GARIS 8

28 4 2
                                    

"Halo"
"Iya kenapa nggas?"
"Besok malam ada acara?"
"Malam sih kosong kalau pagi ada"
"Pagi mau kemana?"
"Papa ngajak ketemu sama temennya"
"Aku malem kok ngajaknya"
"Oh oke tapi liat besok lagi ya takutnya papa ada acara lagi, ketemuan dimana?"
"Besok ku kabari deh, yaudah hati- hati ya"
"Kamu juga, bye"
"Bye"

Telfon kututup, saatnya istirahat dan bersiap untuk besok.

Esoknya aku memutuskan untuk mengajak Alloera bertemu di kafe mas Galang, karena kafe tersebut sangat baik secara interior dan euphoria nya.

Me:
Jam 20.00 di kafe "G&A" see you.

Aku juga sudah mempersiapkan kalimat demi kalimat yang akan kuucapkan nanti.
Semakin cepat waktu berlalu maka semakin cepat jantungku berdetak.

Jumat 10 Januari 2019, pukul 19.30 WIB

Aku bersiap dan segera menuju tempat yang telah aku janjikan. Aku sampai disana tepat pukul 20.00, Jakarta sangat macet ditambah dengan banyaknya pengendara motor. Aku memesan meja di ujung kafe, jaga- jaga jika Alloera ingin muntah mendengar kalimatku nanti.

Pukul 20.15 Alloera datang.

"Telat lagi deh" Katanya.

"Biasa aja kali" Balasku

"Udah pesen makan?" Tanyanya

"Belum nih nungguin kamu, pesen sekarang aja ya"

"Oke"

Aku melambaikan tangan ke pelayan dengan memanggilnya.

"Caffe latte deh mas 1, kamu?" Tanyaku.

"Green tea latte" Jawabnya

"Makan?"

"Aku nggak deh, tadi dirumah udah" Jawabnya.

"Yaudah mas itu aja"

Pelayan pergi meninggalkan kami.

"Tadi ada acara apa sama ayah?"

"Tau tuh, ketemu temennya tapi ngajak- ngajak aku, katanya temennya suka sama aku, dih"

"Tumben loh ayah kamu jodohin sama seseorang, padahal dia gak mau kamu pacaran"

"Ya tapi aku gak mau pacaran sama yang dia kenalin"

"Maunya? Ta'aruf an?"

"Dih apaansih"

Sambil mencubit lenganku. Kami tertawa bersama. 10 menit basa- basi, minuman kami datang.

"Oh iya ngomong- ngomong, kamu ngajak ketemu kenapa?"

"Ya gak papa, kan lusa aku udah pulang, besok juga lagi sibuk"nya nyari oleh- oleh buat keluarga di Melbourne"

"Oh iya aku lupa kamu bentar lagi pulang, Besok juga aku sibuk banget ngurus kampus" Timpalnya

"Semangat ya kuliah bersama kemacetan dan panas" Balasku.

"Apaan sih nggas, terus aja menggiring opini kalau jakarta tuh jelek"

"Bukan opini lagi ini mah, fakta" Jawabku.

Ia marah sambil memukul lenganku. 20 menit berlalu dan kami masih dalam situasi tak ingin membuka inti obrolan. Lalu dengan keberanian ku aku memutuskan untuk memulai inti obrolan.

"Jad-"

"Oh iya kayaknya aku kenal deh ama nih kafe"

Belum sempat aku selesai mengucapkan kalimat ku.

"Iya ini kafenya temenku, kamu kenal?" Tanyaku.

"Namanya?"

"Galang...., Galang Putra Abraham"

"Hah?! , itu temennya papa tadi yang ketemu sama aku, yang kata papa dia suka sama aku"

"Ohhh.....hah?! Apa!??" Kagetku.

"Lah kamu kenapa ikutan kagett"

Bentar, berarti yang dimaksud Galang kemarin Alloera dong? Selesai sudah. Aku mencoba bersifat se normal mungkin.

"Gak, aku gak kaget kok, kaget dikit sih soalnya kemarin dia bil-"

Titingtung tingtung titingtung.... *dering hp

"Bentar papa nelfon" Katanya.

Sekali lagi, bahkan kalimatku belum selesai.

10 menit menunggu percakapan antar Alloera dan papanya.

"Yah aku harus cepet pulang, temen papa datang lagi, siapa tadi namanya?"

"Galang?" Jawabku.

"Nah iya gitu deh, bye nggas aku cepet- cepet, besok kalau sempet aku temenin cari oleh- oleh, kalau gak sempet titip salam sama ayahmu, hati- hati ya" Ia pamit sambil beranjak dari kursi.

"Eh iyaa hehehe" Jawabku

Gagal sudah rencana ku, satu- satunya harapan terakhir adalah besok. Aku masih melamun di meja, bagaimana bisa Galang adalah sainganku saat ini, dan pastinya ia memiliki kesempatan yang lebih besar bersama Alloera karena ia di Jakarta. Aku membayar minuman tadi dan beranjak pergi ke apartemen.

Aku pulang dengan wajah lusuh, bingung dan sangat heran bagaimana bisa rencana ini hancur berantakan. Sesial inikah aku? Besok aku harus sempatkan bertemu lagi dengan Alloera.

Me:
Ma minggu pesawatnya jam berapa?

Selamat malam.

Identity (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang