When You're not Around

434 38 10
                                        

HAHA, marahin gue, marahin aja gueee.. udah lama banget aku ga update T^T
Sorry then, aku males ngetik belakangan iniii.. jadi ajaa.. maaf yaa *bow*
K! Biar ga lama-lama, langsung aja
As a clue, ceritanya dimulai dari Kise POV. Pas Daiki lagi ke gym dan dia ditinggalin.
Check it out!!
###

Aku duduk termenung di kursiku, menopang daguku sambil melihat sekeliling. Kulihat dua orang gadis datang menghampiriku. Sepertinya aku tahu apa yang ingin mereka lakukan.

"Kise! Mau ke cafeteria bersama kami?" Nah-kan. Aku menegakkan dudukku lalu berfikir sejenak, mempertimbangkan untuk menerima ajakan mereka.

"Um.." mataku melirik ke samping. Pandanganku menangkap gadis itu. Gadis yang duduk dua bangku di sebelah kiriku.

"Ah, sepertinya lain kali saja. Hari ini aku sedang tidak berselera, maaf ya." Aku tidak jadi menerimanya. Ada hal penting lain yang harus kulakukan.

"Um, baiklah kalau begitu." Kedua gadis itu pergi dengan wajah kecewa. Well, memang tidak enak melihat wajah gadis yang kecewa. Tapi ya sudahlah.

Aku berpindah ke bangku Aominecchi, duduk mengahadap ke arah gadis itu. Kakiku menyilang dan kepalaku ditopang oleh tanganku yang berdiri di atas meja. Aku memandanginya. Dia tidak sadar karena matanya melihat ke arah luar jendela. Entah melihat apa.

Aku memperhatikannya lekat-lekat. Harus kuakui, tidak ada yang spesial darinya. Hanya gadis yang agak gemuk dengan baju yang biasa saja dan wajah yang biasa saja. Tidak se-bersinar gadis-gadis tadi.

Aku memandangi wajahnya. Dia tampak kosong dan matanya bengkak. Aku bertaruh dia pasti menangis semalam.

Mungkin sudah 5 menit aku memandanginya saat dia mengalihkan pandangannya ke arahku dan terkejut.

"Ki-kise.." gadis itu tergagap. Lucunyaa~

"Ya?" Dia tahu namaku. Kukira dia tidak memperhatikanku di depan tadi.

"Apa yang kau lakukan?" Gadis itu memandangiku dengan matanya yang redup itu.

Aku berfikir sejenak, mencari jawaban yang cocok. "Memandangimu." Jawabku. Aku melihat matanya membesar sebelum pipinya bersemu merah. Dia tampak seperti memakai blush on sekarang.

Melihat reaksinya, aku menyadari sesuatu. Dia mudah tersipu.

"Marlyn.."

"Ya?" Dia memandang ke arahku lagi, setelah tadi dia sempat mengalihkan pandangannya.

"Kau kenal Daiki kan?" Tentu saja dia kenal.

"Ya." Jawabnya singkat. Ada sebuah ke-engganan dalam dirinya untuk mengatakan itu.

"Kau dekat dengannya?"

"..." tidak ada jawaban. Setidaknya dia tidak menjawab 'tidak'.

Hening sejenak. Kubiarkan dia memandangi lantai sementara aku memandangi wajahnya yang suram itu.

"Senang berbicara denganmu, Marlyn." Aku berdiri, beranjak dari tempat dudukku. Dia memandang ke arahku. "Ya, senang berbicara denganmu juga." Dia tersenyum. Bukan senyum yang kuharapkan memang. Dia terlihat tertekan, sangat tertekan. Dan itu membuatku yang melihatnya ikut tertekan juga.

Blue Angel [Aomine Daiki]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang