11-; Jimin's Side

783 127 33
                                        

Hidup memang selalu punya kejutan. Ada yang awalnya baik-baik saja, menjadi tidak benar-benar baik. Ada yang terlihat seperti telah tercukupi semua kebutuhan kehidupan dan hati, nyatanya tidak seperti yang dilihat banyak orang.

CEO Harly Group yang baru, sosok pemimpin muda humble.

Resmi menikah, beginilah perjalanan cinta dari CEO Harly Group, Park Jimin sejak sebelum sukses yang menginspirasi banyak kalangan.

CEO Harly Group, Park Jimin dengan rumah tangganya yang harmonis.

Semua berita dan artikel itu kini terganti oleh sejumlah artikel yang bertanya-tanya mengenai penurunan kinerjanya serta banyak karyawan perusahaan yang penasaran mengenai keadaan rumah tangganya usai melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Jimin tengah berlutut di depan Anna; satu-satunya orang yang mampu membuat petinggi perusahaan itu berlutut dan memohon.

"Setelah semua kekacauan ini, apa yang akan kau lakukan?"

Namjoon bertanya dengan nada yang memojokkan. Memandang miris atasannya yang duduk di meja kerja kantor dengan tangan yang memijit pelipisnya. Namjoon telah Jimin rekrut lagi menjadi sekretarisnya karena lelaki itu telah pulang ke kampung halamannya.

Namjoon pindah ke luar negeri untuk pengobatan anak semata wayangnya yang kini sudah tidak lagi bisa bertahan dan pergi. Maka dari itu, Namjoon beserta istrinya kembali pada negeri gingseng itu dengan masih membawa beberapa butir kesedihan.

Namjoon telah menjadi assisten Jimin sejak Jimin masih menjabat menjadi manajer utama. Tentunya, Jimin seratus persen mempercayai Namjoon.

"Maaf. Saya gegabah menyarankan anda untuk merekrut Jihyo."

Jimin meraup wajahnya, menatap Namjoon dengan perasaan bersalahnya. "Bersikaplah seperti biasanya, hyung. Jangan terlalu formal."

Namjoon meringis, sedikit tidak enak hati lantaran mendengar suara serak Jimin. Jimin menyadarkan badannya pada punggung kursi, menutup matanya. Sakit sekali kepalanya, tidak bisa berfikir apapun.

"Bisa ambil alih pekerjaanku untuk sementara?"

"Baik." Ucap Namjoon. Namjoon terdiam sebentar, masih penasaran dengan pertanyaannya yang masih belum Jimin jawab.

"Aku tidak tahu harus bagaimana rumah tanggaku selanjutnya. Semua kacau." Jimin kembali merasakan denyutan di kepalanya. Masalah perusahaan yang menumpuk dan masalah rumah tangganya yang dalam masa kritis benar-benar membuat Jimin mendadak merasa kepalanya akan meledak sekarang juga.

"Apa sudah tidak bisa dibicarakan lagi dengan istrimu?"

"Hyung, aku menghamili Jihyo dengan kondisi malam itu Jihyo yang memegang semua kendali yang tidak aku inginkan."
"Lalu, Anna juga sedang hamil."

Bagaimana menyelesaikan semuanya sekaligus?

"Kerahkan anak buahmu untuk mengawasi Anna saja." Jimin semakin pusing rasanya saat mengingat Anna. Ia menyentuh hidungnya saat dirasa ada sesuatu yang mengalir menuju mulutnya. Jimin menegakkan badannya, mengambil beberapa tissue dari kotak tissue di mejanya dan mengusapnya. Semakin lama, lembar tissue dengan bercak merah itu bertambah semakin banyak.

"Apa perlu kupanggilkan dokter?"

Jimin menggeleng, menyumpal hidungnya yang masih saja mengeluarkan darah dengan tissue. Jimin memandang jam dinding di ruangannya, kemudian kembali menatap Namjoon.

"Ah, bukankah sekarang waktunya rapat?"

Namjoon mengangguk, "Kalau mau, akan aku gantikan, kau istirahatlah terlebih dahulu."

Lagi-lagi Jimin menggeleng. Ia menarik sumpalan tissue di hidungnya. Kemudian memastikan bahwa sudah tidak ada lagi darah yang menetes dari hidungnya. Jimin berdiri, memakai jasnya kemudian memasang kancing atas dan merapihkan pakaiannya.

"Aku akan tetap ikut sebagai pemanis. Tapi, aku percayakan rapat sepenuhnya padamu."

Namjoon berjalan di samping Jimin dengan membawa tas laptopnya. Mulai membicarakan masalah internal perusahaan yang akan di bahas rapat hari ini.

"Tunggu," Namjoon tiba-tiba menjeda kalimatnya, mengangkat telepon pada ponselnya yang berdering. Keduanya berhenti tepat di depan pintu ruang rapat.

Namjoon menoleh pada Jimin, wajahnya nampak kaget. Setelahnya, Namjoon mengucapkan terimakasih atas info dari anak buahnya.

"Ini gawat. Jihyo datang ke butik Anna dengan ibunya. Aku takut mereka akan mengacau disana."

"Apa?"

_________

Jimin turun dari mobilnya dengan terburu-buru. Berlari masuk ke butik istrinya. Matanya menjelajah seisi butik mewah milik Anna sampai akhirnya ia menemukan Jihyo beserta ibunya yang duduk di sofa tunggu sembari berhadapan dengan Anna.

Jimin berlari mendekati ketiga perempuan tersebut. Menghentikan langkahnya dihadapan Anna dan memunggungi ibu Jihyo yang tiba-tiba terlihat hendak menyiram Anna dengan minuman coklat dingin di tangannya. Punggung Jimin terasa dingin dan basah. Jimin masih sedikit menekuk kakinya dan menunduk menatap Anna yang berderai air mata.

Apa yang Jihyo katakan pada Anna sampai gadisnya menangis seperti ini?

Anna telihat terkejut lantaran Jimin datang tepat saat ibu Jimin menyiramkan minumannya. Anna memalingkan wajah, tidak berani menatap Jimin. Jimin menghela nafas, menghapus cepat air mata Anna dengan jemarinya kemudian menegakkan badannya penuh dan berbalik menatap Jihyo beserta ibunya.

"Nyonya bisa berbicara dengan saya sa-"

Plak!

Tidak tanggung, Jimin sampai terhuyung dibuatnya. Keras sekali tamparan ibu Jihyo. Kepalanya mendadak pusing setelah mendapat tamparan dari ibu Jihyo. Anna dan Jihyo berteriak tertahan.

Jimin mengusap darah yang kembali mengalir dari hidungnya. Jimin menegakkan badannya, menatap bergantian Jihyo dan ibunya kemudian matanya terhenti pada manik mata terkejut Jihyo. Gadis itu tidak berhenti untuk menghancurkannya.

"Bagaimana kau akan bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada anakku?" Ibu Jihyo menggeram, menatap Jimin penuh benci. Jimin menatap Jihyo penuh gurat kecewa.

Jimin masih belum bisa memutuskan ia harus bagaimana ia bertindak kedepannya. Dadanya perih, ia kembali mematap ibu Jihyo dengan pandangan terluka.

"Nanti malam akan saya bicarakan mengenai hal ini dirumah anda, jangan disini."

"Kenapa? Malu sudah menyelingkuhi istrimu dan menghamili anakku?"

Jimin menutup matanya dengan tangan yang terkepal, "Nyonya. Anda akan mendengar keputusan saya nanti malam. Untuk saat ini, saya mohon untuk meninggalkan saya dan istri saya dahulu untuk diskusi."

_____

Jimin dan Anna sama-sama terdiam setelah Jihyo dan ibunya meninggalkan butik. Keduanya di telan pikiran masing-masih, duduk berhadapan dengan pikiran semrawut.

"Lalu apa rencanamu?"

Anna memecah keheningan, membuat Jimin menatap manik mata istrinya. Anna tersenyum kecil, penuh luka di setiap tatapannya. Hati Jimin berdenyut nyeri, tangannya berkeringat.

"Kalau memang kau dan aku harus berpisah, aku tidak apa-apa."

Setetes air mata menetes dari mata Anna. Anna cepat menghapusnya, kemudian kembali tersenyum. Mata Jimin berkaca-kaca, menggeleng kecil. Jimin masih menginginkan Anna. Tidak boleh kemana-mana, egois sekali memang Park Jimin ini.

"Lalu apa? Sudah tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan, Jimin."

Sakit sekali. Anna hancur, Jimin juga. Air mata Jimin menetes tanpa permisi. Ia bahkan tidak bisa berkata apapun untuk menyangkal perkataan Anna. Memang tidak ada pilihan lain.

Anna menarik nafasnya saat air matanya kembali menetes. Ia tersenyum pahit, "Kita urus perceraian secepat mungkin dan nikahi Jihyo atas bentuk tanggung jawabmu."

TBC

Pecah akuuu pecahhhh

Limitless ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang