7. Setelah Kencan Pertama

21 1 0
                                        


Catatan kecil:

Harap diingat bahwa setting cerita ini adalah high school USA. Jadi, mohon dimaklumi jika terdapat obrolan-obrolan seputar seks yang terdengar biasa aja di antara mereka.

.

.

.


Di perjalanan pulang, aku merasa sangat-sangat jauh lebih baik. Aku ngobrol dengan Mello dan bertanya apa kita bisa melakukannya lagi lain kali. Dia tersenyum dan setuju. Aku nggak perlu bilang apa-apa lagi padanya karena dia mengingat semuanya.

"Tadi itu menyenangkan," kataku. Lagi-lagi terdengar seperti kalimat yang diucapkan oleh seorang pacar setelah pergi berkencan. Tapi ini kan cuma ngobrol bareng di taman. Kutebak, kami sama-sama menghirup aroma Sakura mekar.

"Sama, aku juga. Pemikiranmu menarik," jawab Mello tersenyum.

 "Makasih," jawabku tersenyum dengan pipi merah. Aku mengembalikan helm-nya dan masuk ke dalam rumah. Aku langsung menelepon Mary.

"Jadi, gimana nge-date-nya?" tanya Mary di seberang.

Aku tersenyum memikirkannya. "Menyenangkan. Kami naik motor ke taman, berbaring di bawah pohon Sakura, dan saling mengenal lebih dekat."

"Romantis banget," komentar Mary. "Aku jadi ingat kencan pertamaku dengan Matt di perkumpulan para gamer."

"Kayaknya nggak ada apa-apa lagi sebulan ke depan, tapi mungkin aku akan butuh bantuan Matt di kencan berikutnya."

"Bisa aja," kata Mary. Aku mendengar bunyi bip, disusul bunyi klik yang ramai dan pekikan berisik dari entah-apa-yang-sedang-Matt-bunuh-di-dalam-game-nya.

"Mello bilang itu keren. Dia mau kenalan lebih jauh denganmu," Matt berkata di seberang. Aku yakin, Mary mengirim sms padanya sambil bicara.

"Ada usulan nggak ke mana?" aku meminta sarannya.

"Lari aja di sepanjang track. Biasanya, kencan kedua dia kayak gitu," jawab Matt.

"Um, apa dia virgin?  Dan apa dia lagi deketin cewek?" aku bertanya, mulai khawatir kalau-kalau aku mengincar sesuatu yang mustahil.

"Yep, dia virgin. Dia cuma pernah kencan sama tiga cewek seumur hidupnya. Tapi dia nggak menemukan apa yang dia cari dari cewek-cewek itu."

Jawaban Matt mengejutkanku.

"Apa ada cewek yang dari sekolah kita?" tanya Mary.

"Satu orang. Itu kalau bisa dibilang kencan. Biasanya Mello yang ngajak duluan untuk nonton, tapi kali ini Sayu yang ambil langkah bagus duluan, dan itu pasti akan diingatnya," kata-kata Matt terpotong dengan teriakan panjang, "Ambil tuh, dasar bangsat sialan!!"

Mary bertepuk tangan. "Kamu berhasil bunuh bos besarnya, Matt!" sorak Mary lalu menambahkan, "Ini catatan rekor baru tanpa nge-cheat. Kamu beneran dewa game!"

"Well, itu nggak bikin dia populer di antara cewek-cewek," kataku jujur, menyambung obrolan kami tadi. Aku udah lama bergaul dengan orang-orang ini, jadi aku nggak perlu bermanis-manis dengan mereka. "Beberapa orang berpikir kalau video game dan makian itu nggak banget," sambungku.

"Makanya, banyak yang benci mulut tajamnya Mello. Dia kalau mengumpat udah kayak bajak laut. Tapi dia juga bisa nge-flirt dan dirty talk sama cewek, dan bikin celana dalam mereka basah."

Wajahku memerah. Aku bisa membayangkan Mello melakukan hal yang dikatakan Matt barusan.

"Mungkin kapan-kapan kita bisa hangout berempat di mall dan nyobain dirty talk," kata Mary.

"Ah, kamu yakin kalau kamu yang bakal menang," desisku, tapi Mary menyahut, "Hei, aku tahu kalau diam-diam pikiranmu itu juga bisa mesum. Ingat nggak tugas aib Bahasa Inggrismu? Kalau itu nggak termasuk pikiran mesum, aku nggak tahu lagi deh." Kata-kata Mary membuat pipiku makin merah seperti ceri maraschino.

"Oh, kamu harus cerita soal itu padaku, Mary," sahut Matt.

"Besok kusodorin ke kamu," kata Mary. 

Aku menutup wajah dengan tangan. Jika mereka tahu betapa kotornya pikiranku, mereka bisa saja menyebutku pelacur, dan aku tentu nggak akan pernah bisa mengembalikan reputasiku yang suci.

"Nggak apa. Setiap orang bisa punya fantasi kotor. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Matt.

"....Baiklah. Tapi jangan judge aku, dan jangan sekali-kali bocorin apa pun ke Mello tentang apa yang kamu baca nanti," desisku.

Kemudian Matt berkata, "Aku dan Mary akan ngobrolin sesuatu dengan L, tapi kita nggak bisa panggilan empat arah."

"Oke, aku ngerti," jawabku, kemudian mematikan telepon.

Aku makan malam dengan Light. Kakakku tanya gimana hangout-ku dengan Mello. Aku tersenyum senang saat mengingat hal-hal yang terjadi tadi dan menceritakannya. Kakakku ikut tersenyum.

"Hebat, Sayu. Kamu menunjukkan sisi inosen dan misterius. Nggak pernah ada cowok yang menemukan hal kayak gitu."

"Um... senang mendengarnya. Berikutnya kami akan hangout di sepanjang track lari," balasku.

Kakakku tersenyum lagi. "Itu akan jadi kenangan bagi kalian berdua."

Kemudian aku menuju ke kamar dan tidur dengan balutan mimpi indah.

HOMERUN (Translated)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang