Zidni masuk ke dalam rumahnya, sampai di ruang tengah, samar-samar Zidni dapat mendengarkan suara perdebatan.
"Saya capek ya Mas disalahin terus." ujar Shani menatap suaminya.
"Memang kamu salah!" hardik Rama dengan suara kencang.
"Salah saya apa?!" teriak Shani tak tahan lagi, selama ini dia diam. Selama ini Shani selalu mengalah. "Kamu yang selingkuh sama perempuan gatel itu kenapa saya yang disalahkan?"
Rama menggeram tak suka kalau Shani menyebut calon istri barunya dengan perempuan gatel. "Jaga ya mulut kamu dia calon istri saya. Meskipun kamu gak mengijinkan, saya akan tetap menikahi dia." serunya menampar Shani.
Plak...
"Papa!" seru Zidni segera berlari menghampiri Mamanya. Pemuda itu merangkul sang Mama lalu mendudukan Mamanya di kursi.
Pandangan Shani kosong, ia tak pernah menyangka seseorang yang dicintainya akan sekasar itu.
"Maksud papa apa mukul Mama?"
"Diam kamu!" Rama yang sudah emosi kini menampar Zidni. Keras nan menyakitkan.
Zidni memegang pipinya yang terasa perih kemudian menatap papanya sinis, "Ayo pukul lagi! Pukul semau Papa asal jangan nyakitin Mama." dia meraih kerah kemeja Rama.
Rama langsung menghentak lengan Zidni kasar, wajahnya yang mengeras semakin memerah. "Jangan kurang ajar ya kamu sama orang tua!"
"Orang tua?" tanya Zidni dengan senyuman mengejek, "Orang tua mana yang gak ngurus anaknya?" lanjutnya berubah getir.
Zidni mendongak, "Orang tua mana Pa?"
"Halah, kamu disekolahkan saja udah beruntung."
"Tuh, Lihat. Kamu ngurus anak aja gak becus. Dasar wanita gak berguna." ucap Rama sebelum keluar dari rumah.
*
Malam itu Lani yang baru saja keluar area indomaret, ketika melihat seseorang berjongkok di bawah pohon. Seseorang itu mirip sekali dengan Zidni, hingga tanpa sadar membuat Lani mendekat.
"Zidni?"
Yang dipanggil namanya pun mendongak. Kontan mata Lani membola mendapati Zidni yang tampak berantakan dengan wajah kuyu. Di sudut bibirnya tampak lebam keunguan.
"He, lo kenapa?" seru Lani panik segera berjongkok. Menggoyangkan bahu Zidni.
Zidni tak menjawab, ia diam saja membuat Lani tambah cemas.
"Jawab dong! Lo kenapa?"
"I'am okay."
"Bohong, ngapain sih disini?"
Zidni menggeleng. "Abis darimana?" tanyanya mengalihkan.
"Gak usah ngalihin gitu. Ayo berdiri." Lani bangkit terlebih dulu lantas mengulurkan tangannya.
Zidni terdiam lama memandangi tangan Lani. Kemudian pemuda itu menerima uluran tangan Lani.
Lani tak tahu ini benar atau tidak. Tapi gadis itu tak tega melihat keadaan Zidni sekarang. Begitu memprihatinkan. Sehingga gadis itu membawa Zidni ke bangku terdekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Temen Curhat (On Going)
Fiksi RemajaAwalnya cuma teman. Ya teman curhat. Tapi kenapa ada rasa lain yang timbul dibalik itu?
