21# Dia Kekasihku

1.9K 280 154
                                        

Gils, part ini kutulis bener-bener banyak cobaannya. Wkwkwk. Dari pagi sampai malam nggak selesai-selesai. Fiuuhhh. Mata sampe terasa sepet wkwkw. Ambyar pula. Pokoknya, selamat membaca aja deh. Semoga masih ngefeel😊

Jan lupa tinggalkan jejak dulu, biar kujadi semangat😁

Maaciw🧡

.

Hari ini Cinella berinisiatif untuk mengembalikan dompet yang ada di dalam kantung itu. Karena bagaimanapun, pasti pemiliknya sudah mencari kemana-mana. Cinella sudah mengirim pesan singkat pada laki-laki itu beberapa menit setelah kepergiannya. Tentu dengan harapan Genta akan kembali dan mengambilnya, tapi pesan Cinella hanya centang satu. Yang berarti pesan itu belum sampai bahkan belum dibaca oleh Genta.

Hingga menjelang pagi, Cinella terus melirik ke arah ponselnya. Berharap Genta membalas pesan yang dikirimnya tadi malam. Tapi, entah mengapa laki-laki berperawakan tinggi itu tidak kunjung membaca pesan yang dikirimnya.

"Apa dia kehabisan kuota, ya? Atau ... hp-nya lowbat? Tau, ah," gumam Cinella sesaat setelah berada di koridor kampus. "Atau, nanti aku titip ke Kak Radit atau Kak Desta aja deh."

***

"Dhe, lo buru-buru nggak?" tanya Cinella saat melihat perempuan berjilbab hijau itu mulai memasukkan buku dan pulpennya ke dalam tas. Cinella berinisiatif mengajak Dhea untuk menemui Radit dan juga Desta di fakultasnya. Pasalnya, dia belum berani untuk berkunjung ke fakultas lain sendiri. Apalagi yang ingin dia temui adalah seorang yang berjenis kelamin laki-laki. Tentu Cinella masih banyak berpikir jika menyangkut hal itu. Dia juga tidak mau jika ada gosip yang tak mengenakkan merebak karena dia telah berani mendatangi cowok seorang diri. Ah, sudah cukup gosip tak mengenakkan yang didapatnya saat masih duduk di bangku SMA.

"Kenapa emang?" Kegiatan Dhea memasukkan buku ke dalam tasnya pun terhenti. Ia beralih fokus pada Cinella yang kini menatapnya dengan tatapan penuh permohonan.

Cinella tersenyum kaku. "Umm, lo mau ngga nemenin gue ke fakultas seni?"

Kedua mata sipit Dhea membulat."Gila, ngapain coba ke fakultas seni? Ogah gue."

Sudah Cinella duga sebenarnya jika Dhea akan menolak. Tapi tidak ada cara lain untuk mengembalikan dompet itu selain menitipkan pada sahabat Genta. "Dhe, pleaaaaase. Temenin gue ke sana. Ya?"

"Eh, Markonah. Ngapain sih ke sana? Lo mau cari agar-agar?"

"Gara-gara, Dhe," timpal Cinella membenarkan. "Jadi, gue ceritain dulu deh kalo gitu. Sebenernya, gue tuh mau balikin dompet ini." Cinella mengeluarkan sebuah dompet berwarna hitam dari dalam tasnya. Hal itu sukses membuat kedua mata Dhea kembali membulat kaget.

"Emang itu dompet siapa elah."

"Dompet Kak Genta."

"Eh, buset deh lo, Cin. Ngapain lo pegang-pegang dompet orang? Lo morotin Kak Genta, ya?"

Hampir saja Cinella mencubit bibir comel Dhea, kalau saja si cewek penyuka warna orange itu tidak berjarak yang cukup jauh dari posisi Cinella sekarang. 

"Ya nggak lah, Dhe. Ini kemarin ketinggalan. Makanya mau gue balikin."

"Wait, wait. Cin, lo jujur deh sama gue. Lo sebenernya ada hubungan apa sama Kak Genta? Kok dompetnya bisa sama lo? Kalo dompetnya ketinggalan kemarin, berarti lo sama dia ...."

"Lo jangan salah paham dulu, Dhe. Dia itu kemarin dateng ngejenguk ibu gue. Dia bawain buah, tapi ternyata dia naruh dompetnya di dalem kantung buah itu. Makanya sekarang ada sama gue," jelas Cinella dengan menggebu. Dia paling anti dituduh-tuduh yang tidak benar.

My Heart Found a Home in Yours [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang