City of Lost Souls - 8

179 30 11
                                    

Jangan lupaaaaa vote dan komennya...

-----

"Kau takut?" tanya Sinb, bergerak lebih dekat pada Hoseok. Pria itu bisa merasakan kehangatan pada lengan Sinbi

"Aku tidak tahu. Ketakutan lebih terasa secara fisik. Jantung kita bertambah cepat, keringat keluar, denyut nadi berpacu. Aku tidak merasakan semua itu." Jelas Hoseok

"Sayang sekali," gumam Sinbi "Pria yang berkeringat itu seksi."

Hoseok tersenyum kepada Sinbi. Ini lebih sulit dari yang dia kira, mungkin dia memang takut. Hoseok berbalik menghadap Sinbi, meraih tangannya, sesaat tidak perduli bahwa Jungkook sedang mengawasi mereka.

"Sinbi.."

"Baik!" teriak Eunha "Aku sudah selesai, Hoseok kesini" ucapnya

Mereka berbalik. Eunha berdiri di dalam lingkaran yang bersinar dengan cahaya putih samar. Sesungguhnya, ada dua lingkaran, lingkarang yang besar dan yang lebih kecil. Diantara kedua lingkaran, lusinan symbol telah tertulis. Symbol2 itu juga bersinar.

"Ini" Eunha memberikan bukunya pada Hoseok, buku yang berisi mantra

Sambil mendekap buku itu ke dada, Hoseok melepas cincin ditangannya dan menyerahkan pada Eunha..

"Kalau ini tidak berhasil," katanya "harus ada orang yang mengambil ini. Ini satu-satunya penghubung kita dengan Yerin, juga satu-satunya yang ia tahu." katanya

Eunha mengangguk dan menyelipkan cincin itu di jarinya. "Siap, Hoseok?"

Jungkook, Eunha dan Sinbi berdiri di luar lingkaran. Disekitar itu terdapat seperti pusaran air yang membuat Hoseok hanya bisa melihat bayangan ketiganya..

"Terimakasih sudah datang kesini bersamaku" ucap Hoseok

"Mmm, Jungkook. Aku selalu lebih senang kepadamu daripada Taehyung"

"Eunha, seandainya aku bisa seberani dirimu"

Dan terakhir pria itu menatap Sinbi. Gadis yang terlihat sangat cemas..

"Sinbi.. Selamat tinggal, aku rasa."

-----

"Tidak!" Yerin berdiri, menjatuhkan handuk basah ditangannya

"Taehyung, jangan. Mereka akan membunuhmu."

Taehyung mengambil kemeja baru dan mengenakannya, tanpa menatap Yerin saat memasang kancing .

"Mereka akan berusaha memisahkanku dari Jimin dulu," kata Taehyung, walaupun dia sendiri tidak yakin "Jika itu tidak berhasil, baru mereka akan membunuhku"

"Tidak cukup baik." Yerin meraih Taehyung, tapi Taehyung menjauh, menjejalkan sepatu pada kakinya. Ketika berbalik raut wajah Taehyung tampak muram..

"Aku tidak punya pilihan Yerin, ini tindakan yang tepat" katanya

"Ini gila. Kau aman disini. Kau tidak bisa membuang nyawamu.."

"Menyelamatkan diriku adalah penghiantan. Itu sama seperti memberikan senjata kepada musuh" potong Taehyung

"Siapa yang perduli tentang penghianatan. Atau hukum?" desak Yerin "Aku perduli tentangmu. Kita bisa cari jalan keluar bersama-sama.."

"Kita tidak bisa mencari jalan keluar bersama" Taehyung mengantungi stela di meja samping tempat tidur, lalu mengambil Piala Mortal.

"Karena aku hanya akan jadi dia sebentar lagi. Aku cinta kau Yerin" katanya mengecup dahi Yerin

"Lakukan ini untukku" ucap Taehyung

The Mortal Instruments (KTH-JYR)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang