13

15.2K 189 1
                                        

"Pak maaf pak, tolong jangan"

Tangan ku berusaha untuk menghentikan jarinya yang mulai membuka kemeja ku, namun dengan cekatan dia mencengkram kedua telapak tangaku diatas kepalaku dengan tangan kanannya aku tidak dapat berbuat apapun.

Bos ku hanya tersenyum miring melihatku dan akan melanjutkan aksinya dengan membuka kancing atasku, saat kancing kedua ku ingin ia lepaskan aku sudah ancang ancang akan menendang kemaluannya dengan lututku, namun tiba tiba saja telfon di mejanya berdering, membuat kami mengurungkan niat kami masing masing.

Dia hanya berdecak kesal mendengar bunyi telfon itu dan segera melepas kan aku, saat ia sedang berjalan menuju meja kerjanya, aku langsung kabur keluar dari ruangannya dan mengunci diri di ruanganku.

"What the?!?! Apa itu tadi?"

Aku masih shock atas perlakuan nya, sebenarnya ada sedikit perasaan yang membuat ku menikmati nya, tetapi rasa takut ku lebih besar. Karena aku tidak tau dia akan melakukan apa, dan apa yang terjadi padaku.

Setelah kejadian tadi, aku tidak keluar ruangan lagi, aku menahan rasa laparku, ingin ke kamar mandi pun aku tahan, aku takut bila harus melihat wajahnya lagi. Mr. Warding pun tampaknya tidak membutuhkan ku, dia tidak menelfon atau pun mencari ku.

Aku tidak tau harus apa karena aku belum mendapat pekerjaan berarti selain membawakan kopi dan pakaian untuknya, selama berjam jam aku hanya bermain laptop dan hp saja menunggu jam pulang. Walaupun aku bermain hp, aku tidak ada niatan untuk cerita apapun pada Adel, Dimas maupun Mama.

Tiba-tiba aku merasa kaget dan terbangun, tanpa sadar ternyata aku tertidur entah apa yang membuat ku terbangun yang pasti aku langsung melihat jam dan ternyata sudah pukul 3.56 sore, berarti 4 menit lagi waktunya aku pulang. Aku pun bersiap merapikan barang barangku, dan akhirnya waktu menunjukkan pukul 4. Aku memang tipikal orang yang teng go, tidak suka berlama lama dikantor, karena buat apa tidak membuat bahagia juga.

Aku segera menuju ruangan Mr. Warding untuk meminta izin padanya.

Tok tok..

Tidak ada jawaban.

Tok tok..

Masih, tidak ada jawaban.

Aku pun langsung membuka pintu ruangan Mr. Warding perlahan lahan dan memasuki ruangan bos ku itu.

"Permisi pak.."

Aku berusaha menatap sekeliling dan tidak ada tampaknya tidak ada seorang pun disini. Saat sedang berusaha mencari lebih teliti, aku melihat jas dan kemeja dimas masih dilantai, berantakan, masih seperti keadaan semula tepat sebelum aku meninggalkan ruangan ini.

"Sepi sekali, sepertinya dia tidak ada disini. Pasti akan sia-sia kalau aku berteriak pun"
Aku pun membungkuk untuk mengambil jas dimas, dan saat sedang melangkah menuju pintu aku mendengar suara yang ku takutkan.

"Siapa yang kau sebut dia?"

Aku mematung menghadap pintu, aku tidak berani melihat keadaannya. Aku hanya diam tidak bergeming sedikit pun, dengan sedikit bergetar, aku tetap memegang kuat pakaian dimas.

"Sopan sekali kau tidak menanggapi perkataanku"

'Nyindir terus senengnya, kenapa sih' aku hanya bisa merutuki nya dalam hati

Aku pun memutar tubuh ku secara perlahan, dan berusaha bersikap setenang mungkin.

"Maaf pak, saya kira bapak tidak ada disini" aku berusaha setenang mungkin, sambil menyunggingkan senyum manisku.

Ku lihat dia berdiri cukup berjarak denganku, tapi tidak terlalu jauh, dia sudah mengenakan jas dan kemeja lengkap dan tampak bersih, sepertinya dia sudah mencari sendiri pakaian gantinya.

"Bukan kah saya sudah bilang kalau saya tidak suka kamu mengira-ngira?"

"Sekali lagi, maaf pak. Maafkan saya"

"Apa yang akan kamu lakukan dengan jas itu?"

Bukannya menjawab ku, dia malah memperhatikan jas dan kemeja dimas yang ada ditangan ku.

"Saya akan mengembalikan ini kepada pemiliknya pak"

"Atas izin siapa?"

'Aduhhh apa sih ini, tadi gamau sekarang nahan nahan'

"Mohon maaf pak sebelumnya, tapi tadi bapak tidak mau menggunakannya karena baunya seperti perempuan"

"Lalu saya menyuruh kamu untuk mengembalikannya?"

"Tidak pak."
"Tapi bapak membiarkannya begitu saja di lantai, saya kira- maksudnya, menurut saya itu berarti bapak tidak membutuhkannya."

"Saya memang tidak membutuhkannya, tapi saya tidak meminta kamu untuk mengurusnya"

'Apa sih mau nya bos gue ini???'

"Baik pak, lalu apa yang bapak inginkan?"

"Kamu serius nanya kaya gitu?"

"Maksud bapak?"

"Kamu serius nanya mau aku apa?"

'Jih tadi saya sekarang aku, emang labil banget sih'

Tanpa aku sadari dia sudah berjalan mendekat dan memberiku senyuman mautnya, senyuman miring yang ia berikan padaku tadi siang. Aku tidak mau terjadi apa apa lagi, kali ini aku tidak mundur saat ia terus mendekat, tapi aku malah mendorong badannya.

Memang doronganku ini tidak ada apa apa untuknya, tinggi ku yang sudah memakai heels saja hanya sebatas dagunya. Tetapi setidaknya doronganku ini cukup untuk membuat nya tersentak karena keberanianku.

"Kenapa?" tanya nya dengan suara yang kembali datar dan dingin, tidak ada lagi senyuman di wajahnya, mungkin ini lebih baik.

"Bapak mau apa?"

Dia tampak diam menatapku tajam namun wajahnya tetap datar dan dingin, dia tampak berfikir sebelum akhirnya membuka suara.

"Pakaian yang kamu bawa akan saya jadikan jaminan, kalau besok jas saya belum kembali seperti semula pakaian mu ini akan saya buang."

Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan ruangannya.

"Sebenernya kerjaan gue ini apa sih?" aku hanya bisa mendengus kesal menerima perlakuan bos ku.

Setelah merapikan semua barang barangku, aku pun bergegas mencari laundry kilat terdekat. Sangat susah mencari laundry kilat yang hanya 1 jam selesai, tapi apa boleh buat aku harus bisa mengembalikan jas ini sesuai permintaan bos ku. Aku jadi sangat menyesal karena sudah menumpahkan kopi ke jas nya.

Sudah 3 tempat laundry yang aku datangi, dan semuanya tidak mampu memenuhi permintaanku. Saat aku sedang duduk merenung di halaman laundry ketiga, tiba tiba saja ada seorang bapa bapa menghampiri ku.

"Permisi mbak, itu bajunya kotor kena pasir"

Bodohnya aku, tidak memperhatikan jas Mr. Warding yang menjuntai ke tanah

"Oh iya pak, terima kasih, saya ga fokus tadi hehe"

"Iya mbak, saya lihat mbak bengong terus. Ada apa mbak?"

'Siapa ini ko mencurigakan banget, apa jangan jangan gue mau di apa apain'

"Mbak tenang aja saya ga berniat jahat ko" ucap bapak itu sambil tersenyum ramah, seakan akan bisa membaca fikiranku

"Eh iya pak, maksudnya?"

"Saya lihat mbak diam saja saya tanya, mbak gausa takut, saya ga berniat jahat ko"

'Duh malu gue'

"Hehe iya pak, eh engga pak. Saya cuma lagi bingung aja, saya harus mencuci pakaian pakaian ini sampai bersih dan wangi hari ini juga, karena besok akan digunakan kembali pak."

"Memangnya tidak ada pakaian lain? Siapa yang menyuruhmu?"

"Iya pak, bukan siapa siapa"

"Hm baiklah, saya tau tempat laundry terbaik di kota ini. Mau saya antar?"

Sekretaris? ⚠️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang