Anna pernah meminta Jimin untuk tetap disisinya. Namun, kini ia sendiri yang memutuskan untuk pergi, menjauh dan menjaga jarak. Sekalipun Anna tidak pernah mengangkat telefon Jimin barang sejenak. Detik demi detik, hari demi hari berlalu. Anna menemui Namjoon hari ini, memberikan sebuah surat gugatan cerai yang harus segera Jimin tanda tangani untuk mempercepat proses sidang. Namjoon menatap Anna dengan pandangan yang sulit untuk di definisikan. Sedangkan Anna, hanya tersenyum dan menghela nafas.
"Anda tidak ingin mengunjunginya sekali saja?"
Anna hanya menggeleng atas pertanyaan Namjoon. Namjoon lantas menerima surat gugatan yang ada di tangan Anna, membaca kata demi kata yang tertulis disana. Namjoon menghela nafas, mengangguk mengerti.
"Kondisinya menurun beberapa hari ini. Anda yakin tidak akan menemuinya?"
Alih-alih menanggapi pertanyaan Namjoon, Anna justru mengganti topik pembicaraan mereka.
"Oh iya. Aku turut berduka atas meninggalnya anakmu."
Namjoon hanya tersenyum menanggapinya. Sudah terlambat untuk memperbaiki semua yang ada pada rumah tangga Jimin. Baiklah, Namjoon menyerah sampai disini saja membantu atasannya.
"Terimakasih. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Anna menggigit bibirnya usai Namjoon beranjak dari duduknya. Membungkuk sembilan puluh derajat dan melenggang pergi menuju pintu utama caffe yang keduanya tempati untuk mengobrol. Dirinya tengah menimbang-nimbang suatu hal. Iya, tidak. Iya, tidak.
Pada akhirnya, Anna putuskan untuk berdiri dan memanggil Namjoon. Lelaki jakung tersebut menghentikan langkah, menoleh pada seorang wanita yang masih berstatus menjadi istri atasannya itu. Namjoon menatap Anna bingung, hendak menanyakan ada apa. Kata-katanya sudah sampai pada tenggorokan, namun Anna lebih cepat bertindak. Meraih tangan Namjoon lalu meletakkan kotak pil dan kapsul yang bersisi beberapa jenis obat beserta vitamin ditangannya.
"Ini obat yang biasanya diminum Jimin untuk pusing dan deman, lalu ini obat lambung bila tidak nafsu makan dan mual, kemudian vitamin."
Namjoon menatap kotak penuh obat itu penuh makna. Usai membungkuk sebagai tanda hormat, Anna melenggang pergi mendahului Namjoon yang masih bengong. Tangannya menggenggam kotak obat lucu dengan gambar kartun bakpao tersebut.
Namjoon menyadari satu hal. Bahwa, Jimin dan Anna sebenarnya masih saling memperhatikan satu sama lain, masih saling mencintai setelah berbagai hal telah terjadi diantara keduanya. Baru kemarin, Jimin memberikan pada Namjoon berbagai macam makanan ringan, beberapa kotak susu untuk ibu hamil dan vitamin untuk dipaketkan pada Anna, tidak boleh memberikannya secara langsung dan Anna tidak boleh tahu bahwa paket tersebut dari dia. Jadilah Namjoon seorang burung merpati perantara antara hubungan keduanya.
________
Jimin menerima sebuah kotak obat kecil dari Namjoon. Seluruh atensinya berpindah pada benda mungil pemberian Namjoon. Ia mengenali kotak obat lucu di tangannya yang jelas-jelas bukan tipe lelaki tulen itu.
Kepala Jimin semakin berdenyut nyeri. Kata Namjoon, badannya panas bukan main. Bibirnya kering dan seluruh badannya remuk, belum lagi hari ini ia harus bertemu dengan investor untuk bekerja sama dengan perusahaannya.
"Tablet ini untuk demam dan pu,"
"Ini untuk demam dan pusing, ini untuk mual, lalu ini vitamin." Potong Jimin sebelum Namjoon selesai menjelaskan.
Namjoon terdiam usai menghela nafas melihat Jimin yg kini menelungkupkan kepalanya di meja kerja. Kondisi Jimin buruk, sudah beberapa hari ini Jimin hanya makan saat jam istirahat kantor. Selebihnya, setiap pagi ia selalu mengumpat dan terburu-buru lantaran bangun terlalu siang hingga tidak sempat membeli sarapan. Dengan kondisinya yang seperti itu, Jimin masih saja bekerja pagi sampai malam terkadang lembur. Katanya, jika ia dirumah, kepalanya masih saja terngiang bayangan Anna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Limitless ✔
Krótkie OpowiadaniaAnna mencintai Jimin seperti icarus mencintai matahari. Semakin dalam, semakin sakit.
