19# Tukang Modus?

1.7K 249 84
                                        

Cinella mengupaskan kulit apel dengan khidmat, sebenarnya tidak sekhidmat kelihatannya, sebenarnya di dalam hati dia terus menggerutu tentang ketidakadilan sang ibu yang lebih dulu mencari Genta daripada dirinya saat siuman. Yaa, perilaku yang ia tunjukkan tidak beda jauh dengan perilaku orang yang ngambek, sih.

Sudah hampir sepuluh menit Cinella mendiamkan sang ibu. Berbagai kegiatan ia lakukan untuk menghindari percakapan dengan wanita yang telah melahirkannya itu. ia takut jika sedikit saja ia bersuara, apa yang ia tahan di dalam hatinya akan keluar dengan begitu lancar tanpa memberi ibunya kesempatan untuk menjelaskan terlebih dulu. Tapi, siapa yang peduli jika kita sudah dongkol duluan? Yang ada ego kita menuntunt untuk dibebaskan lebih dulu daripada menunggu penjelasan. Sebagian manusia begitu kan? Dan sepertinya Cinella masuk dalam daftar manusia itu.

"Nak, tolong apelnya sa—"

Belum sempat sang ibu menyelesaikan ucapannya, Cinella buru-buru menyerahkan piring berisi apel yang telah ia kupas itu kepada ibunya. Tentu saja bu Ina heran dengan sikap anaknya itu.

Bu Ina memasukkan sepotong apel ke dalam mulutnya. "Bu Asia ke mana, Nak?"

"Pulang,Bu."

"Oh, pulang. Terus Nak Genta?"

Cinella melirik bu Ina dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia lalu menarik napas perlahan untuk menahan kekesalannya. Bahkan, kulit jeruk yang ia kupas untuk dirinya terpaksa ia hentikan sejenak.

"Ibu, aku mau tanya boleh?"

"Hm, mau tanya apa, Nak?"

"Sebenarnya Ibu ada hubungan apa sama Kak Genta?"

"Maksudnya?"

"Maksud Cincin ... kemarin dia ke sini, karena katanya Ibu yang nyari. Benar begitu?"

Bu Ina tampak berpikir seraya mengunyah potongan apel yang sudah masuk ke dalam mulutnya. "Ah, iya. Ibu yang minta Nak Genta ke sini. Soalnya ...." Bu Ina menggantungkan ucapannya, membuat Cinella semakin penasaran dengan kelanjutannya. Cinella bahkan sedikit memajukan tubuhnya ke arah sang ibu. "Rahasia."

Cinella kembali menegakkan tubuhnya dengan tampang kesal. Keningnya bahkan mengerut dalam saking kesalnya. "Ck, Ibu mulai main rahasia-rahasiaan sama aku?"

Bu Ina menatap Cinella dengan tatapan lembut. Ia lalu menaruh piring yang masih menyisakan beberapa potongan apel di atas nakas.

"Untuk saat ini biar jadi rahasia di antara ibu dan Nak Genta. Tapi, akan ada saatnya Cincin juga akan segera tahu."

Mendengar ucapan ibunya yang sepertinya tidak akan membuka rahasia di antara dirinya dengan Genta, membuat Cinella pun hanya bisa terdiam dengan rasa penasaran. Tapi mau bagaimana lagi? Biarlah dia dipenuhi dengan rasa penasaran, atau ... pura-pura tidak tahu sajalah. Itu lebih baik, meski tetap saja rasanya ada sesuatu yang menuntut untuk dituntaskan.

***

Hari ini Cinella sebenarnya tidak ingin masuk kampus karena memilih untuk menemani sang ibu, tapi bu Ina dan bu Asia bersikukuh memaksanya untuk tetap kuliah dengan alasan ada bu Asia yang menemani bu Ina, jadi Cinella tidak perlu untuk absen dari proses kuliahnya. Meski begitu, tetap saja Cinella merasa berat meninggalkan ibunya. Terlebih setelah mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi ibunya setelah mengalami kecelakaan. Menurut penuturan dokter yang menangani ibunya, bu Ina saat ini tengah mengalami cedera di bagian kepala dan yang meski tidak parah, tetap saja perlu diwaspadai. Pasalnya, bagi penderita alzheimer seperti ibunya, cedera di bagian kepala sangat memungkinkan untuk memperburuk keadaannya.

"Hoi, ngelamun aja." Dhea mengambil posisi duduk tepat di hadapan Cinella. Di tangannya sudah ada dua kotak bekal yang sengaja dibawa dari rumahnya. "Nih, buat lo."

My Heart Found a Home in Yours [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang