⚠️AWAS BAPER!
Novel bisa dipesan melalui WA +6285230484744
.
.
.
Cinella. Biasa dipanggil Cincin oleh orang terdekatnya.
Hidupnya datar saja. Tidak ada yang spesial. Pernah ia menginginkan kisah hidupnya seindah, seromantis drama-drama Korea. Tapi i...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tersebab oleh daun seledri yang ada di mangkuk bakso milik Cinella, dan dengan kesokpahlawanan seorang Genta, semua orang yang ada di kantin kampus A kini mulai sering mencuri perhatian pada sosok Cinella yang terlihat dekat dengan preman kampus itu. Bahkan beberapa dari mereka tak tanggung-tanggung mulai menggosipi ada hubungan apa antara Cinella dengan Genta. Risih? Tentu saja.
Cinella yang kadang disebut makhluk tak kasat mata oleh teman-teman seruangannya itu kini seperti dipaksa muncul ke permukaan dan mulai sedikit dikenali oleh beberapa mahasiswa.
Cinella kini sudah berada di ruang kuliahnya bersama Dhea dan juga Gisel. Kedua temannya itu jelas sekali melihat raut tak suka di wajah perempuan yang kini memilih menatap pepohonan dari jendela yang ada di sampingnya.
"Cin, lo ... nggak pa-pa?"
Cinella yang tadinya sibuk berkutat dengan pikirannya, kini berbalik menatap Dhea dan juga Gisel. Keduanya–terutama Dhea terlihat khawatir. Sebagai teman, tentu mereka tahu ketidaksukaan Cinella berdekatan dengan laki-laki. Apalagi yang sejenis Genta dan kawan-kawannya itu.
"Hmm." Cinella menarik napas pelan, "Untuk saat ini, gue sedikit baik-baik aja."
"Sedikit?"
"Yaa, gitu deh."
Gisel memperbaiki posisi duduknya jadi sedikit condong ke arah Cinella. "Tadi gue liat anak-anak lain ngeliatin lo kayak udah kayak liat artis tau nggak? Matanya sampe melotot gitu," jelas Gisel seraya mengedikkan bahunya risih. "Bukan gue yang diliatin malah guenyang ngerasa risih," tambahnya.
Dhea mengangguk setuju karena dia pun merasakan hal yang sama saat keluar dari kantin.
"Ya, risih juga sih. Tapi ya gimana ya. Gue kan nggak bisa ngapa-ngapain. Jadi, biarin lah."
"Eh, tapi ... gue penasaran. Kok lo bisa kenal dia sih, Cin. Lo kenal seangkatan aja malesnya minta ampun, ini malah udah kenal duluan sama anak jurusan sebelah." Dhea mengangguk. Pasalnya dia juga penasaran dengan kejadian di balik dekatnya seorang Cinella dengan seorang cowok yang dikenal sebagai preman kampus. Bisa-bisanyaaa gitu.
Cinella menatap kedua temannya itu dengan saksama. Sebelumnya, dia berpikir keras antara mau bercerita dan tidak. Tapi, sepertinya mereka berdua memang harus tahu. Siapa tahu dengan begitu mereka mau jadi tameng di saat Genta tiba-tiba berulah lagi di kehidupannya.
Sejujurnya, ada sedikit rasa bersalah yang menggerayangi batin Cinella. Di masa-masa kesulitannya, dia tidak bisa menceritakan semuanya kepada sang ibu, bahkan hingga saat ini. Dan dia justru memilih menceritakan alasan di balik ketidakinginannya berhubungan dekat dengan laki-laki pada temannya. Tapi, salahkah? Dia hanya ingin berbagi dan mengurangi sedikit bebannya.
"Gue ... gue sebenarnya udah kenal sama dia sejak SMA. Dan ... dia adalah alasan di balik gue yang takut dekat-dekat dengan yang namanya cowok." Cinella memberi jeda. Ia lalu menatap kedua temannya yang hanya memberikan raut yang sulit diartikan. Tanggapan Cinella, mereka sama sekali tidak kaget dengan apa yang baru saja diceritakannya. Tapi, ternyata dia salah. Karena selanjutnya Gisel menggebrak meja hingga beberapa orang yang ada di ruangan itu menoleh karena kaget.