"Ibu kamu tadi maksain diri buat ke kamar mandi, Nak. Ibu tadi nggak lihat karena ibu lagi keluar mau buang sampah. Tau-taunya, pas ibu masuk, ibu kamu udah jatuh di dalem kamar mandi," jelas bu Asia saat Cinella datang dengan raut cemas. Terpaksa dia harus meminta izin pada dosen yang saat itu memberikan materi karena dia mendapat kabar bahwa ibunya jatuh DI kamar mandi. Ya, katakanlah Cinella bermain ponsel saat itu, tapi dia bermain ponsel karena berniat untuk mencari materi kuliah. Dan mungkin, itu cara Allah memberinya petunjuk.
"Nggak pa-pa, Bu. Justru Cincin bersyukur karena ada Ibu yang cepat nolongin ibu. Kalo nggak, Cincin nggak tahu lagi apa yang akan terjadi sama ibu," ujar Cinella dengan raut sedihnya. Dia masih setia menggenggam tangan ibunya yang masih tertidur karena pengaruh obat. Diperhatikannya raut lelah yang samar pada wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Wajahnya pucat, lebih pucat dari kemarin. Mungkin karena efek kesakitan yang dirasanya setelah terjatuh di kamar mandi.
"Nak Cincin sudah makan? Mau ibu beliin nasi padang?"
Cinella menggeleng. Napsu makannya seolah hilang. Sepertinya efek dari kekagetannya mendengar kondisi sang ibu beberapa menit yang lalu. "Bu. Ibu istirahat juga, ya. Biar Cincin yang jagain ibu. Atau, Ibu mau makan? Biar Cincin yang beliin. Ibu di sini aja istirahat, ya?" tawar Cinella yang kemudian mengambil dompetnya dari dalam tas.
"Ibu tadi udah makan pisang goreng kok, Nak. Masih kenyang," tolak bu Asia.
"Cuma pisang goreng? Ah, Ibu. Ibu tunggu di sini deh pokoknya. Cincin beliin nasi padang dulu. Kita makan sama-sama."
"Loh, katanya kenyang?" tanya bu Asia dengan nada bercanda.
"Iya sih, Bu. Tapi kalo Cincin nggak makan, pasti Ibu nggak mau makan juga."
Bu Asia tersenyum lembut. Cinella sudah sepaham itu dengan dirinya. Entah mengapa, dia merasa bersyukur kenal dengan Cinella dan ibunya. Rasanya, dia punya keluarga dekat. Mereka adalah orang-orang yang bisa bu Asia percaya, sama percayanya ia terhadap keluarganya sendiri. Bu Ina bahkan tidak pernah merasa enggan saat bu Asia sudah menganggap Cinella sebagai anaknya sendiri. Justru, bu Ina merasa bu Asia adalah orang yang tepat untuk membantu dirinya merawat Cinella.
Cinella pun akhirnya keluar untuk membeli nasi padang, tidak lupa dia juga membeli satu bungkus rujak untuk dicemil. "Rujaknya nggak pake bengkoang ya, Mas," pinta Cinella.
"Pesan satu yang pake bengkoang ya, Mas."
Cinella menoleh ke arah sumber suara. Dan seketika kedua bola matanya membulat saat melihat sosok Radit berdiri tepat di sampingnya.
"Iya, tahu kalo gue secakep itu. Tapi nggak usah sepangling itu kali," sahut Radit saat melihat ekspresi Cinella yang menurutnya terlalu berlebihan.
Cinella yang akhirnya tersadar pun segera berdeham pelan untuk mengilangkan raut anehnya. Tapi benaran, dia kaget melihat kehadiran sahabat Genta itu. Jam segini, sedang apa dia di rumah sakit?
"Kakak ngapain di sini?"
"Beli rujak atuh."
Cinella berdecak dalam hati. "Maksud aku, Kakak kok bisa ada di sekitar rumah sakit? Kakak sakit, ya?"
Radit menahan senyumnya dengan kedua pipi sedikit merona karena terkena sinar matahari yang entah mengapa hari ini cukup terik. "Pelis lah, Cin. Lo jangan seperhatian itu sama gue, gue kan jadi baper."
Siapa yang merhatiin sih, ya Allah. Orang cuma nanya.
"Bukan gitu, Kak. Maksud aku—"
"Ish, iya, paham kok, paham. Gue ke sini tuh mau ngejengukin Oma-nya Desta yang lagi masuk rumah sakit. Kebetulan beliau dirawat di sini. Nah, sekarang giliran gue yang mau nanya. Lo ngapain di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Heart Found a Home in Yours [SUDAH TERBIT]
General Fiction⚠️AWAS BAPER! Novel bisa dipesan melalui WA +6285230484744 . . . Cinella. Biasa dipanggil Cincin oleh orang terdekatnya. Hidupnya datar saja. Tidak ada yang spesial. Pernah ia menginginkan kisah hidupnya seindah, seromantis drama-drama Korea. Tapi i...
![My Heart Found a Home in Yours [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/206947948-64-k115040.jpg)