Begitu kami sampai di sekolah, aku turun dari mobil Light dan menuju lokerku. Naomi juga sedang membuka lokernya di sebelahku. Dia pacaran dengan Ryuzaki, sahabat kakakku yang juga seorang first baseman.
"Kata Misa, kamu dapat keberuntungan," katanya sambil menutup pintu lokernya.
"Aku dapat tumpangan pulang dari Mello," koreksiku seraya membuka kunci loker. Kuambil seperempat pertama dari deretan buku-bukuku.
Aku mendengar namaku dipanggil. Cepat-cepat aku menutup lokerku dan menguncinya kembali, lalu berlari ke kelas pertamaku pagi ini. Bahasa Inggris.
Mary sedang menungguku sambil mengetik pesan di ponselnya dengan satu tangan. Aku bisa mengerti kenapa Matt jatuh cinta pada sahabatku ini. Dia tampak bagaikan Hayley Williams dari Paramore. Cerdas, dan ditambah lagi seorang gamer plus kutu buku seperti Matt.
Aku duduk dan kami mulai ngobrol tentang yang terjadi kemarin. Dia mendengarkanku dengan serius lalu senyum-senyum. "Dia itu beneran tersenyum padamu. Matt yang bilang kalau Mello memang suka naik motor ngebut."
"Aku ikut senang kalau nggak cuma aku yang merasa begitu."
"Percaya deh, kamu sudah membuatnya merasa sangat lebih baik."
Aku nggak bisa menyembunyikan senyum dan wajah memerahku saat beralih pada tugas Bahasa Inggrisku. Mary mengetik pesan balasan dengan kedua tangannya. Lalu dia meletakkan ponselnya dan bertanya kenapa aku blushing. Aku cerita padanya tentang tugas aibku dan dia sampai jatuh dari kursi saking tak bisa menahan tawa kerasnya.
Bel masuk berbunyi. Mary kembali ke kursinya. Kami memperhatikan pelajaran di kelas sebaik-baiknya. Aku nggak tahan untuk nggak merasa eneg pada diriku sendiri yang mengharapkan sesuatu yang lebih.
Kami diberi tugas berikutnya untuk membaca sebuah cerita, setidaknya 5 lembar hingga akhir pekan. Itu berarti kami membaca satu lembar per hari. Aku jadi penasaran cerita macam apa yang harus kubaca.
Ternyata itu buku "The Fault in Our Stars". Aku cuma bisa mendesah. Bukan hanya karena aku sudah baca, tapi ceritanya juga bikin depresi. Padahal aku ingin sesuatu yang menyenangkan. Aku sudah tak peduli lagi. Aku bahkan meninggalkan kelas meski bel masih lima menit lagi.
Setelah ini adalah kelas Matematika.
Linda datang dan bergabung denganku. Aku senang. Linda juga berkencan dengan seseorang dari tim baseball. Cowok yang satu ini bernama Near. Posisinya di baseball adalah third baseman.
Mereka berdua adalah para penyelamatku di Matematika. Near akan memberi jawabannya ke Linda dan aku mencontek punya Linda. Curang sih, tapi ini satu-satunya cara supaya setidaknya aku bisa lulus dari standar minimal kompetensi.
"Misa menyebarkan berita bagus dan mengucapkan selamat kalau kamu akhirnya punya seseorang juga dari tim baseball dan orang itu adalah si pitcher. Wow," seru Linda memulai topik kami.
"Kamu punya 57% kemungkinan bakal putus sebelum akhir tahun," kata Near.
"Jadikan 100% saja sekalian karena kami nggak pacaran. Plus, aku sungguhan tertarik padanya tapi dia nggak," gumamku sedih.
Aku terus mengikuti semua kelasku hingga akhirnya tiba jam makan siang. Misa menyudutkanku begitu kelas selesai. Dia mendesakku untuk cerita detail soal kemarin. Akhirnya aku membeberkan semuanya padanya.
Selesai cerita, aku hanya ingin makan dan nggak mau diganggu. Aku bergegas mengambil makan siangku beserta sepotong cake dan menyantapnya sambil mengamati semua orang. Masih ada 4 kelas lagi sampai aku harus mengatakannya juga pada Takada. Aku memutar "Tears of An Angel" dari ponselku dan mendengarkannya.
Setelah itu, aku kembali ke kelasku. Kelas yang seharusnya bagaikan angin segar ini adalah Biologi. Aku masuk dan duduk di samping Matt. Ini satu-satunya kelas yang aku nggak bareng dengan teman-teman cheers-ku.
"Hei," aku menyapa si Rambut Merah.
"Hei." Dia balas menyapa dan tersenyum.
Aku senang punya seorang teman di sini. Kuputuskan untuk minta bantuan pada Matt tentang bagaimana mendekati teman baiknya. Matt bilang kalau Mello adalah tipe yang peduli dan nggak akan membiarkan orang yang dipedulikannya tersakiti. Aku bertanya soal pendapat Mello tentang Misa dan Takada.
"Mello nggak akan betah dengan satu pun dari mereka."
Aku terkejut mendengarnya. "Kenapa? Hampir semua cowok bahkan rela bunuh-bunuhan hanya supaya dapat kesempatan dengan Misa ataupun Takada," sahutku.
"Mello suka cewek yang cerdas dan loyal. Dia ingin dibuat bergairah saat menatap cewek itu. Misa nggak cerdas dan hanya loyal pada Light seorang. Takada memang pintar tapi dia jutek dan nggak loyal."
"Sayu! Matt! Kalau obrolan kalian nggak ada hubungannya dengan materi kelas, sebaiknya kalian berhenti sampai di situ."
Teguran dari guru membuat kami menghentikan obrolan kami dan kembali berkonsentrasi pada pelajaran. Aku baru menyadari kalau guru kami sedang menjelaskan tentang hubungan seks dan reproduksi.
Matt menyikutku sembari berkata pada guru, "Sebetulnya kami sedang berbicara tentang memilih pasangan untuk melakukan tindakan seksual."
"Benar," sahutku mengikuti Matt. "Sebagai contoh, Mellus Homo Sapious harus dirangsang secara mental untuk memilih pasangan yang memiliki gen yang disukainya dan mau bereproduksi dengannya."
Seisi kelas tertawa karena aku sudah membuat lelucon dengan menjadikan Mello sebagai makhluk ciptaan baru, bukannya manusia. Matt bahkan terbahak dua kali lipat saat guru menjelaskan bahwa tak hanya spesies Mellus saja yang membutuhkan ritual semacam itu.
Guru kami mulai bicara panjang lebar tentang kebiasan memilih pasangan saat melakukan seks dari masing-masing spesies yang berbeda-beda. Yang paling nggak kusukai adalah laba-laba. Spesies betinanya akan memangsa spesies jantan bila si jantan tidak melakukannya dengan baik, atau malah melepaskan diri sebelum waktunya.
Kelas ini betul-betul bagaikan angin segar.
Selanjutnya adalah pelajaran Sejarah. Rupanya Matt mengirim pesan pada Mary tentang nama latin baru dari spesies Mello. Mary jadi menggodaku selama aku menulis catatan di kelas. Aku bagus dalam hal mencatat pelajaran. Aku nggak perlu belajar lebih dan cukup mengandalkan catatanku saja.
Aku suka pelajaran Sejarah karena gurunya nggak membuat kami harus membaca buku teks. Beliau mengajarkan kami kata-kata kunci dan poin pentingnya sehingga kami nggak perlu membahas sampai detail terkecil.
Begitu kelas sudah hampir selesai, aku ngobrol lebih banyak dengan Mary tentang kejadian di kelas sebelumnya. Akhirnya bel berbunyi dan aku sekali lagi keluar dari kelas yang sungguh menyenangkan.
.
.
.
.
.
DAFTAR ISTILAH:
First baseman : penjaga base pertama di baseball
Third baseman : penjaga base ketiga di baseball
KAMU SEDANG MEMBACA
HOMERUN (Translated)
FanfictionSayu Yagami adalah seorang cheerleader yang diam-diam naksir pitcher andalan klub baseball di sekolahnya. Akan tetapi, menjadi seorang cheerleader tidaklah mudah. (Diterjemahkan dari fanfiksi Death Note AU! milik "Demonic Mello". Please visit the or...
