Still Your Brother (pt. 2)

99 8 4
                                        

Tangan Jiafeng memilin. Dia tengah duduk sendirian di depan ruang rawat Kris, Dongchen sedang pergi menemui dokter yang tadi menangani Kris saat di UGD. Sedangkan di dalam ruang rawat sana, Kris sudah membaik. Sebenarnya sudah boleh dijenguk, hanya saja Jiafeng tidak berani masuk. Di wajahnya terus terbayang ekspresi kesakitan Kris, sesuatu yang berbeda dari yang dia lihat di wajah datar dan angkuh Kris selama ini.

"Kau..."

Jiafeng mendongak mendengar suara wanita di dekatnya, mendapati seorang wanita berumur yang masih terlihat cantik dan elegan berdiri di sebelahnya. Haowei baru saja sampai di sana setelah menerima telepon dari Dongchen tadi, namun yang dia dapati di depan kamar rawat justru seorang pemuda yang tak dikenalnya. Seseorang yang sekilas terlihat mirip dengan mendiang suaminya, dan juga mirip dengan Kris.

"Yang ada di dalam, Kris bukan?" Haowei bertanya.

"Iya," jawab Jiafeng berusaha bersikap sopan. Dia kini berdiri untuk menunjukkan penyambutan yang lebih sopan kepada wanita yang tidak dikenalnya itu.

"Kau siapa?" kini wanita itu bertanya lebih lembut, memberikan senyuman tipis kepada Jiafeng.

"Jiafeng," jawab Jiafeng.

Haowei mengerutkan kening, sedikit terkejut tapi dugaan itu sudah dia miliki sejak beberapa saat lalu, "Li Jiafeng? Ternyata suamiku memiliki putra yang sangat manis," gumamnya yang berhasil membuat Jiafeng terpaku. "Bagaimana kabarmu nak?"

"Anda?"

"Aku ibu Kris, kau bisa menganggapku ibumu juga."

Mata Jiafeng mengerjap, dalam ingatannya seumur hidup baru kali ini dia bertemu dengan Haowei -- istri pertama sang ayah. Diluar bayangannya, Haowei tidak berkata atau berlaku buruk padanya, tidak seperti Kris. Apa Haowei menerima kehadirannya? Atau itu hanya akal-akalannya saja? Jiafeng kembali mengerjap ketika dia sadar bahwa dia telah berprasangka buruk.

"Kau sering bertemu dengan kakakmu ya? Sayang sekali anak tidak tahu diri itu tidak pernah mempertemukanku denganmu, sejak dulu dia menghindarkan kalian dariku."

Kakak.

Benar juga, bagaimanapun Kris kakaknya bukan?

"Kenapa tidak masuk?"

Jiafeng hanya menggeleng, menundukkan wajah karena enggan mengakui kalau dia ragu masuk kedalam sana. Tidak ada penolakan dari Jiafeng saat Haowei membimbingnya untuk duduk.

"Jangan khawatirkan kakakmu, dia sudah sering seperti ini. Itu tidak akan membuatnya mati, orang seperti dia mana mungkin mati dengan mudah."

'Khawatir?' tanya Jiafeng dalam hati.

Lelaki itu mengerutkan dahinya, apa dia terlihat khawatir? 'Ah masa bodoh, Kris matipun aku tidak peduli,' batinnya lagi. Namun dia mengingat apa yang dilakukannya hari ini. Dia panik saat melihat Kris collapse di depannya, dia bahkan mengikuti Dongchen yang membawa Kris ke rumah sakit.

'Tapi aku tidak khawatir!' Jiafeng masih membantah.

Hingga ada hal lain yang mengusiknya, Jiafeng menoleh menatap Haowei yang tengah merenung di sebelahnya.

"Kris sering seperti ini?" tanyanya pelan.

Haowei menatap Jiafeng dan mengangguk, dari pertanyaan Jiafeng dia semakin yakin bahwa putra kedua suaminya itu tidak tahu tentang kondisi kesehatan Kris sebenarnya.

"Kenapa?"

"Cystic Fibrosis, kau pernah mendengarnya?"

Jiafeng menggeleng.

In Our GALAXY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang