GARIS 11

18 2 0
                                    

"Gila sih lu, masa gitu doang marah" Ucap Denta.

"Anjir, lu kira gua goblok, ini kopi mahal Den!!!" Jawabku.

"Yaudah sih nanti gua beli in lagi" Balasnya.

"Sok- sok an lu pakai kata gua, biasanya juga aku"

"Biar keren"

"Kita di Melbourne udin, bukan di jakarta"

"Eh btw gimana cewek indo yang pernah lu cerita dulu?" Tanya nya.

"Yang mana?"

"Kayak banyak aja cewe lu"

"Kenyataan sih itu" Jawabku.

"Siapa? Aldora, Eh Gapura, siapa sih, lupa gua" Tanya nya.

"Ha? Alloera?"

"Iya bener itu"

"Kampret jauh banget sampai gapura, bodo ah gua udah gak tau, udah 2 tahun juga kan"

"Iya sih, padahal lu dulu galau banget kan?"

"Dih kagak, biasa aja, lu ada kelas hari ini?" Tanyaku.

"Ada sih, lu?"

"Kosong"

"Enak banget dah, yaudah pulang sana, masuk kelas dulu gua"

"Gua tetep disini lah, lu sana yang masuk kelas"

"Serah lu dah, nanti malam gua nginep rumah lo ya"
Katanya sambil beranjak pergi.

   Denta adalah satu- satu nya teman yang benar- benar bisa aku percaya. Mengingat pertanyaannya tadi, aku membuka hp.

Alloera:
Hati- hati ya disana, berharap bisa bertemu lagi untuk kedua kalinya.

   Percakapan tadi kembali mengingatkanku akan dia, akan sulitnya melupakannya walau sudah dua tahun lamanya. Malu jika mengingat bagaimana bodohnya aku dulu, hanya karena takut membuat kebahagiaan orang lain hilang, aku melepaskannya begitu saja. Bayangannya selalu menghantui di pikiranku. Terkadang aku mencoba mencari tahu keadaannya, tapi pada akhirnya aku kembali lagi ke sifat alami manusia, gengsi.

   Aku juga sering berifikir, apakah setiap pasangan selalu mencintai satu sama lain, apakah mereka berpura- pura saling mencintai?

   Mungkin saja mereka berdua kelihatannya saling mencintai, memiliki rasa satu sama lain. Padahal salah satunya sudah merencanakan pergi jauh- jauh hari.




















Identity (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang