I'll Always Beside You

439 32 9
                                    

Daiki memandangi tubuh gadis yang sedang berbaring di kasurnya dengan perasan campur aduk. Kesal, bingung, dan harus susah payah ia akui kalau ia juga khawatir. Wajah Marlyn benar-benar pucat. Pipinya yang biasanya memerah sekarang tampak pucat.

"Bagaimana keadaannya?" Daiki bertanya pada ayahnya yang baru selesai memeriksa Marlyn. Tidak ia sangka kalau 'ayah'nya ini akan sangat berguna di saat seperti sekarang. "Tenang. Tidak ada hal lebih buruk yang terjadi selain demamnya yang tinggi." Ayah Daiki memandangi wajah putranya--yang sebenarnya bukan darah daging atau orang yang ia kenal--dengan pandangan menyelidik.

Ayah Daiki berdiri lalu berjalan menuju pintu kamar. "Oh ya. Bisakah kalian malam ini menungguinya? Sepertinya dia akan melewati malam yang sulit dengan demam setinggi itu." Ayah Daiki memandangi wajah gadis yang belum juga membuka matanya. Daiki dan Kise mengangguk. Setelah tersenyum kepada keduanya, ayah Daiki keluar kamar dan menutup pintu perlahan.

Hening menyelimuti ketiganya. Kise memandangi wajah temannya yang sedang duduk di dekat kaki Marlyn sambil memandangi wajah gadis tersebut. Entah kenapa itu mengingatkannya pada masa lalunya. Kise berjalan ke arah jendela lalu duduk di bingkainya. Dia memandang ke arah luar. Mencari ketenangan dalam dinginnya malam.

"Ne, Aominecchi, sebenarnya dunia macam apa yang kita pijaki sekarang ini?" Kise bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan malam di luar jendela. Daiki menanggapinya dengan senyum kecut. "Dunia yang dengan teganya mengorbankan gadis seperti dia." Daiki memandangi wajah Marlyn yang tampak tidak tenang dalam tidurnya. Kise menoleh sebentar. "Kau benar." Ujarnya sambil ikut melihat ke arah Marlyn.

Melihat wajah Marlyn membuatnya seperti melihat gadis di masa lalunya. Membuatnya diserang sesak yang tak beralasan. Kise mengalihkan pandangannya kembali keluar sebelum dia semakin terlarut dalam dukanya.

"Aku pernah berada di posisimu. Dulu aku juga menjaga seorang gadis." Daiki yang mendengarnya langsung memandang ke arah Kise. Dilihatnya pandangan temannya itu sendu. Tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

Daiki yang sudah tahu siapa yang Kise maksud, langsung bertanya. "Jadi, apa yang terjadi pada Airimu?"

Kise diterjang banjiran ingatan saat itu juga. Entah kenapa kata 'Airimu' seperti berfungsi sebagai kunci dari pintu kenangan yang sudah ia tutup rapat-rapat. Membuat wajah gadis itu menyelimuti setiap seluk beluk fikirannya. Membuatnya tidak bisa menahan sakit yang amat sangat akibat semua ingatan yang datang secara tiba-tiba itu.

"Ryota-kun. Jangan menangis kalau ingat aku ya!" Kise tersentak mendengar suara lembut di dalam ingatannya. Dengan segera dia menekan semua perasaan sesak itu masuk kembali ke dalam lubuk jiwanya yang sangat amat dalam dan mengunciya rapat-rapat.

"Aku kehilangan dia. Dan semua itu tidak lain karena Dark Angel yang kita temui tadi." Penjelasan Kise sudah lebih dari cukup untuk membuat Daiki meluruskan apa yang terjadi saat di gym.

Tanpa Kise sadari, Daiki melihat setiap perubahan ekspresi Kise. Hal itu membuat Daiki paham benar bagaimana dalamnya perasaan pria itu pada gadis yang bernama Airi. Dalam sekejap dia semakin yakin kalau keputusan Akashi mengutus Kise adalah hal yang benar.

Tidak ada yang bisa membantunya di saat seperti ini selain seorang Angel yang sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan gadis yang menjadi tanggung jawabnya.

Daiki memandangi wajah Marlyn lagi, entah untuk ke yang berapa kalinya ia merasakan nyeri setiap kali melihat wajah gadis itu yang sudah disarangi oleh bekas cakaran dan benjolan memar di dahinya.

Blue Angel [Aomine Daiki]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang