"Da..hi..ki.. i..ni.. suh.. dah.. lewaht.. darih.. bah.. tasku.."
"Ini baru 5 keliling. Kau butuh 5 keliling lagi."
"KAU! Kau kira aku bisa kurus dalam satu hari apa?! Bukankah seharusnya hanya 3 keliling 1 minggu?!"
Daiki menurunkan sebelah headset lagi yang masih menggantung di telinganya. Memandangi gadis yang sudah bermandikan keringat di hadapannya.
"Kau fikir sudah berapa minggu kau tidak berolahraga? 1 minggu 3 keliling. 2 minggu kau tidak berolahraga. 3 dikali dua sama dengan 6. Ditambah hari ini, jadi 9."
"Tapi kau bilang 5 keliling lagi!"
"Satu lagi karena kau tidak berhenti mengeluh. Itu berisik dan mengganggu."
"HAH! Kau ingin membunuhku!"
"Tentu." Marlyn sudah siap dengan tangannya yang mengepal. Bersiap untuk mendaratkan sebuah pukulan di kepala Daiki.
"Aominecchi.. kau tidak mungkin membunuh Marlyncchi, dia kan-" majalah yang dipegang Daiki mendarat tepat di wajah Kise yang sedang berbaring di rumput sambil memainkan handphonenya.
"A-aw! Itu sakit Aominecchi!" Kise mengelus-ngelus rambutnya sambil memajukan bibirnya seperti anak kecil.
"Hentikan tingkahmu itu. Aku akan benar-benar menghajarmu kalau kau melakukannya lagi."
"Marlyncchi, Aominecchi akan membunuhku!" Kise berlari ke belakang Marlyn, bersembunyi dibalik punggungnya. "Dia memang tidak punya hati." Daiki tidak menghiraukannya. Dia kembali memasang kedua headsetnya dan berkutat dengan majalahnya.
Marlyn kembali berlari. Menyelesaikan 5 kelilingnya.
"Kau tahu, Marlyncchi, sebenarnya Aominecchi memiliki sisi lembut di dalam dirinya." Kise berlari pelan disamping Marlyn. Mendengarnya membuat Marlyn mendengus lalu tertawa kecil. "Ya, dibalik sikap iblisnya itu dia memiliki jiwa malaikat di dalamnya. Begitu maksudmu?" Kise ikut tertawa kecil. Bukan hanya jiwa, kami memang malaikat.
"Kau bisa melihatnya sendiri, kan?" sekarang mereka sudah tidak lagi berlari, hanya berjalan santai. Marlyn mengingat-ingat segalanya. Kise benar. Daiki sangat baik. Dia sudah menyelamatkannya berkali-kali. "Ya, kau benar."
Hening sesaat. Kise tiba-tiba berhenti berjalan. Marlyn menoleh ke arah Kise yang tertinggal. Ekspresi Kise berubah menjadi sangat cerah dan sumringah. Sungguh serasi dengan rambut yellownettenya yang terang. Ceria. "Kenapa tidak terfikir olehku? Marlyncchi! Hari ini kan libur, dan aku belum terlalu mengenal tempat-tempat di kota ini. Maukah kau mengantarku berkeliling?"
Marlyn berfikir sejenak. "Ide bagus." Marlyn tersenyum, mencoba membalas Kise. "Oke! Kalau begitu, ayo pergi!" dengan sekejap tangan Kise sudah melingkari bahu Marlyn. Marlyn terkesiap. Sejak hari yang mengerikan itu, Kise memang senang menarik tangannya atau merangkul bahunya. Sebagai teman dekat tentu. Tapi sampai sekarang dia masih belum terbiasa dengan itu.
"Heh! Apa kau lupa! Si sadis itu tidak akan mengizinkanku pergi sebelum aku menyelesaikan lariku." Marlyn menoleh ke arah Kise yang jauh lebih tinggi darinya. "Ah, Aominecchi ya.. Baiklah, ayo cepat kita selesaikan!" Kise menarik tangannya yang tadi sedang merangkul. Sekarang dia menarik tangan Marlyn untuk cepat-cepat berlari.
Dalam sekejap mereka sudah menyelesaikan 5 keliling dan segera menghampiri Daiki yang kini tertidur di bangkunya.
"Aominecchi! Kami sudah selesai." Daiki menurunkan majalahnya. Dia belum sepenuhnya terjaga.
"Maksudmu dia sudah menyelesaikannya." Daiki memandangi Marlyn yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Benar-benar lelah. "Baiklah, ayo pulang." Daiki menarik tangan Marlyn. Daiki tidak tega menyuruhnya berlari ke rumahnya, walaupun jaraknya tidak begitu jauh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Angel [Aomine Daiki]
FanficSebutlah aku si gadis cupu, culun dan tidak tahu malu. Semua orang muak melihatku. Menjauhiku. Tapi ada satu orang, seseorang yang entah sejak kapan masuk ke dalam hidupku dan kehadirannya sangat berarti bagiku. Apa kalian percaya pada malaikat? Aku...