Menata Hati

1.2K 142 19
                                    

Terkadang orang-orang menciptakan ilusi untuk bahagia

.

.

.

Manik musang yang sebelumnya termenung itu lantas tertarik hangat begitu mendapati sosok rupawan dalam balutan hoodie hitam yang mendekat. Bibirnya melempar senyum sebelum melayangkan sapaan kecil, "Sudah siap?" mungkin hanya sebatas basa-basi belaka, namun dirinya memang perlu melakukan itu.

"Seharusnya kau tidak perlu merepotkan diri, Yunho. Lagipula aku masih bisa menggunakan taxi."

"Tidak masalah. Aku memiliki banyak waktu luang di akhir pekan, dan aku juga ingin mengantarmu." Yunho menggeser sedikit tubuhnya agar Jaejoong bisa memasuki mobil, "Masuklah,"

Sesungguhnya tindakan-tindakan kecil seperti membukakan pintu mobil layaknya yang terjadi kini pernah sangat Jaejoong inginkan, pun tidak ada lagi keantusiasan yang diterima pria rupawan itu. Bukan berarti Jaejoong lantas menyerah atas cintanya pada Yunho, hanya saja Jaejoong merasa telah kalah.

Tepat sembilan bulan sudah sejak kepergian Jeyun, dan hari-hari Jaejoong menjadi begitu hampa. Ketakutan menemani malam-malamnya, dan rasa frustasi mendekapnya begitu erat. Jaejoong tahu dirinya terluka, namun tidak menyangka dampak yang ditimbulkan luka tersebut sanggup mengubah hidup dan pandangannya. Pola pikir yang menjadi jauh berbeda, meski sering kali dirinya menutupi hal itu. Hatinya kian rapuh dengan kesehatan tubuh yang menjadi tidak stabil.

"Aku merasa merepotkanmu,"

Yunho teralih kecil sebelum kembali fokus pada kemudi, "Kau tidak pernah merepotkanku, Jaejoong-ah."

"Mungkin kau berkata seperti itu hanya untuk menghiburku, namun percayalah Yunho... jika memang kau tidak nyaman berada didekatku maka tidak perlu mengacuhkanku. Aku telah hidup sendiri selama puluhan tahun, dan kini tidak ada bedanya."

Mengetahui jika kondisi Jaejoong yang menyebabkan pria rupawan itu menjadi semakin rendah diri. Jika Yunho tidak mencoba keras untuk terus berada di sekitar Jaejoong, mungkin tidak akan ada yang tahu eksistensi Jaejoong kini. Pria rupawan itu benar-benar menutup diri, bahkan kegiatan Jaejoong di luar ruangan menjadi begitu kecil ketika memilih lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk berdiam diri.

Kepergian Jeyun bagai pukulan telak untuk Jaejoong. Yunho juga merasakan hal yang sama, dengan komposisi yang berbeda. Yunho bersedih tentu saja, namun kehilangan sosok terkasihnya yang lain bukanlah pilihan. Keberadaannya di Korea Selatan adalah bukti kesungguhan Yunho. Jaejoong membutuhkannya, itulah yang mengakar di kepala Yunho sebagai pengingat.

Alih-alih memperluas partner kerja, Yunho memiliki tujuan lain untuk tidak membuat Jaejoong sendirian. Dirinya bukan seorang pengusaha secara nyata namun membangun aset untuk hidupnya -dan semoga bersama Jaejoong nanti- membuat Yunho mengambil kesempatan untuk kembali singgah di negara yang penuh dengan derita Jeyun itu.

"Aku yang ingin menemanimu, jika aku merasa tidak nyaman maka aku tidak mungkin disampingmu kini."

Jaejoong mendengus tanpa arti, "Aku sudah baik-baik saja, Yunho. Kau tidak seharusnya mencemaskanku,"

Ungkapan yang dulu pernah dilayangkan kini kembali Yunho terima, ternyata sesakit ini mendengarnya dan Yunho menyesal karena pernah melakukan hal itu kepada Jaejoong. Dirinya berniat meluluhkan Jaejoong alih-alih permintaan Jeyun akan hubungan mereka, untuk menyadari Jaejoong yang akan kembali jatuh pada lumpur nestapa yang baru saja sanggup dilewati pria rupawan itu jika memang Yunho melakukannya.

Yunho tidak menutup mata akan satu hal, dimana Jeyun masih menjadi satu-satunya fokus kesedihan Jaejoong yang belum berhasil diredakan. Jaejoong belum bisa berdamai dari kenyataan yang ada. Jaejoong masih memilih tenggelam dalam kelamnya kalbu masa lalu. Segala kesalahan yang seharusnya diperbaiki dan malah direngkuh seorang diri tanpa mempersilahkan Yunho masuk untuk membantu melepaskannya.

Painful LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang