Even though I hate you, I love you more.
-
Seoul, South Korean
Selama berada di Santorini, Jimin dan Anna sama-sama memutuskan untuk tidak berlama-lama memainkan ponsel. Mereka pulang ke negaranya dua hari sebelum mereka bekerja lagi. Hari ini, masa cuti keduanya selesai. Mereka sama-sama kembali bekerja lalu pulang saat petang.
Sejak pulang dari Santorini, Jimin tiba-tiba saja sensitif dengan hal-hal kecil. Bahkan untuk kesalahan kecil yang Anna buat, Jimin sudah meluap-luap.
"Tolong, Anna. Aku sedang pusing, mengertilah sedikit."
"Ada apa sih dengan perusahaanmu sampai-sampai semenjak pulang berlibur semua kesalahan kecil kau permasalahkan?" cecar Anna. Jimin melempar jas nya ke ranjang, menatap Anna jengah.
"Bisa tidak kau biarkan aku berfikir dulu tanpa kau ganggu?"
"Oh. Jadi selama ini aku membantumu itu hanya kau anggap mengganggu?" Anna melipat tangannya, menatap Jimin dengan menantang. Jimin melepas dasinya, enggan menggubris kalimat cercaan Anna.
"Jimin!"
"Apa sih, Anna?!" Jimin membentak balik Anna sontak membuat Anna menutup mulutnya rapat, terkejut. Jimin mendengus, "Diam dan biarkan aku mendinginkan kepalaku dulu." Ujar Jimin dengan nada yang begitu acuh.
"Tidak bisa. Aku sudah membiarkanmu beberapa hari bersikap sesukamu setelah kita pulang ke Seoul. Apa masalahmu sebenarnya?"
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Ujar Jimin. Anna menggeleng, tidak habis pikir dengan suaminya. Sebesar apa masalahnya sampai Anna tidak boleh mengetahuinya?
Jimin berjalan melewati Anna, meninggalkan Anna negitu saja. Anna berbalik, mengejar Jimin lalu menahan tangannya sembari berucap, "Kau. Kau menyembunyikan apalagi dariku?"
"Cukup, Anna!" Jimin menepis tangan Anna bersamaan dengan ia yang membalikkan tubuhnya menghadap Anna. Anna mengaduh lantaran Jimin terlalu kasar melepaskan tangannya. Tubuhnya terhuyung kemudian jatuh terduduk di lantai. Anna terkejut bukan main, begitupula dengan Jimin. Air mata Anna meluruh dalam diam dengan tangan yang bergetar.
"Anna, maaf."
Jimin berjongkok, meraih kembali tangan Anna. Anna menepis tangan Jimin, ia menyeret badannya mundur, menjauh dari Jimin. "Jangan menyentuhku."
"Anna."
"Aku tidak peduli lagi. Aku tidak peduli dengan segala urusanmu." Anna terisak. Ia takut dengan Jimin. Tidak cukup dengan Taehyung yang sudah melakukan hal yang sama dulu, menampar bahkan mendorong Anna. Lalu kini Jimin pun menjadi monster seperti Taehyung.
"Katamu kau tidak seperti Taehyung?"
"Kenapa kau membawa-bawa nama keparat itu?" ucap Jimin tidak terima. Air mata Anna mengalir deras, tidak mengerti kemana perginya Jimin yang dulu ia kenal. Anna menggeleng, hatinya benar-benar sakit.
"Urus saja urusanmu sendiri." Anna berucap sembari beranjak berdiri. Jimin sontak berdiri juga, menahan pergerakan Anna. Anna menatap Jimin penuh sorot benci.
KAMU SEDANG MEMBACA
Limitless ✔
Короткий рассказAnna mencintai Jimin seperti icarus mencintai matahari. Semakin dalam, semakin sakit.
