Memperbaiki

707 112 29
                                        

Suasana kontrakan mendadak berbeda dibanding hari biasanya. Pertengkaran antara Jenggala dan Sadana pagi tadi telah membuat keadaan menjadi lebih canggung.

Rumah yang biasanya dipenuhi kebisingan antara para penghuninya, kini hanya diisi oleh kesunyian. Tidak ada diantara mereka yang berani bergurau seperti biasanya, terutama Jenggala dan Sadana yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Sejak pertengkaran tadi pagi, 3 penghuni lainnya, yaitu Wira, Damai, dan Brian memilih berkumpul di kamar milik Wira untuk sekedar bertukar gosip dan membicarakan strategi yang harus mereka lakukan kedepannya. Mereka ingin suasana tidak terus-menerus tegang seperti saat ini.

Walaupun tidak terlibat langsung, kejadian tadi pagi membuat ketiganya tetap merasa harus turut andil membenahi situasi. Hanya saja mereka bingung harus mengikuti pihak yang mana, secara Je dan Sadana adalah dua sosok tertua yang paling dihormati disini. mereka bertiga tidak bisa sembarangan bertindak.

Sejak kejadian tadi pagi pula, Sadana tidak terlihat lagi batang hidungnya, entah ia benar melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu atau ia pergi keluar untuk menenangkan pikirannya. Pintu kamarnya tidak pernah bergeming sedikitpun.

Sedangkan Je tidak kalah berbeda dengan Sadana, setelah kejadian tadi pagi Je pun terlihat jarang keluar kamar dan memilih mengurung diri bersama Ayis.

Je hanya terlihat sesekali keluar kamar, bolak-balik dapur membuat susu formula bagi Ayis yang kelaparan. Je sendiri tidak paham apakah susu yang ia buat sudah sepenuhnya benar atau tidak, ia hanya mengikuti nalurinya.

Terkadang pula hanya terdengar suara tangisan Ayis memenuhi penjuru rumah yang sunyi ini. Belum ada diantara kelimanya yang bersedia mencairkan suasana.

👶

"Wir gue beneran gak nyaman deh sama suasana kaya begini" keluh Brian sembari memakan keripik singkong milik Wira yang ia ambil sembarang di kamarnya.

"Ya emang gue nyaman juga bang ? Nggak lah"

"Apalagi Damai, kayanya baru pertama kali liat abang-abang ribut besar gini, takut deh asli"

"Gue cuma bingung harus di pihak siapa"

"Nah itu dia Bri, apa kita susun rencana aja biar mereka baikan ?"

Damai yang semula fokus kepada layar ponsel langsung menoleh. "Setuju sih bang, cuma kan ini masalahnya gak sepele loh, yakin emang mereka bakal akur ? yang ada nanti malah kita kena semprot lagi kaya tadi pagi"

Wira mengangguk setuju. "Abisnya gimana ya, karena masalah tadi pagi semua jadi kena dampaknya, ini aja gue sampe gak berani ke ruang tamu saking takut ketemu mereka berdua, padahal pengen banget nonton acara gosip sore"

"Udah kaya lambe turah ya lo lama-lama"

"Idih, ya kan kita harus jadi orang yang up to date".

Brian melemparkan bungkus keripik yang ia genggam kepada Wira. "Aptudet aptudet kepala kau, bilang aja emang butuh bahan gosip"

"Jangan lempar-lempar dong, ini remahan keripiknya jadi nyebar di karpet kan"

"Berisik ya ampun, ini Damai lagi push rank"

"Bang Brian duluan nih" adu Wira tidak terima layaknya anak kecil.

"Ya abisnya lo ngeselin sumpah"

Klotak! Prang!

Ketiga pemuda tersebut segera berhenti dari adu mulutnya saat mendengar bunyi gaduh dari arah dapur, sepertinya ada suara beberapa alat masak yang jatuh ke lantai.

Hello Baby! | Day6 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang