Setelah menghilang dari Kejaran Mata Iblis dan anak buahnya Joko Nunggal berhenti sejenak di ranting pohon Nangka. Nangka rimbun yang penuh buah itu sedikit membuat risi Joko Nunggal. Bau menyengat dari buah yang busuk dan belatung- belatung yang keluar dari nyamplung nangkanya itu menggelikan. Tapi ia harus menahan diri. Apalagi, ternyata semut ngangrang banyak lalu lalang di batang- nangka besar yang usianya sudah tua, mungkin pohonnya ditanam ketika masih jaman Majapahit. Pohon – phon yang jarang tersentuh. Banyak pohon besar, subur dan buahnya bergelantungan hanya menjadi makanan bagi codot dan hewan- hewan yang hidupnya dari ranting ke ranting. Berbagai tetumbuhan tumbuh tanpa dipupuk. Tumbuh sendiri oleh biji biji yang dibawa oleh burung atau kelelawar. Belukar yang rapat, sudah dilalui manusia. Rimbunnya hutan di lembah Merapi ini mengingatkan betapa angkernya alam Merapi. Maka selalu muncul dongeng turun temurun yang menceritakan tentang keganasan alam Merapi. Jin, Makhluk halus, bersimbiosis. Hidup berdampingan dalam dekapan alam yang subur makmur. Maka tidak salah orang- orang Eropa kesemsem dengan suburnya tanah Jawa. Pemandangan yang terhampar juga luar biasa indahnya. Meskipun Banyak gunung Berapi aktif dan sering memakan korban tidak dipungkiri selalu ada kerinduan untuk memandang alam indah sekitar gunung. Masih banyak hewan liar yang melintas bebas. Mereka mempunyai kehidupan sendiri, jarang mengganggu manusia di desa- desa tepi hutan. Makana di hutan masih berlimpah dan hanya dimakan sedikit sesuai porsi manusia. Kalaupun semakin banyak manusia berkembang dan mendesak pepohonan di tepi hutan, masih banyak hamparan hutan luas yang belum dan tak sempat terjamah manusia.
Joko Nunggal tengah berada dalam hutan. Ia tidak tahu arah ke mana harus keluar dari hutan lebat itu. Ia tidak sempat memberi tanda. Ia memutuskan bermalam di ranting pohon nangka meskipun harus bersisihan dengan semut, dan serangga lainnya. Juga burung derkuku yang tampak tenang di malam hari dan hanya sesekali bersuara.
Yang bersuara malah anjing hutan, erangan harimau dan suara- suara yang muncul seakan – akan ada kehidupan. Ia seperti mendengar bisikan, mendengar orang bercakap – cakap dan bahkan mendengar bebunyian dari musik gamelan. Tetapi ia hanya mendengar,tidak bisa melihat dan meraba di mana suara itu datang. Akhirnya ia bisa rebahan pada pokok pohon besar yang cukup landai.
Sambil tiduran ia mengerahkan segenap konsentrasinya, melenyapkan suara- suara dan hanya berbicara para bathinnya. Ia mengagumi alam, mengagumi betapa agungnya ciptaaan Tuhan. Joko Nunggal merasakan bisikan – bisikan itu menjadi pembelajaran bagaimana ia bisa menyatu dalam kehidupan alam. Cerita- cerita tentang alam kajiman, serta cerita – cerita yang muncul dari pewayangan itu hanyalah sebuah pengingat bagi manusia untuk selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Manusia itu hanyalah debu dari betapa besarnya alam semesta. Jika kesombongan muncul apalah daya manusia menghadapi besarnya kuasa alam dan Gustu kang Murbeng Dumadi. Maka Kyai Semar Bodronoyo selalu berpesan kepada para kesatria yang diasuhnya untuk andhap asor. Jangan menggunakan watak adigang, adigung, adiguna.
Dia alam yang sunyi sepi itu Joko Nunggal menjadi tersadar, jika alam menghendaki ia hanya akan menjadi remahan- remahan daun kering yang akhirnya membusuk di bumi. Hanya kuasa Tuhan dan keberuntungan yang bisa mengeluarkan ia dan kembali melihat kehidupan manusia di desa. Ia harus berdoa dan pasrah, tetapi ikhtiar harus selalu dilakukan agar ia bisa keluar dari hutan luas ini. Ia akan berpaku pada cahaya matahari, atau pada aliran sungainya sehingga ia bisa menyisir jalan yang mampu keluar dari hutan kekar ini. Dari sebalik daun nangka ia mulai melihat terang cahaya bulan. Melihat kerlip bintang di samping bulan besar. Pantas lolongan serigala bersahut- sahutan mereka tengah pesta cahaya purnama. Sementara menikmati bulan terasa perut Joko Nunggal bersahutan. Akhirnya ia harus bergerak untuk sekedar makan makanan dari tumbuhan yang ada di dekatnya. Nangka yang baunya menyengat, ia petik, dibelah – belah meski dengan begitu getahnya harus menempel di telapak tangannya. Tetapi perutnya minta diisi dengan 4 sampai 5 nyamplung nangka. Lalu minumnya bagaimana? Ya manfaatkan saja akar- akar rotan yang melilit di pohon. Ia tebas dengan belati kecil yang selalu menggantung di pinggangnya. Tetesan air rotan yang agak pahit dilidah itu masuk ke kerongkongannya. Dan cukup bisa mengurangi dahaga. Akhirnya Joko Nunggal sejenak bisa pulas tidur sampai matahari menerangi langit biru di angkasa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Merapi Membara, Sambungan dari Bara Asmara di Kaki Pegunungan Menoreh
Fiction HistoriqueIni adalah cerita sambungan dari Bara Asmara di Kaki Bukit Menoreh. Kisah cinta, berbalut sejarah dan beberapa cerita tentang Alam sekitar Menoreh dan Lembah Merapi Merbabu yang menyimpan banyak cerita.Settingnya adalah seputar masa kerajaan Mataram...