Soal Matematika

42 4 0
                                        

Ayah dan Ibu Lani bercerai tiga tahun yang lalu, saat Lani duduk di bangku SMP. Sekarang Lani tinggal bersama ayah dan adiknya. Sementara ibunya telah berkeluarga dengan orang lain dan sudah memiliki dua orang anak.

Pagi itu Lani sengaja menggunakan cardigan untuk menutupi luka semalam. Meskipun sudah diplester Lani yakin Dani akan menanyai tentang luka nya itu. Saat tiba di meja makan, Lani mengendus bau gosong dari arah dapur. Dengan cepat ia menuju dapur lantas menemukan Ayahnya.

"Ayah lagi ngapain?" tanya Lani segera mematikan kompor.
A

sap mengepul dari arah wajan. Tak banyak tapi cukup bikin Lani dan ayahnya terbatuk.

"Ayah mau bikin sarapan." aku Jaki sambil mengibaskan tangan menghalau asap.

"Lihat deh ayah berhasil masak telor ceplok." Jaki menunjukkan telor setengah gosong yang baru diangkatnya.

Lani tertawa kemudian mengusap wajah ayahnya yang cemong, "Lain kali Lani aja yang bikin."

Lani memindahkan telor buatan ayahnya ke piring. "Nah, ini buat Lani. Nanti buat ayah sama Dani biar Lani yang masak ya."

**

"Lan," terdengar suara Aci yang memanggil dari sebelahnya.

"Hm." sahut Lani yang berusaha fokus memperhatikan penjelasan Pak Khasan.

"Kok cuek bgt sih,"

"Marah ya lo sama gue?"

"Maafin omongan gue yang kemarin ya." gumam Aci tersirat penyesalan dari nada bicaranya.

Lani mengangguk, "Gapapa, emang gitu kenyataannya."

"Gue ngarasa kalo kemarin gue keterlaluan."

Sedikit.

Lani menghentikan aktifitasnya. Ia memandang Aci yang tengah menunduk. "Santai aja lah Ci. Seriusan."

"Tapi waktu itu lo langsung diem dan nggak ngomong sama sekali sampe bubar sekolah." tutur Aci.

"Gue diem tuh lagi mikir,"

"Mikir apa?" sambar Aci cepat, penasaran.

"Cara buat move on."

"Oh, gue kira lo marah atau sakit hati sama omongan gue." gumam Aci merasa lega.

"Emang sih lo kalo ngomong ga pake filter Ci. Tapi Kayanya gue butuh denger omongan pedes lo supaya cepet move on. Hehe." canda Lani yang langsung Aci hadiahi pukulan di bahunya.

"Hei! Kalian yang daritadi ngobrol, maju ke depan kerjakan soal yang Bapak tulis."

Lani dan Aci kompak mendongak. Kemudian jadi menciut ketika tatapan lasser pak Khasan mengarah pada mereka. Akhirnya Lani dan Aci maju ke depan.

Lani terdiam memperhatikan papan tulis. Tangannya terus memainkan spidol dengan gelisah.

Diam-diam Lani melirik Aci yang tampak lancar jaya mengerjakan soal dari Pak Khasan. Ah, Aci emang lebih unggul dalam Matematika dibanding  Lani.

Oke, otak Lani buntu. Lani tidak bisa memecahkan soal yang diberikan Pak Khasan sampai mati kutu begini. Sedangkan Aci sudah selesai dan boleh duduk.

"Kamu mau berdiri disitu sampai berapa taun?" tanya Pak Khasan sedikit sarkas. Lani menggaruk dahinya sambil meringis. Mampus dah gue.

Temen Curhat (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang