Malam Minggu Brian

500 107 34
                                        

Jika sempat, jangan lupa untuk memberi sedikit dukungan bagi cerita ini, yaitu berupa vote yaaa~ 😁

Happy Reading!

Indah dan romantisnya malam minggu sepertinya tak berlaku untuk Brian saat ini. Tak ada baginya malam minggu yang harus dilewatkan dengan nongkrong bersama teman, berkencan atau jalan-jalan, yang ada hanya dia yang harus berdiam diri di kontrakan bersama Ayis, hanya berdua.

Sudah sejak pagi buta, Damai harus bergegas meninggalkan kontrakan untuk pulang kampung, dikarenakan kakak sepupunya yang akan menikah besok.

Lalu Sadana sang ketua BEM panutan seluruh umat, harus menghabiskan malam minggunya dengan rapat proker, dengan kemungkinan besar ia akan menginap semalam di sekre hari ini.

Dengan kompaknya Wira dan Jenggala harus ikut pula meninggalkan kontrakan. Wira dengan shift siaran radio malamnya dan Jenggala yang harus menjadi bintang tamu acara pembukaan cafe temannya.

Dan berakhir kini hanya menyisakan Brian yang harus pasrah ditinggalkan berdua saja bersama Ayis di kontrakan.

👶

Sudah lima bungkus keripik yang Brian habiskan malam ini, sembari berguling kesana kemari diatas kasur, karena tak ada kegiatan yang berarti. Sedangkan dibagian kasur samping ada Ayis yang masih tenang menonton serial kartun dari laptopnya.

"Dek laper gak ? Masak mie yuk," ajak Brian yang tentu tak mendapatkan respon apapun dari Ayis yang masih menonton.

Rasa bosan Brian semakin menjadi-jadi karena tak ada teman bicara, ditambah hujan diluar semakin membuat dirinya merasa kesal karena tak bisa pergi kemanapun. Sepertinya malam ini do'a para jomblo untuk didatangkan hujan saat malam minggu sedang dikabulkan.

Tanpa menunggu waktu ia segera mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol call kepada teman satu kontrakannya, yaitu Wira. Seingatnya jadwal siaran Wira masih satu jam lagi dan itu artinya ia bisa memanggilnya untuk menemani ngobrol.

Pada deringan kedua, dengan cepat orang disebrang sana sudah mengangkat panggilannya. "Kenapa bang ?"

"Lu kapan pulang ?"

"Siaran aja belum bang, lagian ini juga hujan gede banget jadi kalo beres siaran hujannya belum reda, ya ada kemungkinan gue nginep di studio"

"Serius gak pulang ?"

Wira terkekeh, "Belum tau, harus liat kondisi nanti. Kenapa ? Takut sendirian bang ? Hahaha"

"Nggak, gue cuma gabut," bela Brian.

"Kan lo lagi sama Ayis, ajak bercanda aja biar gak gabut"

"Ajak bercanda gimana, dia diajak ngobrol aja baru bisa kedip-kedip sama senyum Wir"

"Haha udah ya, gue mau briefing siaran dulu, nanti jangan lupa susu Ayis dibuatin sebelum tidur"

Helaan napas pasrah terdengar dari sambungan Brian, "Yaudah, selamat siaran Wir"

Entah darimana, sebuah ide jahil terlintas di pikiran Wira saat itu. "Bang ?"

"Ya ?"

"Hmm.. gimana ya gue bilangnya..." Wira sedikit memberikan nada ragu.

"Apaan ?"

"Ituloh, lo tau gak katanya kontrakan kita dulunya bekas kuburan Belanda"

"Apaan sih anjir, random banget lu ngomongin begituan"

"Lah gue cuma bilang, ya siapa tau ada yang mampir gitu"

Brian panik seketika dan segera bangkit dari kasurnya, "Eh serius lo ? Jangan bohong lo ya"

Hello Baby! | Day6 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang