Waktuku di Jakarta kurang dari seminggu, ini hari rabu yang berarti ada sekitar 4 hari sebelum aku kembali ke Melbourne, aku juga sudah tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Alloera, terakhir kami bertemu hari senin, saat itu kami jalan- jalan mengitari Jakarta dan setelah hari itu kami hanya saling menyapa lewat chat singkat. Ia juga mengatakan bahwa ayahnya tak bersedia mengizinkan dia untuk kuliah di Melbourne.
Bingung dan khawatir terus memenuhi pikiranku, aku menyayangi Alloera lebih dari sekedar teman, tapi bagaimanapun aku dan Alloera sebentar lagi bahkan sudah terpisah antar dua benua. Semakin lama aku memikirkannya semakin bingung dan cemas, apakah aku harus jujur tentang perasaan ini? Atau tetap menyimpannya? Toh sesampainya di Melbourne aku pasti akan bertemu orang baru. Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul, aku terus memikirkan apa yang akan terjadi jika aku melakukan ini dan melakukan itu.
Aku tak percaya dengan LDR, pengalaman LDR biasanya akan berakhir dengan kalimat klasik seperti "aku ketemu orang lain".
Tapi bukankah mencoba sesuatu yang baru akan menambah pengalaman cerita dalam kehidupan? Lagipula aku sangat percaya dengan Alloera jika memang kami yakin dan percaya satu sama lain. Aku memutuskan untuk bertemu dengannya lusa.
Kamis, 9 januari 2019
Pagi ini aku akan bertemu dengan salah satu investor muda yang menanam saham di perusahaan ayah, umurnya hanya berbeda sekitar 4 tahun dari umurku, tapi ia sangat sukses, ia memulai usaha kecil saat ia baru lulus sma, dan sekarang sudah bisa menanam saham di suatu perusahaan. Ia adalah Galang Putra Abraham, tinggi dengan kulit coklat khas indonesia nya.
"Selamat pagi Anggas, saya Galang Putra Abraham, senang bisa bertemu denganmu" Ia menyapa.
"Pagi pak, saya juga senang bisa bertemu dengan pengusaha sukses seperti bapak"
"Jangan panggil saya bapak, panggil mas aja, tua banget keliatannya" Ia membalas dengan tawa kecil.
"Oh baik" Aku menjawab.
Dengan melihat cara bicaranya, aku tak heran ia bisa sesukses ini.
Kami terus mengobrol tentang perusahaan yang pastinya aku tak paham. Aku juga bingung dengan ayah, kenapa dia mempertemukanku dengan orang- orang yang sudah mengerti tentang pekerjaan dan lain- lain, sedangkan aku hanya lah anak berusia 18 tahun yang bahkan takut akan banci. Jujur aku benci banget sama banci, ada yang sama?.
"Punya pacar?" Tanyanya.
Pertanyaan yang tidak kusangka akan muncul. Aku terbatuk, tersedak akan pertanyaannya.
"Gak, gak punya mas" Jawabku.
"Wah sayang sekali, sama sih saya juga" Jawabnya.
Kami tertawa bersama
"Tapi saya ada rasa sama seseorang sih, dan umurnya juga se kamu kalau gak salah" Ia memberitahu.
"Siapa mas?"
"Gak usah lah, nanti bocor lagi, HAHAHA" Jawabnya sembari tertawa.
"Ya siapa tau saya bisa bantu" Jawabku.
"Nggak usah, seinget saya dia juga dari luar negeri, sekarang sih lagi di Jakarta, saya bakal bertemu ayahnya besok, saya berharap dia juga ikut" Balasnya.
"Wah semoga ya mas, kalau memang dia datang good luck ya mas" Balasku
"Oke siap- siap"
Kami mengakhiri pertemuan pada pukul 10 pagi, kami memulai pertemuan pada 7 pagi, dan coba tebak? Aku baru tau bahwa kafe tempat kami memutuskan bertemu adalah kafe miliknya, ia memang sesukses itu.
Aku kembali ke apartemen, menyiapkan kalimat demi kalimat yang akan ku keluarkan besok untuk Alloera, semoga besok akan menjadi hari terbaik ku selama di Jakarta.

KAMU SEDANG MEMBACA
Identity (COMPLETE)
RomanceAnggasta Alfa Bramantyo, kehidupan, cinta, dan identitasnya