Tanggung Jawab

1.1K 126 31
                                        

Bertepatan dengan weekend, membuat para penghuni kontrakan dengan cat warna abu-abu itu terlihat lebih santai dari pagi biasanya. Hanya ada Jenggala yang sudah menyebarkan polusi suara dengan petikan senar gitarnya di halaman depan rumah, juga ada Wira yang sedang duduk manis menonton acara gosip pagi di sofa ruang tamu, lengkap dengan kacamata tebalnya.

Sedangkan penguhuni lainnya masih berada di alam mimpi. Mungkin.

"Bang Je kecilin dong suara gitarnya, ini acara gosipnya jadi gak kedengeran kan" Teriak Wira dari dalam rumah.

"Ya mana bisa sih, volume gitar gue ya udah segini, yang ada lu aja gedein suara tv nya".

Bukan Wira namanya kalau tidak sewot dan rempong. "Ngalah aja dong bang, gitaran kan bisa nanti lagi".

"Gak bisa ya Wir".

"Abang ihhhh!!!".

"Berisik Wira, kalo lo teriak sekali lagi gue-"

Tok tok tok

"Permisi..."

Pertengkaran Wira dan Je terjeda kala seorang wanita mengetuk-ngetuk pagar besi kontrakan tersebut.

Je menaruh gitarnya dan berjalan menuju pagar. "Ada keperluan apa ya mbak ?".

"Mau nanya dong mas, disini ada minimarket yang deket gak ?"

Tanya alamat ternyata.

"Minimarket ? Ada kok mbak, tinggal lurus aja terus pas udah sampe ujung langsung belok kanan, disitu ada minimarket"

Wanita tersebut tersenyum canggung. "Oh oke, makasih banyak mas".

"Iya sama-sama"

"Hmmm... Mas ?"

Langkah kaki Je yang awalnya akan berbalik ke dalam rumah terhenti. "Ya ?"

"Saya boleh nitip anak sebentar ? Mau dibawa ke minimarket tapi pundak saya agak pegel"

Pagar besi yang cukup tinggi membuat Je sedikit mendongak dari dalam untuk melihat sosok anak yang wanita itu maksud.

Je sendiri bingung bagaimana cara menolak permintaan tersebut, mengingat ia sendiri tidak terlalu pandai menjaga anak, apalagi dari orang asing.

Tapi ia merasa tidak enak juga harus menolak saat dimintai bantuan.

"Yaudah boleh mbak, tapi gak lama kan ?"

"Nggak mas, beli minum doang kok"

Je membukakan pagar, memberi akses agar perempuan tersebut bisa menyerahkan anaknya. "Saya gak jago jaga bayi loh mbak, takut nangis"

"Gak akan mas, ini anaknya masih tidur kok,"

"Makasih banyak ya mas, maaf ngerepotin" lanjut perempuan tersebut setelah sukses memindahkan bayinya ke gendongan Je beserta tas coklat yang ikut ia titipkan, yang Je sendiri tidak tau apa isinya.

"Saya tinggal dulu ya mas"

"Iya mbak silahkan" jawab lelaki tersebut sembari menutup kembali pintu pagar.

"Nah gitu dong abang ngalah, kan enak acara gosipnya jadi kedenge- Ih ya ampun abang anak siapa itu ? Perasaan baru ditinggal sebentar kok udah beranak sih" teriak Wira yang tiba-tiba datang dari dalam rumah.

"Apaan sih berisik, ini tadi ada mbak-mbak nitip anaknya bentar, dia mau ke minimarket dulu katanya"

Wira udah heboh sendiri. "Dikirain anak abang".

Hello Baby! | Day6 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang