegap. Pandangan keduanya bertemu. Refleks, Rheva memegang erat gelas kopi yang ia bawa.

"Rheva?" panggil laki-laki yang berjarak hanya beberapa langkah darinya.

Rheva mengalihkan pandangannya, lalu melangkah menuju mobilnya seraya mencari kunci mobil di dalam tas. Gerakan tangan dan langkah Rheva terhenti ketika laki-laki itu meraih lengannya, membuat Rheva terkejut.

"Kamu benar Rheva ternyata." ucap Kemal, laki-laki itu diakhiri dengan senyuman tipis. "Dua kali aku bertemu lagi dengan mu. Aku rasa kamu nggak lupa kejadian dua minggu lalu." sambungnya.

"Mau apa kamu, hm?" sahut Rheva dengan tegas setelah mengumpulkan keberaniannya.

Kemal masih menatap Rheva. "Apakabar?" tanyanya.

Pertanyaan yang Kemal lontarkan barusan membuat Rheva tersenyum sinis. "Memangnya kabar aku urusan kamu?" ia balik bertanya lalu menarik lengannya dari Kemal. "Lepas atau aku teriak sekarang juga."

Kemal kemudian melepas tangannya dari lengan Rheva. Membuat gadis itu kembali melangkah menuju mobilnya dengan cepat.

"Sepertinya tiga tahun lalu aku terlalu bodoh karena mengkhianati dan melepas perempuan hebat seperti kamu, Rhe." ucap Kemal yang membuat Rheva mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya.

Rheva membeku beberapa saat di tempatnya berdiri saat ini. Namun dengan cepat ia tersadar, lalu menghela napasnya dengan kasar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil. Berbeda dengan Kemal yang masih menatap Rheva yang berada di dalam mobil dengan tatapan kosong.

Bahkan, tatapan Kemal tak lepas dari mobil Rheva ketika melaju di hadapannya. Meninggalkan Kemal begitu saja.

Sementara itu, Rheva yang masih shock akan pertemuannya dengan Kemal tadi memilih untuk meminggirkan mobilnya setelah keluar dari apartemen. Gadis itu mengatur napasnya yang masih tak beraturan dan jantungnya yang masih berdegup kencang. Pikirannya mendadak kosong, sulit untuk fokus menyetir.

Masih mengatur napasnya, Rheva menyenderkan tubuhnya pada jok mobil. Hanya ada satu nama yang saat ini memenuhi pikirannya dan menjadi tujuan Rheva. Ya, nama Rega yang memenuhi pikirannya saat ini. Ketika ia merasa sudah lebih tenang, Rheva kembali mengemudikan mobilnya lagi. Dan tujuannya saat ini adalah rumah sakit yang menjadi tempat Rega praktek.

Hanya butuh 20 menit saja untuk Rheva sampai di rumah sakit. Tanpa memberi tahu Rega, gadis itu langsung meraih satchel bag-nya dan turun dari mobil. Rheva lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit sambil menelpon Rega.

"Halo sayang," sapa Rega dengan nada lembut ketika tersambung.

"Mas, dimana?" tanya Rheva to the point.

"Masih di rumah sakit. Baru selesai visit. Kenapa sayang?" Rega balik bertanya.

Rheva menghentikan langkahnya ketika ia berada di lobby rumah sakit. "Mas lagi sibuk nggak?"

"Nggak Rhe. Mas udah nggak ada pasien lagi setelah visit ini."

"Mas, aku ada di lobby rumah sakit." ucap Rheva.

Setelah Mendung Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang