Part 4

761 46 5
                                        

Rain bergumul di kasurnya. Ia tak bisa tidur sama sekali, saat ia pulang dari tempat tak jelas. Rumahnya sepi. Papa dan Bundanya pergi. Jadi Rain dirumah sendirian.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Rain duduk di meja belajar. Mulai bergambar sesuatu, gambar mata. Sorot matanya yang tajam. Rain berhenti menggoreskan pensilnya.  "Siapa ya?"

Buruan? Apa maksudnya. Ucapan Ivan masih tertanam jelas di pikirannya. Rain pusing. Ia lebih milih keluar kamar terus berjalan ke ruang TV, ia duduk. Ia setel TVnya muncul berbagai macam jenis sinetron, drama. Terkecuali kartun.

Rain matikan TVnya karna tak seru. Ia ngutak atik ponselnya. Dari pindahan kemarin ia belom menyalakan ponselnya. Ponselnya masih jadul. Nokia kecil tak berkamera.

Hanya bisa buat telpon dan sms. Pernah sekali ia dibelikan hp android tapi tak ia pakai. Hp itu pemberian dari Papanya. Karna Rain berhasil dapat juara pas disekolahnya dulu.

Rain ngambil hp androidnya. Ia nyalakan layar hpnya. Itu masih baru. Belom ada jejak sedikitpun. Akhirnya hari ini tiba. Sepertinya hp ini akan berguna untukku. Disekolah baruku. Rain tersenyum.

Ia mulai mendownload apk whatApps, ia daftarkan nomornya. Ia buka profile. Tak ada foto, tentu saja ia belom ngambil gambar dirinya sendiri. Dia ganti gambarnya gambar kucing. Ia jadikan photo profilenya.

Rain kembali download apk FB. Dia mulai mencari nama sahabatnya. Tak ditemukan. Rain meneteskan airmatanya. "Kau dimana Ev? Apa kau tak rindu denganku? Kemana lagi aku harus mencarimu. Aku lelah.. Tapi aku ingin melihatmu sekali ajah, walau semua itu tak mungkin. Hiks.."

Layar ponselnya berair, Rain menghapus air matanya. "Dasar cengeng kau Rain. Pasti Eve tidak akan menyukainya"

Eve sahabat kecil Rain yang pergi entah kemana. Sebagai sahabatnya Rain tak diberitahu kemana Eve pergi. Rain pernah sekali kerumahnya. Tapi yang dia tau sahabatnya telah pergi. Menghilang tanpa jejak.

Rain pergi ke dapur mencari cemilan dan hasilnya zonk. Tak ada apapun. Rain menghembuskan napasnya panjang. Dengan langkah lesu ia balik ke kamarnya. Merebahkan dirinya ke kasur.

"Ah, ku bosan" keluhnya.

Rain buka ponselnya, ia mulai mencari game seru. Ia donlot-donlotin tuh game. Betewe. Kartu yang dipake Rain ada kuotanya. Udah lama dianggurin terakhir ia isi pulsa. Jadi pulsanya banyak.

Menghilangkan kebosananan yang hakiki ia mulai bermain game onlen. Dan Rain yang menang. Itu hanya sesaat. Rain telpon bundanya.

Tutttttttttt....

"Bunda, Rain laper"

"Maaf ya sayang bunda lupa masak buat kamu, bunda lagi arisan. Coba kamu cari ditumpukan dompet, sepertinya bunda nitipin duit buat kamu beli buat makan"

"Bunda jahat, lebih milih arisan ketimbang aku anakmu darah dagingmu huhu"

"Hihi, ya maaf. Ini kan buat tambahan. Bunda tutup dulu ya sayang. Kalau keluar rumah kunci pintunya. See you"

Tuttttttt

Rain bergegas mencari uang yang ditaruh bundanya ditumpukan buku, gak nemu. Ia cari ke kamar bundanya. Ketemu. Oke ada duit limapuluh ribu. Raib ambil terus Rain ganti baju tuk beli makan diluar.

Ia pakai hodie putih. Celana jens. Terus pakai topi karna diluar panas pake banget. Tidak lupa ia pakai masker anti debu. Rain masukkin ponsel bututnya ke dalam saku.. Mending cari aman.

Rain keluar rumah, kunci pintu dan pergi berjalan kaki. Di sekitaran komplek banyak orang berlalu lalang. Tapi tidak ada yang warung ataupun yang lainnya. Terpaksa Rain keluar komplek.

Ia nyebrang, ia berjalan lurus. Terus berhenti, tepat di depannya ada warung tapi banyak anak laki-laki pada kumpul. Rain berbalik terus nengok. Tak ada satupun cewek yang ada disana. Kebanyakan dari mereka ya perokok.

Motornya juga banyak, terparkir asal. Rain pergi dari sana. Ia tidak ingin berdekatan dengan orang-orang rusuh.
Rain sudah berjalan jauh, sialnya gak ada warteg yang buka semuanya tutup. Terpaksa ia kembali ke jalan utama. Ia memberanikan diri tuk mendekat, ia mengencangkan hodi dan maskernya. Mukanya sengaja tak terlihat, hanya terlihat matanya saja. Rain mendekat.

Sekumpulan remaja ada yang menatapnya terang-terangan. Ada juga yang bersiul. Rain maju terus tanpa menoleh sedikitpun.

Tepat di depan warung. Untungnya yang melayani Ibu-ibu. Rain liat makanan yang tersedia. Matanya melirik kanan-kiri.

Aneh, ku merasa diliatin tapi siapa?

"Mau beli apa neng?" tanya si Ibu. Rain buka maskernya. "Saya beli nasi + lauknya ya bu. Seporsi ajah"

"Tunggu bentar ya neng. Silahkan neng duduk dulu" ucap si Ibu itu.

Rain melipir, kursi disana benar-benar penuh. Tak ada yang kosong. Ada pun dia ogah duduk diantara para lelaki itu. Mereka memandangnya minat.

"Weh minggir-minggir. Neng geulis mau duduk disini. Sisakan kursi kosong" seru salah satu dari mereka.  Rain terdiam kaku. Masalahnya tuh depan belakang. Kanan-kiri COWOK SEMUA. Astajin yang cewek cuman Rain dan tukang jualan.

"Sini neng, duduk samping abang"

Pletak!

"Abang tukang bakso, mari-mari sini"

Si abang-abang tak jelas malah nyanyi. Entahlah, Rain merasa tak nyaman. Tapi dia tersentak tatkala ada yang menarik tangannya. Rain nengok, ternyata ada satu cowok berkacamata dia narik Rain duduk di dekatnya. Catat! Didekatnya.

Antara bersyukur dan tidak. Dikarenakan, dirinya jadi pusat perhatian banyak orang. Rain berbisik pelan, "Gak apa nih aku duduk disini"

Si cowok itu angguk, "Ya"

Rain berucap, "makasih"

Cowok berkacamata itu lirik Rain. Ia tersenyum tipis. Sangking tipisnya tak terlihat oleh siapapun. Giliran Rain yang terpanggil. Rain berdiri ia bayar tuh makanan. Terus mendekat ke dia.

"Em, duluan ya" pamit Rain. Rain berbalik terus pergi dengan berjalan cepat. Si cowok berkacamata itu juga pergi dengan motornya. Yang lain bengong.

Rain berjalan seorang diri, ia liat kebelakang. Untung gak diikutin. Huft! Tapi siapa ya cowok baik itu? aku lupa menanyakan namanya? Ah taulah..

Rain berkalan di depan. Satu motor terlihat di belakanganya. Laju motornya cepat dan gesit ia berhasil memblokir jalan Rain. Rain memekik kaget.

"Woy, kalau bawa motor tuh hati-hati"

Motor itu berhenti, ia buka helmnya. Rain terpaku, cowok itu turun dan bersender di kursi motornya, ia bersidekap dada.

Rain mengeryit, "Kamu...kan yang tadi"

Si cowok itu ngangguk, ia mendekat ke arah Rain. Keduanya tak ada jarak. Rain memiringkan wajahnya. Ia mengikuti.

"Kenapa?" tanya Rain bingung.

Si cowok mengulurkan tangannya. Rain menautkan alisnya. "Hah?"

"Nama lo siapa?" tanyanya lembut.

Rain berdehem pelan, "Rain" balasnya.

"Rain? Artinya hujan? Tapi ini sedang panas" gumamnya kecil. Rain menyeru.

"Lalu, apa hubungannya?" tanya Rain balik. Dia menjawab. "Tak ada, aku hanya ingin mengenalmu"

Rain melongo, dia teringat akan sesuatu.

"Makasih untuk yang tadi, tapi kau siapa?, aku tak mengenalmu"

"My name is Calvin".. --- Izinkan aku mengantarmu pulang. Rain"

"Tak usah, aku bisa pulang sendiri"

Vin naik ke atas motornya. Ia bersikukuh mengajak Rain ikut bersamanya.

BRUMMM... BRUMMM...

"Naiklah"

Dengan terpaksa Rain menerima ajakannya.

---Devil or Angel---

Siapa Vin? Siapa dia? Apakah dia dapat dipercaya atau tidak?

Devil or Angel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang