Enam

3.2K 187 4
                                        

Alex menawarkan diri untuk menjemput Anggi, Anggi setuju, tapi tidak di depan rumahnya. Alasannya? Anggi tidak ingin jadi bahan gosip ibu-ibu komplek—terlebih jika pembantu Teo melihatnya dijemput seseorang—pasti nantinya Teo juga akan tahu—dan Teo yang merupakan seorang bintang mendadak ganti profesi menjadi pengacara. Jadi—ya—Anggi terpaksa berjalan sampai ke mini market yang bisa dibilang dekat komplek tapi lumayan jauh jika jalan kaki. Anggi memilih di jemput di sana.

Beberapa menit kemudian—mungkin sekitar lima belas menit—sedan mewah berhenti di dekatnya. Anggi yang duduk langsung berdiri. Dia tidak peduli siapa pemilik mobil dan tidak peduli siapa yang ada di dalam mobil. Anggi berdiri karena takut dan bersiap untuk berlari kalau yang keluar dari mobil adalah orang tidak dikenal dan ingin menculiknya. Jangan salah paham, Anggi tidak ingin berburuk sangka, dirinya seperti itu karena otaknya sudah diracuni oleh film culik-menculik. Ketika kaca jendela depan mobil digulir barulah Anggi legah.

Ternyata itu om Alex!

"Om Alex!" seru Anggi bersemangat. Teriakan Anggi menyebabkan kaca jendela di belakang juga ikut bergulir. Lalu pintu dibuka dan sosok kecil berlari menghampirinya. Itu Dimas. Anggi dipeluk sangat erat lalu ditarik menuju mobil.

Pria yang memperhatikan interaksi mereka menggeleng dan tertawa kecil. Alex senang Dimas bisa cepat akrab dengan Anggi. Dan sepertinya Anggi bisa memahami setiap gerak-gerik Dimas tanpa harus bicara.

Mengajak Anggi adalah pilihan yang tepat....

"Karena jam segini pasar malam sudah dibuka, gimana kalau kita ke pasar malam?"

Kompak Anggi dan Dimas mengangguk. Seumur hidupnya Anggi hanya pernah sekali ke pasar malam, itu pun saat Anggi masih kecil. Jadi Anggi sangat penasaran dan ingin mencoba semua wahana.

Mata Anggi berbinar melihat keramaian di sana, melihat lampu-lampu. Melihat wahana-wahana yang bergerak, dan melihat permen kapas.

Hal pertama yang Anggi inginkan adalah permen kapas. Tapi ketika merogoh kantongnya, tidak ada sepeser pun. Anggi lupa membawa uang! Anggi sedih, tapi Anggi tidak bisa merengek minta dibelikan. Anggi tidak terbiasa meminta pada orang lain selain Anna dan Teo. Akhirnya Anggi hanya bisa menelan keinginannya.

Alex adalah pria yang sangat peka pada lingkungan sekitar dan mengetahui keinginan Anggi yang sangat jelas. Matanya berbinar saat melihat permen kapas dan bersedih setelah meraba kantong celananya. Alex tertawa. Alex tahu meskipun Anggi bertubuh mungil dan memiliki wajah tidak seperti diusianya Anggi pastilah bukan anak sekolahan lagi. Tapi gerak-geriknya tidak kalah dari anak SD. Dan anehnya Alex sangat menyukai ekspresi putus asa dari Anggi.

Setelah puas menikmati ekspresi sedih Anggi, Alex akhirnya membelikan dua permen kapas. Satu untuk Anggi dan satu untuk Dimas. Setelah membeli itu mereka bertiga berjalan bergandengan dengan Alex di tengah-tengah.

Suasana pasar malam sangat ramai. Alex benar-benar takut kehilangan salah satu diantara mereka jadi Alex nengusulkan untuk saling bergandengan tangan dan tidak boleh dilepaskan.

Karena Dimas masih di bawah umur mereka tidak bisa mencoba semua permainan. Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk bersenang-senang. Mereka juga mengambil beberapa foto dengan menggunakan bandana kelinci. Awalnya Alex menolak memakai benda terkutuk tersebut, tapi karena Anggi memohon padanya Alex terpaksa meletakan bandana tersebut di atas kepalanya.

Ckrik...

Ini foto kelima mereka. Awalnya Alex risih dengan benda yang berada di atas kepalanya tapi setelah foto kedua diambil Alex mulai menikmatinya. Dia bahkan ikut mencoba berpose sok imut seperti yang Anggi dan Dimas lakukan.

Sugar DaddyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang