Melampaui Batas

1.1K 188 41
                                    

Terkadang orang-orang menciptakan ilusi untuk bahagia

.

.

.

Yunho menghembuskan napas dalam memperhatikan air wajah tanpa semangat yang Jeyun tampilkan. Padahal mentari baru saja memunculkan bias hangatnya pun tidak sampai menarik minat Jeyun, bahkan setelah beberapa kegiatan mereka kemarin: mengujungi bibi Oh, pergi ke pusat berpelanjaan dan menghabiskan malam di taman, Jeyun lebih banyak diam.

Dirinya tidak tahu pasti apa yang dipikirkan sang putra, namun Yunho berusaha keras memahami keadaan Jeyun. Keduanya harus berbicara sebelum Jeyun kembali ke Jerman, Yunho sudah menawarkan Jeyun untuk pulang bersamanya usai mendatangi pesta pernikahan Kihyo dan sepertinya Jeyun bersikukuh, bahkan putranya sempat menghubungi Kihyo untuk ketidakhadirannya.

"Kau yakin ingin kembali malam ini?"

"Daddy bilang bibi Randa hanya bisa menjemputku akhir minggu nanti, dan aku sudah memiliki janji untuk bermain bersama temanku."

Mendudukan tubuhnya pada sofa di hadapan Jeyun, Yunho berniat meluruskan beberapa kesalahpahaman diantara mereka, "Kau yakin tidak ingin menemui Jaejoong kembali?" tanyanya berhati-hati.

"Aku sudah mengatakannya kemarin." Jeyun menunjukan raut tidak senang, "Dan kenapa daddy terus saja menanyakan hal itu?"

"Bisa beritahukan alasanmu, Jeyun-ah?"

"Aku hanya tidak ingin mengganggu Kim Jaejoong!" Jeyun tidak menahan kekesalannya, mungkin takut dalam mengakui sesuatu.

"Aku tahu kau sedang mengelaknya," Yunho berusaha meyakinkan Jeyun. Dimana dirinya tidak akan marah atas apapun yang Jeyun kata. Lagipula mana sanggup Yunho melakukannya.

Nada bicara Yunho memang lembut dan tenang, namun Jeyun merasa gentar oleh tatapan dalam sang ayah. Lagipula dirinya sedang berusaha membentengi diri ketika Yunho perlahan meruntuhkannya, "Kim Jaejoong akan memiliki keluarga lain nantinya, mungkin aku akan punya adik dan orang tua baru. Jika memang dia tahu tentang diriku, apakah akan mengubah keadaan?"

"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Jeyun-ah. Bahkan untuk besok, aku hanya tidak ingin kau menyesal."

Kepala Jeyun menunduk dalam, "Aku pernah sangat menginginkan appa hanya untuk diriku sendiri," pada akhirnya Jeyun berterus terang, "Aku tidak ingin appa bersama orang lain. Aku hanya ingin appa bersamaku dan daddy. Itu egois 'kan?"

Yunho mengusap penuh kasih surai Jeyun, meski meyakini lama tentang impian Jeyun namun tetap saja menyesakkan ketika mendengarkan secara langsung dari bibir sang putra, "Tidak. Semua anak menginginkan hal yang sama. Dulu aku juga tidak pernah berniat membagi ibuku dengan orang lain, namun tidak selalu situasi harus sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak masalah jika kau harus egois beberapa kali,"

Jeyun menghadapkan wajahnya ke atas, "Apakah daddy mencintai appa?"

"Bukankah kau adalah bukti cinta kami?"

"Tapi kenapa kalian harus berpisah?" Jeyun terlihat tak mengerti, "Lalu kenapa appa harus menikah dengan orang lain?!"

Ini dia, Yunho melempar lekuk simpul sebelum menjawabnya, "Bagaimana jika sebenarnya Jaejoong tidak menikah?"

"Apa maksud daddy?" Jeyun bisa saja memunculkan keterkejutan sebelum menimpalinya antusias. Dan alasan dirinya terluka adalah karena pernikahan Kim Jaejoong sebelumnya.

"Kim Jaejoong tidak pernah benar-benar menikah, Jeyun-ah."

Hanya saja kini berbeda, Jeyun tidak merasakan apapun. Normal baginya untuk bersedih dan menginginkan Kim Jaejoong kemarin. Anak manapun akan selalu membutuhkan kasih sayang orang yang melahirkan mereka, seperti yang Jeyun alami. Anehnya, Jeyun malah menerima kekosongan kuat di dadanya, seperti tidak ada pengharapan lagi bagi Kim Jaejoong.

Painful LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang